Life · review

[Review] Cari Tempat Buat Menulis di Bandung? 4 Kafe Ini Bisa Jadi Jodohmu

bandungcafe

Setelah menulis The Playlist, saya sering mendapatkan pertanyaan seputar tempat makan oke di Bandung. Saya agak kebingungan menjawabnya, karena jumlah kafe, kedai, dan restoran di Kota Kembang selama 2-3 tahun semakin banyak. Sepertinya setiap beberapa hari atau minggu sekali pasti ada tempat makan yang tutup, muncul, atau pindah lokasi. Kalau sudah begini, saya biasanya mampir ke kafe atau restoran langganan saja. Haha.

Omong-omong, tempat makan langganan saya bukan sekadar kafe atau restoran buat numpang makan, mengobrol, atau foto-foto. Tempat-tempat itu harus memenuhi satu syarat mutlak ini: nyaman buat dipakai sebagai lokasi menulis. Jadi kalau lagi bosan kerja di rumah, saya pasti meluncur ke sana.

Saya sudah pernah menulis daftar kafe/restoran di Bandung yang oke buat dijadikan tempat menulis, tapi kayaknya harus diperbarui lagi. Setelah melakukan seleksi (enggak, deh, lebih tepatnya mengingat-ingat saking banyaknya tempat yang saya kunjungi), berikut ini saya persembahkan daftar 4 kafe di Kota Kembang yang bakal bikin kalian betah kongko dan menulis berjam-jam.

  1. Kineruku

Teman-teman yang kenal saya dan baca artikel ini pasti langsung menggumam, “Sudah kuduga.”

Kineruku bagi saya adalah sepetak surga yang jatuh ke Bumi (halah). Tempat ini merupakan perpustakaan kecil bernuansa vintage yang menyediakan berbagai kebutuhan baik bagi pecinta buku, musik, dan film. Ada buku-buku klasik (dan yang enggak akan kalian temukan di toko buku besar); kaset, vinyl, dan CD; koleksi film; sampai merchandise dari musisi-musisi indie. Buat yang pengin baca atau menulis, ada meja dan kursi di ruang tengah dan teras belakang. Terminal buat charging? Aman, ada banyak. Makanan? Enak dan murah. Tapi Kineruku enggak menyediakan wi-fi, lho. Jadi buat fakir kuota, brace yourself.

Untuk mencapai Kineruku memang butuh perjuangan. Cuma ada satu angkot yang masuk ke Jalan Hegarmanah dan itu pun jarang banget. Kalau kuat, kalian bisa jalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer. Lumayanlah, hitung-hitung olahraga (heh).

Kineruku

Jalan Hegarmanah 52, Bandung

Buka: Senin, Rabu-Sabtu (11.00-20.00 WIB), Minggu (11.00-18.00 WIB)

Tutup setiap hari Selasa

 

2. Little Wings Café & Library

Little Wings Cafe & Library, Bandung. Photo repost from @puspariani

A post shared by Little Wings Cafe & Library (@littlewingsbdg) on

Kesan pertama saya saat datang ke Little Wings: Wah, berasa masuk ke dunia dongeng.

Little Wings adalah rumah tiga lantai yang berdiri di atas tanah yang agak miring. Di lantai satu, kalian bakal ketemu sofa-sofa cantik dan barang-barang vintage kayak typewriter. Lantai dua lebih mirip kafe biasa dengan dominasi kayu yang bikin suasana hangat dan nyaman. Nah sementara lantai tiga di-set kayak kamar, karena kalian akan menemukan kasur di sana! Enggak heran kalau Little Wings sering dipakai buat tempat pemotretan karena konsepnya yang unik. Tapi, kalian yang ke sini buat menulis pun enggak akan terganggu, kok.

Seperti halnya Kineruku, mencapai Little Wings bukan perkara mudah. Kalian akan bertemu jalan meliuk-liuk dan juga tanjakan. Untungnya, sih, ada satu angkot yang sering lewat di sekitar Cigadung meski hanya sampai pukul 4-5 sore.

Little Wings Book Cafe 1st Floor. Photo repost from @mlsgstn

A post shared by Little Wings Cafe & Library (@littlewingsbdg) on

Little Wings Café & Library

Jl.Cigadung Raya Barat no. 2, Bandung

Buka: Selasa-Jumat (12.00-21.00 WIB), Sabtu dan Minggu (12.00-23.00 WIB)

Tutup setiap hari Senin

 

3. Pillow Talk Cafe & Comfy

Inside the white house you will find happiness . . . Like our Facebook Page at Pillowtalkcoffeeandcomfy . . #Pillowtalkcafe #coffeeshop

A post shared by Pillow Talk Coffee & Comfy (@pillowtalkcafe) on

Mencari ketenangan di pusat kota Bandung kini tidaklah mustahil berkat kehadiran Pillow Talk Cafe & Comfy.

Berlokasi di kawasan hits anak muda di Kota Kembang, Pillow Talk jadi salah satu tempat menulis baru favorit saya di pusat kota. Untuk menemukan tempatnya, kalian bisa menjadikan Taman Panatayuda sebagai patokan. Dari muka, Pillow Talk mungkin kelihatan kayak kafe kebanyakan. Akan tetapi, begitu masuk ke dalam, kalian bakal terkesima sama desain interiornya. Minimalis, dengan dominasi warna hitam-putih dan ada sentuhan klasik dari aksen kayunya. Selain sofa-sofanya yang bikin betah, ada dua ceruk lesehan di samping jendela yang bagus banget buat dipakai sebagai latar foto.

In other words, Pillow Talk is Instagram-able. Menunya? Sama-sama kece, kok. Sebagian besar hidangan yang mereka sajikan adalah camilan, tapi ada juga makanan berat buat kalian yang pengin langsung kenyang.

Pillow Talk Cafe & Comfy

Jalan Haji Hasan Nomor 12 (Taman Panatayuda), Dipatiukur, Bandung

Buka: Minggu-Kamis (09.00-22.00 WIB), Jumat-Sabtu (09-00-23.00 WIB)

 

4. Nimna Book & Café

Mahasiswa ITB yang lagi asik ngumpul 👅☕🍪🍝🍮

A post shared by Nimna Book Café (@nimnabookcafe) on

Potongan surga yang baru saja turun di sekitar Gegerkalong.

Dibuka awal tahun 2016, Nimna Book & Café adalah lokasi menulis baru favorit saya kalau lagi malas ke pusat kota (apalagi kalau lagi macet-macetnya). Di sana ada kursi-kursi tinggi yang menghadap jendela, pojokan tersembunyi, dan tempat lesehan dengan latar rak berisi buku-buku kece (koleksinya masih sedikit, tapi recommendable semua). Menurut teman saya yang rajin datang ke Nimna Book & Café, kalian bisa, lho kongko tanpa pesen makanan. Cuma harus bayar Rp15.000 dengan bonus free flow infused water biar tetap sehat.

Dibandingkan tiga tempat lainnya, lokasi Nimna Book & Café lebih strategis. Patokannya ada di pertigaan Hotel Gegerkalong Asri. Masuk ke Jalan Sukahaji dan carilah gedung dengan logo Nimna Book & Café di depannya.

Nimna Book & Café

Jalan Sukahaji 126, Bandung

Buka: Rabu-Kamis (09.00-21.00 WIB), Sabtu dan Minggu (11.00-23.00 WIB)

Tutup setiap hari Senin dan Selasa

*

Untuk urusan perut, keempat tempat ini menyediakan menu dengan harga terjangkau, sekitar Rp10.000 sampai Rp50.000 (ada beberapa yang di atas Rp50.000, tapi biasanya makanan berat porsi besar). Plus, musik latar di keempat kafe ini oke-oke  (in case you’re wondering). Kecuali Kineruku, tiga kafe lainnya menyediakan wi-fi gratis.

Terakhir dan yang paling penting: kalian enggak bakal diusir meski mau nongkrong sampai tempatnya tutup.

Ya, itulah 4 kafe di Bandung rekomendasi dari saya buat kalian yang pengin nongkrong atau menulis. Kalau kalian punya masukan, mari bagi-bagi lokasinya. Siapa tahu belum saya kunjungi dan ternyata cocok buat dijadikan tempat menulis.

Regards,

erl.

Life · music · review

[Review] Satu Jam Lebih Dekat Bersama Yuna

yuna

Tadinya, tadinya, saya mau rehat dari dunia perkonseran di tahun 2016. Ingat umur (enggak juga sih). Lagi pula, musisi-musisi favorit saya kalau tidak hiatus, ya bubar. Jadi kecil kemungkinan mereka mampir ke Indonesia buat menggelar konser.

Namun, semuanya langsung patah begitu Copeland main di Kampoeng Jazz di akhir bulan April.

Lalu keyakinan saya semakin digerus saat Kahitna jadi bintang tamu di pensi SMA Bandung bulan September.

Seolah belum cukup, muncul Yuna yang menghelat konser perdananya di Bandung tanggal 3 Desember 2016.

Aaah, persetan. Sepertinya saya masih butuh suntikan euforia konser meski antusiasmenya tidak sebesar saat kuliah dulu.

*

Tadinya, tadinya, saya tidak akan menonton Yuna. Selain karena mengurus kelahiran buku ketiga saya—Lara Miya—saya juga enggak sanggup beli tiketnya. Rp500.000 buat seorang freelancer itu besar dan saya punya prioritas di atas tiket konser. Saya lantas melepas Yuna (sama Mae juga sebenarnya).

Kemudian, dua hari sebelum konser Yuna digelar, Tari menawarkan barter.

Enggak perlu saya jelaskan isi kesepakatannya seperti apa, yes. Intinya, sih, saya mendapatkan tiket konser Yuna dan Tari memperoleh bayaran yang—katakanlah—setimpal. Heheh.

Berbeda dengan konser Copeland, untuk menonton Yuna, saya tidak menyiapkan sesuatu yang spesial. Saya juga enggak stalking penyanyi asal Malaysia itu karena siangnya sibuk mengurus book talk Vinca Callista di DU 71A. Rencana saya begitu selesai dengan book talk: kongko sebentar di Dago > pergi ke Dago Tea House sama Tari > nonton Yuna > pulang.

Nyatanya, realita tidak berbicara sesederhana itu.

*

Saya dan Tari sampai di Dago Tea House menjelang maghrib (by the way, konsernya di venue luar). Satu yang saya syukuri, cuaca Bandung saat itu relatif bersahabat; hanya berawan di siang menjelang sore hari. Gate dibuka beberapa menit setelah azan maghrib dan antreannya tidak segila konser-konser yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

Sebenarnya, saya lebih suka venue dalam, karena lebih intimate dan tentunya bisa melindungi penonton kalau hujan turun di tengah konser. Sementara venue luar jelas mengekspos kami pada angin malam di kawasan Dago yang kurang santai. Jarak dari amfiteater ke panggung juga jauh, jadi mustahil bisa ambil foto-foto bagus.

20161203_182052
Jauh, kuuuy~

Sambil menunggu kedatangan Yuna, saya dan Tari sempat mengobrol dengan dua penonton lain yang duduk di depan kami. Duh, sayang saya lupa nama mereka, tapi kami sempat berkenalan dan cerita banyak hal. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendapatkan pengalaman ini saat hendak menonton konser: punya teman-teman baru.

Obrolan kami terputus kala Indah Nada Puspita, opening act kesatu, muncul. Nada membawakan beberapa lagu dengan baik, termasuk Rather Be dari Clean Bandit. Opening act kedua adalah girlband berisi tiga teteh-teteh hijabers dari Noura. Dari segi musikalitas, opening act untuk konser Yuna lumayan bagus. Setidaknya mampu bikin kami terhibur daripada karatan menunggu Yuna yang baru naik panggung pukul setengah sembilan malam (harusnya pukul delapan. Well, Indonesia).

Sebelum Yuna, anggota band pengiringnya naik satu per satu; langsung mengundang teriakan dari arah penonton. Kemudian saat sang bintang utama muncul di tengah sorot lampu panggung, kami bersorak semakin keras.

Yuna sepertinya tidak suka dengan jarak yang terbentang di antara dirinya dengan penonton. Lantas, dia mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya. Dalam hitungan detik, semua orang berlari ke bibir panggung. Serta-merta, saya dan Tari sudah ada di baris kedua. Menakjubkan bagaimana saya, bukan hanya tiba-tiba bisa lari cepat, tapi juga mampu menaiki undakan tanpa terjatuh.

Luar biasa.

*

Places to Go dipilih menjadi pembuka konser. Sejujurnya, saya baru mengulik lagu-lagu Yuna tahun ini karena akunnya sering di-mention Aaron Marsh, vokalis Copeland. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada musiknya yang fresh. Simpel, tapi selalu sukses bikin hati bergetar *aih.

Perfomance Yuna di atas panggung pun tak kalah memesona. Dalam balutan busana berwarna hitam dan putih keperakan, Yuna terus bergerak dari satu sisi ke sisi stage; melantunkan beberapa tembang andalan dari album terbarunya, Chapters. Lantas sebelum membawakan Time, Yuna membagi kisahnya saat mengikuti beberapa kontes bakat di Malaysia.

20161203_204859
Look at that funny face

“Saya pernah bertanya kepada Ibu, Kenapa saya tidak pernah lolos saat mengikuti ajang pencarian bakat?, lalu Ibu membalas, Semua akan datang tepat pada waktunya, Sayang,” ujarnya. Sesuai dengan lirik yang Yuna senandungkan dalam Time:

It takes time
It takes a little time, baby
It will be fine,
It takes time, baby

Memang terbukti, kan? Sekarang, Yuna jadi salah satu penyanyi R&B dari Asia yang sukses melebarkan sayap sampai ke Amerika Serikat.

Selepas Mountains, Yuna menyanyikan nomor favorit saya dari Chapters, Crush. Dalam versi albumnya, lagu ini dibawakan bersama Usher. Namun, meski malam itu Crush hanya dibawakan oleh Yuna, sensasi merinding yang saya rasakan saat kali pertama mendengar lagu ini masih ada. You know it has to be a great song when it gives you chill.

20161203_205001

Atmosfer konser yang tadinya menyenangkan seketika menjadi pilu saat Yuna membawakan lagu-lagu sendu. All I Do, misalnya, yang hampir bikin saya menangis di tengah kerumunan. Hanya bersama sang gitaris, Yuna melantunkan setiap kata dari lagu ini dengan emosi yang bikin saya luluh lantak. Belum lagi Used to Love You yang tak kalah menyayat hati.

Yuna tentunya enggan menutup konser dengan kesedihan. Mendekati akhir acara, penyanyi berusia 30 tahun ini mempersembahkan lagu-lagu ceria seperti Terukir di Bintang (“Boleh tidak saya bawakan lagu berbahasa Melayu?” tanyanya sebelum memulai lagu tersebut). Kemudian, Live Your Life—yang dipilih menjadi lagu pamungkas—mengajak para penonton untuk ikut berjoget sebelum Yuna mengucapkan terima kasih dan turun dari panggung.

20161203_205322

“Tapi, tenang. Kita bertemu lagi di luar, ya,” katanya. “Nanti kita bisa swafoto bareng. Saya juga akan kasih tanda tangan di poster dan album.”

20161203_210758
Yuna during “All I Do”

Ya, tapi apalah artinya nonton konser tanpa mengeluarkan koor andalan: we want more, we want more, we want more. Entah berapa lama kami meneriakan tiga kata sakti itu. Sampai sang drummer muncul untuk membereskan alat-alatnya dan memberi isyarat pada kami: enggak, enggak akan ada lagu lagi.

Kami masih menunggu. Namun, rupanya dia benar.

Yuna tidak naik lagi ke atas panggung.

*

Konser Yuna memang berlangsung singkat—13 lagu selama kurang lebih satu jam lebih sekian menit. Walau begitu, saya suka cara Yuna saat berinteraksi dengan penonton. Dia sangat lepas di atas panggung; aktif bergerak (saking aktifnya sampai susah ambil foto bagus, hahaha), mengajak kami menyanyi bersama, dan terus menebar senyum.

Saya sampai bilang, ‘She is so cute, sweet, and humble it huuurts’ berkali-kali kepada teman-teman yang tidak sempat menonton konser ini. Yuna pun menepati janji untuk berswafoto ria dan membubuhkan tanda tangannya pada signing session yang diadakan di luar venue (terus, riasan wajahnya masih bagus aja).

Secara keseluruhan, konser Yuna di Bandung tanggal 3 Bandung 2016 kemarin sangat, sangat mengesankan. Mungkin jadi salah satu yang paling intimate yang pernah saya rasakan. Panggung boleh minimal, tapi penampilan Yuna sangat maksimal. Lighting and sound system are on point too. Nyaris tidak ada hambatan selama acara berlangsung. As a promoter, you made it, Kiosplay!

20161203_212057_2

*

Dear, Yuna, terima kasih sudah menyajikan konser akhir tahun yang indah dan hangat. It is not a crush anymore, because we have already fallen in love with your music and perfomance. Like, so hard.

So, please, visit us again next time!

Regards,

 

erl.

ps:

Terima kasih untuk Tari dan kesempatan-kesempatan mahalnya tahun ini (hahaha); akang dari Sumedang dan teteh mahasiswi Sastra Inggris UNPAD yang menemani saya serta Tari ngobrol sebelum acara dimulai; Abi untuk tebengannya sepulang konser (have a nice time in Europe! Tolong beresin naskahnya juga, ya. Thanks).

Life · music

[Review] Copeland Back to Bandung: the Unexpected Return

CopelandBack

So, it took a week for me to write this review.

Setelah hampir satu dekade mengagumi dan enam tahun menanti (yang saya pikir bakal sia-sia), akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat aksi panggung Copeland di acara The 8th International Kampoeng Jazz, 30 April 2016. In case you don’t know, Copeland is one of The Muse—julukan yang saya berikan untuk mereka yang memberi pengaruh dan inspirasi besar pada tulisan-tulisan saya.

Begitu tahu Copeland bakal ke Bandung untuk kali kedua, tanpa pikir panjang saya langsung mengosongkan tanggal di atas. Sebenarnya saat itu saya berpikir kalau bisa menonton saja sudah bikin saya bersyukur habis-habisan.

Tapi siapa sangka kalau 30 April kemarin bakal jadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup?

*

Copeland adalah band luar negeri keempat yang konsernya (I don’t think it was a concert, but whatever) saya datangi setelah Mae (2009), We Are the in Crowd (2012), dan Motion City Soundtrack (2013). Iya, saya kalau mau nonton konser pilih-pilih banget. Kalau bukan favorit dan enggak hafal lagu-lagunya, mana mau saya datang. Dalam kasus Copeland, mereka ini spesial buat saya. Kedatangan mereka ke Bandung kali ini semacam penebus rasa bersalah karena saya  enggak datang ke farewell show mereka tahun 2010 lalu.

Di rundown, Copeland main sekitar pukul sepuluh malam setelah Andien. Memelesat jauh dari ekspektasi saya dan beberapa teman yang mengira Copeland bakal main pukul delapan atau sembilan malam. Tapi, masa bodo, kami toh tetap datang. Bahkan saya dan salah seorang teman, Tari, sudah stay di baris pertahanan terdepan sejak pukul setengah lima sore. Hujan-hujanan. Kena angin. Dempet-dempetan. Lapar. Ngantuk.

Sumpah deh kalau bukan buat Copeland, saya pasti lagi di rumah sambil tidur-tiduran.

Rundown yang awalnya berjalan mulus pun ngaret setelah Koes Plus turun panggung. Saya mulai panik, tapi tetap berusaha santai. Oke, dua artis lagi. Tahan, tahan. Syukurnya, dua artis sebelum Copeland—Maliq & D’Essentials dan Andien—mainnya bagus banget. Jadi saya cukup terhibur meski bukan penggemar mereka. Plus, tatanan pencahayaan dan sound-nya lumayan apik. Jadi saya sudah bisa membayangkan bakal sebagus apa kalau Copeland yang main nanti.

Pretty sure the crowd won’t forget how shameless the MC that night. In a good way.

Lalu, setelah penantian yang terasa selamanya, satu per satu personil Copeland naik ke atas panggung. Saya sempat kaget sekaligus takjub karena mereka melakukan seting alat dan tetek bengek lainnya sendirian (sesekali dibantu panitia, tapi enggak terlalu sering). Aaron Marsh, sang vokalis utama, bahkan membawa piano keramat yang jadi partner bermainnya di atas panggung dalam beberapa show Copeland.

Saya berdiri tepat beberapa meter di depannya.

Dan, sekuat apapun saya berusaha menahan lonjakan euforia dan antusiasme saat melihat Copeland di atas panggung, teriakan histeris itu akhirnya keluar juga saat Have I Always Loved You? dibawakan sebagai pembuka.

*

20160430_231505

Sayang, sayangnya, suara Marsh tidak terdengar maksimal karena sound yang agak bermasalah. Meski begitu, dia terus bernyanyi sambil memainkan piano keramatnya. Lighting belum bermain terlalu banyak juga karena tempo lagu yang cukup slow. Sebagian orang yang tahu atau mendengar album terbaru mereka, Ixora, juga ikut menyenandungkan lagu tersebut.

Tanpa basa-basi Disjointed dimainkan begitu lagu kesatu tuntas.

Di lagu ini, selain Marsh, Bryan Laurenson (gitar), Stephen Laurenson (gitar, synth), Bobby Walkerug (bas), dan Jordan Butcher (drum) mulai terlihat atraktif dengan instrumen masing-masing. Lighting juga sama mengentaknya dengan lagu yang mereka bawakan. Bahkan Marsh dengan fasih mengucapkan, “Terima kasih!” begitu menuntaskan Disjointed.

Masih dari Ixora, I Can Make You Feel Young Again dan Erase dibawakan setelah Disjointed. Kerumunan di sekitar saya masih nyanyi sekilas-sekilas, tapi kami mulai terbawa suasana dan rasanya sulit mengalihkan perhatian dari permainan mengesankan Marsh dengan pianonya. Dua lagu ini adalah favorit saya dari Ixora, jadi saya pasti bakal menyesal kalau tidak mengamati dengan saksama.

Kemudian di lagu berikutnya, bukan hanya kualitas sound yang mulai membaik, tapi atmosfer suasana juga berubah drastis begitu Marsh menyanyikan Should You Return dari album You Are My Sunshine.

Jangan tanya keadaan saya gimana saat itu. Saya jadi sama malu-maluinnya kayak dua MC yang lempar guyonan-guyonan receh sebelum Copeland main.

You Are My Sunshine adalah album keempat Copeland yang juga (sempat) jadi album perpisahan mereka sebelum menyatakan bubar tahun 2009. Menurut saya, Sunshine adalah salah satu album terbaik yang pernah Copeland rilis. Sepertinya sebagian besar penggemar Copeland pun setuju, karena kerumunan makin memanas saat Marsh melanjutkan pertunjukan dengan lagu Chin Up.

*

20160430_231804

Malam itu Copeland sepertinya ingin membolak-balik emosi kami, karena selepas Chin Up, mereka membawakan nomor-nomor lama dari Beneath Medicine Tree. Stephen dan Bobby mengacungkan ponsel mereka dengan flash menyala. Otomatis kami melakukan hal yang sama dan kembali histeris begitu tahu kalau lagu yang akan dibawakan selanjutnya adalah Brightest.

Dan kali ini, Marsh membawakan lagu tersebut sendiri. Dari layar yang berada di samping kanan panggung, saya bisa melihat kerumunan seketika tampak seperti lautan kunang-kunang. Sesuai dengan lirik yang dilantunkan Marsh, “And she says that I am the brightest little firefly in her jar.”

Coffeeone of my alltime favorite songs from Copeland—membuat suasana menjadi santai dan, seperti judulnya, bikin saya pengin nyeduh kopi di tengah kerumunan. The crowd didn’t miss any lines, too. Di sisi lain, saya mulai cemas kalau Copeland akan mengakhiri permainannya dalam satu atau dua lagu ke depan, karena jatah rata-rata artis lain tidak lebih dari dua belas lagu.

20160430_233431

Tapi, kecemasan saya dipatahkan, sebab masih ada banyak lagu yang mereka bawakan. Selepas Coffee, Marsh kembali membawa kami ke album Sunshine dengan The Day I Lost My Voice dan On the Safest Ledge.

ON THE SAFEST LEDGE, YA TUHAN.

Sialnya, seperti salah satu judul lagu mereka, saat itu suara saya sudah hampir hilang. Tapi ini Safest Ledge dan saya memaksakan diri untuk ikut sing-a-long. Safest Ledge adalah lagu yang terus saya putar beberapa hari sebelum acara tersebut dan mustahil rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan lagu seindah ini.

*

Marsh, kembali dengan permainan solo, lagi-lagi membuat kami baper maksimal dengan Hold Nothing Back dari album In Motion dan Priceless. Mungkin karena kepepet sama waktu, Marsh membawakannya beberapa lagu dalam format medley. Still good—no, that was great. Kami juga enggak mungkin enggak nyanyi di lagu Priceless (ini salah satu lagu Copeland yang pernah saya kembangkan jadi satu novel penuh).

20160430_235555

Seolah belum lelah, Copeland kembali menguji kami dengan dua lagu yang cukup upbeat, Take Care dan No One Really Wins. Saya? Saya sudah mulai kelelahan dan memilih untuk menikmati permainan Copeland di atas panggung sambil mendengarkan nyanyian kerumunan di belakang. Hey, it doesn’t mean I’m bored. Seandainya stamina tubuh pukul setengah lima sore bisa diambil, saya pasti akan memakainya untuk gila-gilaan di paruh terakhir pertunjukan Copeland.

20160501_000359

Selepas When Paula Sparks, Marsh akhirnya mengumumkan kalau dia akan membawakan lagu terakhir. And I was like, nonononononono. Namun, begitu intro dimainkan, saya tiba-tiba cenghar dan nyaris memeluk Tari begitu tahu lagu yang dipilih sebagai penutup adalah You Have My Attention.

Everyone went fully emotional at that moment.

Saya pribadi punya kenangan dengan lagu manis ini, jadi saya tidak mau kehilangan momen satu detik pun saat Copeland memainkannya. Marsh dan kawan-kawan yang awalnya terlihat santai, berubah jadi cukup agresif di atas panggung begitu memasuki paruh terakhir lagu. Bahkan mereka sempat loncat-loncat dan membuat teriakan kerumunan makin keras. Lantas, tepat saat lagu berakhir, kembang api muncul dari sisi panggung.

Kemudian, Marsh melepas gitarnya, mendekati standing mic, dan sekali lagi mengucapkan, “Terima kasih!” dengan dua tangan tersilang di dada.

20160501_001614

*

Wasn’t it enough?

Nope.

Copeland mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam lebih beberapa menit dengan total 16 lagu. Kami tahu jatah Copeland sudah habis, tetapi sebagian orang tetap meneriakan we want more! Saya sempat berharap mereka naik lagi dan membawakan satu-dua lagu (mereka tidak membawakan California! Demi apa! Dan enggak ada lagu dari Eat, Sleep, Repeat).

But the show really ended. Sambil berjalan keluar dari venue, saya sempat melihat kerumunan heboh begitu beberapa personil seperti Bryan dan Jordan melemparkan pick gitar dan stick drum. Saya mau saja rebutan kalau badan saya enggak jerit-jerit minta pulang.

Kendati ada beberapa kekurangan, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada Kampoeng Jazz karena sudah mendatangkan Copeland sebagai salah satu bintang tamu (spesial). Beberapa orang mungkin merasa janggal karena Copeland bukan band aliran jazz. Tapi saya sih enggak terlalu peduli, karena akhirnya penebusan rasa bersalah saya tuntas sudah malam itu.

Setelah bertahun-tahun tidak merasakan euforia konser, malam itu saya seperti dilempar kembali ke hari di mana saya nonton konser kali pertama tujuh tahun lalu. Pertunjukan kedua Copeland di Bandung bukan hanya membayar rasa bersalah, tetapi juga membawa kembali hal-hal mengesankan yang saya rasakan sejak masih jadi remaja tanggung sampai sekarang. Jadi, rasanya wajar kalau sampai sekarang, termasuk saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari malam mengesankan tersebut.

And it should’ve been us who said ‘thank you’ that much, dear Copeland. You always make us feel young again.

Sampai jumpa lagi!

 

erl.

CdLlAICUMAEygUK

ps: Baru sadar kalau saya menulis draf tulisan ini tanggal 8 Mei, which is tanggal yang sama waktu Copeland konser kali pertama di Bandung enam tahun lalu.

pss: Kalian bisa lihat keseruan Copeland (dan kisah fangirl/fanboy-nya) dengan mengetik tagar #CopelandBackToBandung di Twitter atau Instagram.

Life

[Review] How to Grow Them Great by Bebelac

Saya memang belum menikah, apalagi punya anak. Namun, status tidak harus jadi alasan untuk berhenti menggali ilmu, bukan? Meski masih lajang, sebagian teman wanita saya sudah menikah dan punya satu-dua anak. Tak jarang saya memperhatikan cara mereka merawat sang buah hati atau berbagi cerita (juga keluhan) di chat room.

Dari sana saya berpikir, bagaimana, ya, kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? Apa saya bisa mengurus dan membangun karakter yang baik untuk mereka?

Nah, lantas pada hari Sabtu, 26 Maret 2016, saya kembali mendapatkan sepotong ilmu berharga seputar parenting. Bertempat di Main Atrium, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Bebelac memperkenalkan sebuah kampanye yang laik disimak oleh para orangtua. Kampanye tersebut bernama #bebehero, di mana para orangtua—khususnya ibu—diajak untuk membangun kecerdasan emosional (EQ). Selain itu, para ibu juga dikenalkan pada cara pengembangan empati terhadap anak.

Untuk menunjang pertumbuhan yang optimal pada anak, dibutuhkan asupan nutrisi yang tepat seperti asam linoleat dan mineral. Kemudian, agar lebih seimbang, anak juga memerlukan vitamin dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur, lauk-pauk, serta susu. Dalam hal ini, Bebelac dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan vitamin A, zinc, zat besi, iodium, dan kalsium.

Demi mewujudkan karakter yang baik dan menumbuhkan empati, diperlukan peran sang ibu sebagai pengajar pertama bagi putra-putrinya. Anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Semakin baik dan terkontrol seorang ibu dalam memberi contoh, semakin bagus juga perilaku sang anak.

20160326_110022

Menurut Andi Airin, selaku Senior Brand Manajer Bebelac, pemberian nutrisi yang optimal dapat diberikan oleh ibu sejak masih mengandung hingga anak berusia dua tahun. Jika pertumbuhannya baik, maka anak pun akan lebih cepat tanggap dalam mempelajari hal-hal di sekitarnya. Selain itu, mereka juga akan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus rasa empati yang baik. Andi pun menuturkan pengalaman tentang anaknya yang hafal dengan jam pulang kerja dan selalu menyambutnya setiap kali tiba di rumah.

Sedangkan psikolog Roslina Verauli memaparkan tentang cara mengembangkan empati anak sejak dari rumah. Sebab empati merupakan gerbang dari aksi kepedulian terhadap orang lain. Empati juga menjadi pendukung terbentuknya karakter kepahlawanan yang tentunya tidak harus tercermin dalam aksi yang besar. Contohnya dituturkan oleh pesepakbola nasional, Bambang Pamungkas. Untuk menumbuhkan empati tersebut, Bambang akan menunjukkan nilai-nilai kebaikan, bahkan dari hal yang paling kecil sekalipun. Salah satunya adalah membantu sang anak untuk menyumbangkan pakaian kepada yayasan yang dia kelola.

Bukan hanya dari para pembicara saja, dalam sesi tanya-jawab pun saya mendapatkan banyak pelajaran tentang parenting. Di antaranya dengan mencegah terlahirnya golden child atau anak emas yang menimbulkan kecemburuan pada anak lainnya. Menurut Roslina, hal tadi ternyata muncul karena orangtua tanpa sadar telah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Lantas, ada juga yang ingin tahu sampai kapan pengembangan empati seorang anak harus diterapkan. Jawaban dari sang psikolog pun cukup mengejutkan: tidak ada batasan usia sama sekali.

20160326_112133

Oh ya, selain itu di venue Bebelac ada 14 stan permainan khusus anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Saya lihat sih yang paling diminati adalah kolam bola yang berada tepat di belakang deretan kursi tamu. Tapi, semakin siang, semakin banyak anak yang datang dan mencoba stan-stan lainnya.

20160326_120535

Satu kata untuk acara dari Bebelac ini: seru! Saya bisa mengaplikasikan ilmu dari para pembicara tadi kalau sudah punya anak di kemudian hari.

20160326_120553

erl.

 

ps: sst, Bebelac sedang mencari sosok #bebehero! Hadiah utama yang akan pemenang dapatkan adalah kesempatan untuk jadi bintang iklan Bebelac dan terbang ke Australia! Kontes ini berlangsung sampai tanggal 24 April 2016 dan keterangan lengkapnya bisa kalian klik di: http://bebeclub.co.id/growthemgreat/bebehero/

Life

[Life] The Introvert’s Drama

Saya sebenarnya sudah pernah menulis beberapa entri tentang introver di blog lama. Tapi, berhubung tulisannya alay, jadi saya bikin yang baru dan lebih rapi.

Jadi, apa itu introver? Kalau kata KBBI, sih:

intro

Kalian pernah satu kelas sama murid pendiam dan lebih suka baca buku daripada makan di kantin (wait, me?)? Nah, orang-orang introver kurang lebih seperti itu. Saya sendiri baru tahu istilah ini saat masuk kuliah setelah kenyang dibilang pendiam, kaku, dan pemalu selama bertahun-tahun. Saya pernah mencoba untuk jadi ekstrover alias lebih terbuka, tapi paling maksimal sampai level ambivert.

Nyatanya sampai sekarang masih ada yang belum paham dengan introver. Ada beberapa pertanyaan atau, ya, semacam sindiran yang saya dapatkan karena punya sifat ini. Nah, saya kumpulkan dan simak penjelasannya di bawah ini

  1. “Sendirian aja?”

Ya. Ya enggak juga sih. Ada malaikat pencatat amal, kok, di kanan-kiri saya. *eh

Para introver menikmati kesendirian. Kami suka, kok, bersosialisasi. Sayangnya, ‘baterai’ kami tidak setangguh para ekstrover yang bisa tahan ngobrol berjam-jam. Selepas gibah hore sama teman-teman atau nonton konser, saya akan merasa lelah luar biasa. Bahkan bertemu satu atau dua orang pun bisa capek, lho. Makanya, saya suka pulang sendirian untuk mengisi daya ‘baterai’ yang terkuras selama bertemu dengan banyak orang tadi (kecuali kalau butuh tebengan atau diantar gebetan. Hehe.)

Untuk bertemu dengan orang banyak, kami juga butuh tenaga yang banyak. Jadi biasanya, saya akan melakukan persiapan seperti menentukan waktu berangkat dan pulang, serta basa-basi busuk pengisi kekosongan. Perjalanan ke tempat tujuan pun terhitung sebagai pengisian daya. Makanya, kalian pasti sering mendapati introver datang sendirian ke acara tertentu.

  1. “Kok diam aja?”

We hate small talks.

Saya punya kebiasaan observasi di pertemuan pertama. First impression adalah harga mati, meski tidak jarang penilaian kami bisa salah di kemudian hari. Kalau lawan bicara kami menyenangkan, kami pasti akan membuka diri pelan-pelan. Kalau enggak, bye (tapi saya masih kasih kesempatan sampai dua atau tiga kali. Kalau masih gitu-gitu aja, bye.) Saking pendiamnya, beberapa teman menyangka kalau saya cuma ngomong kalau ada perlunya saja. Sakit, cuy. Saya makin ngediemin mereka aja jadinya.

Nah, begitu. Introver bisa ngomong, kok. Serius. Asal kalian masuk kriterianya aja, ya.

  1. “Kenapa ngelamun terus dari tadi?”

Also, we are deep thinkers.

Masih berkaitan dengan poin pertama, untuk masuk ke area berpikir lama dan dalam, kami pasti akan menyendiri. Beberapa introver mungkin akan melakukannya di tempat-tempat sepi. Sebagian lagi mungkin sudah bisa melakukannya di kafe atau di tengah kerumunan konser. Sekilas, kami mungkin kayak orang kebingungan karena diam dalam waktu lama dengan tatapan kosong. Kami juga akan terganggu luar biasa kalau sesi berpikir itu terputus di tengah jalan. Makanya, kalau kalian punya teman introver dan lihat dia dalam sesi ini, jangan diganggu ya.

Kecuali kalau ngelamunnya sampai enggak tidur berhari-hari.

  1. “Kok enggak ngajak-ngajak?”

Hmm, gimana ya….

Pertanyaan ini muncul kalau saya check in di Path atau posting foto lagi tempat makan atau sejenisnya. Mungkin agak aneh, kali, ya, karena yang lain kalau check in pasti lagi sama geng atau pacarnya. Lah, saya sendirian aja. Terus enggak ngajak-ngajak lagi. Huh.

Saya bukannya enggak mau ngajak, tapi ini masih berkaitan sama nomor tiga. We need this me-time (kalian juga pasti butuh, kan, meski bukan introver?) Jadi, jangan banyak protes, ya, kalau saya pergi sendirian. Kecuali kalau saya respons, berarti saya enggak keberatan kalian temani. Atau saya ajak kalau memang sedang ingin ditemani.

  1. “Kamu lebih lancar ngobrol pas chatting, ya.”

HAHAHA.

True story.

Karena lebih sering berpikir dan menyendiri, kami otomatis jadi irit bicara. Saya bahkan paling takut dan waswas kalau bertemu sesi presentasi di kelas (jangan tanya sefrustrasi apa waktu saya mau sidang). Talk is cheap, they said, but hell nope for us. Makanya SMS dan aplikasi chatting jadi semacam pahlawan buat kami. Menulis jadi semacam keahlian para introver, karena kami enggak usah repot ngomong dengan berbelit-belit.

Ya terus menurut kalian kenapa saya jadi penulis? *lel

Tapi pada kondisi tertentu, kami bisa bicara lancar dalam waktu lama. Saya akan masuk mode tersebut kalau sedang mendiskusikan hal-hal yang saya suka. Begitu beres, sih, ya, saya jadi pendiam lagi.

  1. “Balas, dong, chat-nya.”

Jadi begini… ternyata SMS dan chatting pun tidak selamanya menguntungkan.

Saya sering membiarkan beberapa pesan tak terbalas karena menganggap percakapan itu sudah selesai. Namun, beberapa orang ternyata butuh balasan singkat, meski dengan oke, sudah diterima, atau y. Sebenarnya saya kesal dan kurang suka, karena balasan singkat tadi masuk ke kategori 1) basa-basi dan 2) small talks. Tapi, dalam beberapa kondisi, saya mau tidak mau harus mengalah supaya si lawan bicara tidak senewen.

Y. K.

[insert emoticon]

  1. “Sendirian terus. Kapan punya pacar / suami / istri?”

Menjalin hubungan serius adalah hal tersulit lain setelah bicara.

Sebenarnya, jangankan pendamping sehidup-semati, menjalin pertemanan atau bisnis pun bukan hal mudah buat kami. Saya tipe orang yang sulit percaya dengan orang lain. Saya tidak mau berbagi cerita, rahasia, apalagi hidup dengan sembarang orang. Makanya, para introver punya lingkaran pertemanan yang cenderung kecil dan masih di situ-situ saja.

Lantas, kalau kamu berhasil mencuri perhatian saya (atau introver lain yang punya sifat seperti ini), saya akan percaya sepenuhnya sama kamu. Saya enggak akan segan-segan bicara panjang lebar dan mendiskusikan berbagai topik. Saya, kalau sudah percaya banget, akan menjadikan orang ini sebagai prioritas untuk berbagi cerita tentang apapun. Kalau sama yang lain saya benci basa-basi, sama orang-orang kepercayaan ini sih ya malah enggak segan lempar guyonan garing.

Itu baru sama teman. Can you imagine how complicated it is to be in a relationship with introvert?

Tapi, tapi, kalau kamu berhasil bikin introver jatuh cinta… they will try hard to never let you go. *hahay

Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang sering nyangkut, tapi tujuh poin di atas adalah yang paling sering dilontarkan. And, for us, being alone doesn’t mean we’re not feeling lonely. Iyes, kami juga bisa merasa kesepian. Kami mungkin terlihat aneh, tetapi selama kalian tahu cara menghadapi introver, enggak akan ada masalah, kok.

It’s quite long, tho, but thanks for reading.

 

erl.

 

p.s.: pemaparan di atas mungkin tidak berlaku untuk semua introver.

p.s.s: ini salah satu ilustrasi terbaik tentang introver.

Life · writing

[Publishing] Perhatikan Poin-poin Ini Sebelum Mengirim Naskah ke Penerbit

Ada beberapa teman dan pembaca yang bertanya bagaimana caranya kirim naskah ke penerbit. Sebenarnya, kirim naskah ke penerbit bukan perkara sulit. Tinggal dikirim ke alamatnya, kan? *eh* *bukan itu, ya?*

Pertanyaan tadi biasanya merujuk ke syarat dan ketentuan. Itu pun tidak bisa saya jawab langsung karena setiap penerbit punya poin yang berbeda. Entah dari genre cerita hingga format pengiriman. Namun, ada beberapa kesamaan yang dicantumkan para penerbit tersebut. Pada entri kali ini, saya mau membahas seputar kesamaan tadi dan hal-hal penting yang harus kalian perhatikan sebelum mengirim naskah ke penerbit.

  1. Kelengkapan Naskah dan Data Diri

Setidaknya, ada tiga komponen yang harus kalian siapkan: naskah, sinopsis, dan data diri. Ada juga komponen lain seperti surat pernyataan keaslian naskah, tetapi tidak semua penerbit memintanya. Nah, untuk naskah, pastikan ceritamu benar-benar sudah selesai. Enggak nyicil ngirimnya per bab macam kredit motor.

Sedangkan untuk sinopsis, usahakan kalian bisa merangkum cerita dari awal sampai akhir sepanjang dua halaman A4 (standar). Iya, awal sampai akhir, karena ternyata masih ada yang kirim sinopsis, tapi isinya gantung. Sok bikin penasaran sampai dikasih pertanyaan kayak “Apa mereka akan bertemu kembali? Simak ceritanya dalam [Judul Naskah].” Woooi, kalau itu sampai dibaca editor, bisa langsung ditolak. (Baca juga: Perbedaan Blurb dan Sinopsis)

Terakhir, cantumkan data diri selengkap dan seasli mungkin. Kalau sebelumnya kalian punya karya yang sudah diterbitkan, cantumkan juga. Lumayan, lho, buat ‘jual diri’.

  1. Format Penulisan

Standarnya, penerbit minta naskah diketik dengan huruf Times New Roman atau Calibri. Ukuran hurufnya 11pt atau 12pt, dengan spasi berkisar dari 1 sampai 2 spasi. Margin by default, artinya kalian enggak usah utak-atik Page Setup lagi. Kayaknya mudah, tapi masih ada yang bandel. Contohnya pakai jenis huruf berukir macam Jokerman atau Kristen ITC. Yaaa, kelihatan artistik, sih, cuma enggak akan dibaca karena bikin sakit mata. Terus, bagaimana kalau penerbit enggak mencantumkan jenis dan ukuran huruf? Kalian bisa pakai jenus huruf standar Times New Roman, ukuran 12pt. Atau bisa tanya dulu sama penerbitnya supaya lebih jelas (kalau katanya bebas, kembali pakai standar aja, lah).

Oh, satu lagi: jangan pakai jenis huruf Comic Sans MS, karena kalian kirim naskah buku, bukan komik.

  1. Cara Mengirim Naskah

Sebagian besar penerbit masih pakai metode yang sama, yaitu dikirim langsung ke alamat redaksi mereka. Supaya naskah kalian enggak berantakan, jilid atau pakai klip sesuai dengan ketebalan naskahnya. Kirim pakai amplop berlapis supaya enggak basah kalau kehujanan dan sampai dengan selamat. Akhir-akhir ini penerbit juga mulai buka metode lain melalui surat elektronik atau e-mail. Lumayan, kan, bisa hemat kertas dan tinta printer. Tapi, kalau penerbit enggak pakai metode lewat surel, jangan dipaksa buat bisa, ya. Standar setiap penerbit, kan, beda-beda.

  1. Jangan Kirim Satu Naskah ke Dua Penerbit

Ada yang pernah panik karena mengirimkan satu naskah ke dua penerbit berbeda dalam waktu berdekatan. Berita baik sekaligus buruknya adalah… kedua penerbit tadi menerima naskahnya! Kenapa baik? Ya berarti naskahnya sesuai standar penerbit dan laik muat, dong. Buruknya? Kalau sampai diterbitkan di dua penerbit, bisa chaos dunia penerbitan. Soalnya, penulis tidak boleh mengirimkan satu naskah ke dua penerbit berbeda dalam waktu bersamaan. Kesannya, si penulis serakah dan pengin ambil untung banyak. Sementara penerbit merasa dikhianati karena penulis tadi nyambi juga di tempat lain. Kalau sudah begitu, si penulis bisa di-blacklist. Bukan hanya di dua penerbit tadi, tapi bisa saja semua penerbit. Kelar, deh, karier dia sebagai penulis.

Hal ini juga berlaku untuk bentuk tulisan lain seperti artikel atau cerita pendek. Kalau mau, kalian harus sabar menunggu kabar dari satu penerbit. Baru kirim ke penerbit lain seandainya naskah kalian ditolak di penerbit sebelumnya.

  1. Kirim ke Penerbit yang Sesuai

Ini memang agak tricky dan mengandalkan keberuntungan. Kalian mungkin suka baca buku dari penerbit A, eh tapi malah jodoh sama penerbit B. Begitu pula sebaliknya. Tapi, satu hal yang pasti, jangan sampai kirim naskah ke penerbit yang enggak menerima genre tulisanmu. Jadi, ada baiknya kalian riset dulu ke lapangan (toko buku-red) dan pilih beberapa penerbit yang gaya ceritanya mendekati karya kalian. Kalian juga bisa tanya teman-teman, “Naskahku cocoknya masuk penerbit mana, ya?” Siapa tahu salah satu di antara mereka cukup teliti untuk hal ini.

Selain lima hal di atas, kalian juga harus sabaaar menunggu kabar tentang naskah. Penerbit membutuhkan rata-rata tiga sampai lima bulan untuk memberi konfirmasi selanjutnya. Bukan mau bikin kamu kesal karena menunggu, tetapi mereka menerima puluhan bahkan ratusan naskah yang harus diseleksi secara ketat. Kalau sudah lebih dari lima bulan belum dapat kabar, kalian baru bisa mengontak mereka buat tanya nasib si naskah.

Semoga tulisanmu bisa segera bertemu jodohnya!

 

erl.

Life · writing

[Writing] “Kayak gimana, sih, bikin tulisan yang bagus?”

Saya sebenarnya pengin kasih jawaban simpel buat pertanyaan itu: baca banyak buku dan rajin nulis. Read, write, repeat. Tapi, nyatanya kualitas menulis seseorang bisa dipengaruhi beberapa faktor. Kalian pasti akan menemukan banyak artikel tips penulis saat melakukan pencarian di Google. Sumbernya juga beragam; mulai dari pengarang best seller sampai penulis amatir. Dari ratusan atau ribuan artikel itu, mungkin kalian akan menemukan banyak kesamaan dari para sumber. Ada juga yang berbeda. Tergantung dari kebiasaan para sumber yang bersangkutan.

Bagaimana dengan saya? Tulisan saya mungkin masih jauh dari kata bagus banget atau sangat berkualitas. Writing is about learning for me. Jadi, poin-poin di bawah ini merupakan kebiasaan yang saya praktikan untuk meningkatkan mutu tulisan selama beberapa tahun terakhir.

  1. Baca Buku dari Berbagai Genre

Dulu, saya paling susah untuk mencoba pindah ke satu genre, baik dalam musik atau buku. Sampai seorang teman dekat meminjamkan beberapa buku koleksinya kepada saya. Katanya, saya harus membaca karya-karya dari genre berbeda untuk memperluas pikiran dan menambah wawasan. Awalnya memang susah, sampai ada beberapa buku yang tidak bisa saya selesaikan. Namun, lama-lama saya jatuh hati pada buku-buku dari genre yang belum pernah dibaca. Nah, dari sana saya mulai berani menyelami banyak genre dan hasilnya tidak mengecewakan. Kalian bisa mempelajari berbagai hal, mulai dari emosi sampai karakterisasi dari sudut pandang berbeda.

  1. Sering Jalan-jalan

Bandung—kota tempat saya lahir dan tinggal sekarang—sedang berada dalam fase paling nyaman dan menyenangkan. Ruang publik yang terus dipoles dan transportasi memadai berhasil menarik saya untuk keluar rumah. Sejak tiga tahun terakhir, saya menjadi turis di kota kelahiran sendiri. Saya menjelajahi sudut dan jalan kecil yang belum tersentuh. Dari perjalanan-perjalanan tadi, saya mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis. Kalian yang suka jalan-jalan—entah di dalam kota atau sampai ke luar negeri—jangan sampai lewatkan kesempatan tersebut. Observasi dan nikmati setiap pengalaman yang kalian dapat. Kemudian, tulis sedetail mungkin.

  1. Shut Your Inner Editor

Kalian suka mendengar suara-suara di dalam kepala yang sering muncul saat menulis? That’s the bitchy inner editor. Apalagi kalau suara-suara tadi suka kasih komentar sinis sampai kritik-kritik yang bikin kalian pada akhirnya malas menulis. Ugh. Saya masih mengalami hal itu dan kesulitan untuk membuat ‘mereka’ diam. “Write drunk, edit sober.”* Kalau nulis, ya, jangan kagok lah. Tulis saja kayak orang mabuk yang enggak memerhatikan keadaan sekitar, terutama sama suara-suara mengganggu di kepala. Lantas, setelah semuanya beres, baru sunting habis-habisan tulisan kalian tanpa ampun.

  1. Kongko sama Teman-teman

Writing is a solitary work. Bagi saya, itu benar. Kalian juga? Saking sibuknya menulis, kita kadang suka lupa sama kehidupan sosial. Padahal, dari interaksi dengan orang lain, kita juga bisa memperoleh banyak inspirasi. Nongkrong sama teman-teman dekat bukan sekadar ajang ngegibahin orang lain, tapi juga tempat menggali ide. Dari mereka, kalian bisa mengamati gaya bicara, ekspresi wajah, sampai suara. Eh, tapi jangan keasyikan observasi sampai kalian enggak ikutan ngobrol. Pastikan juga, ya, kalau teman-teman kalian rela dijadikan objek penelitian. Hehe.

  1. Istirahat yang Cukup

Ini penting. Banget. Saya pernah beberapa kali sakit hanya karena terlalu memforsir diri buat menyelesaikan tulisan. I know it’s your passion, but your body and mind need a rest, too. Ingat kasus copywriter yang meninggal gara-gara kerja non-stop sampai enggak tidur? Jangan sampai kejadian ini terulang. Atur jadwal menulis kalian supaya enggak bentrok sama waktu ibadah, makan, atau tidur. Seandainya kalian enggan meninggalkan cerita buat tidur, tulis saja poin-poin utamanya. Jadi, kalian tinggal mengembangkannya keesokan hari. Istirahat enggak akan bikin tulisan kalian buruk, kok. Suer. Percuma, kan, tulisan kalian tuntas, tetapi kesehatan malah drop?

Nah, ini tips dari saya buat meningkatkan kualitas tulisan. Sekaligus jadi catatan buat diri saya sendiri, sih. Semoga bermanfaat!

 

erl.

*) Actually, it’s not from Hemingway

Life · writing

[Writing] The Perks of Being a Freelance Writer

Hampir dua bulan saya menggantungkan nasib dompet dengan bekerja sebagai penulis lepas (freelance writer). Saya enggak nyangka akan mendapatkan pekerjaan ini setelah tiga bulan menganggur. Pekerjaan saya sebelumnya juga sifatnya kantoran, Senin sampai Sabtu, dari pukul sembilan pagi sampai empat sore. Enam bulan yang mengesankan, tetapi saya agak lelah juga (karena bidangnya kurang pas dengan minat saya).

Jadi, setelah dinyatakan lolos seleksi dan briefing dengan salah satu penyedia jasa penulis lepas, saya girang bukan main. Apa, sih, yang lebih menyenangkan dari pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan minat yang ditekuni selama ini? I’ve been writing for years, now I’m earning money from this. Sweet.

Eh, tapi, itu bukan berarti jadi freelance writer selalu menyenangkan. Selama nyaris dua bulan ini, saya sudah merasakan sedikit suka-duka dari pekerjaan ini.

Poin  Suka

1. Bisa Kerja Di Mana Saja

Aaaawyis, working from home. Selamat tinggal pakaian formal! Selamat tinggal ongkos angkot yang terus naik! Saya membaca beberapa artikel tentang penulis lepas yang memberi saran untuk menciptakan work space sendiri di rumah. Saya tadinya punya pojok menulis, tapi ujung-ujungnya saya kerja di sembarang tempat. Dari ruang tamu, meja, sampai di atas kasur. Selama nyaman, saya akan menulis di sana berjam-jam. Kalau bosan di rumah, tinggal keluar dan cari tempat buat nulis dengan fasilitas wi-fi. Intinya, jadi penulis lepas tidak harus terikat dengan istilah ‘setor muka’ sama atasan. Mwahahaha.

2. Waktu Luang Lebih Banyak

Di pekerjaan sebelumnya, saya punya kendala untuk menulis naskah novel (excuse aja ini mah). Kadang, kalau ada rapat, saya bisa pulang sore atau malam. Sampai di rumah, boro-boro kepikiran naskah, yang ada bawaannya pengin makan, terus tidur. Nulisnya kapan-kapan. Huhuhu. Sedangkan saat jadi penulis lepas seperti sekarang, saya punya porsi waktu luang lebih banyak dan bisa dimanfaatkan buat nulis atau baca buku. Jadi, enggak ada alasan naskah lama selesai (seharusnya seperti itu, tapi kenyataan berkata lain).

3. Pengeluaran Berkurang

Yaaas, selain ongkos transportasi, dana buat makan siang dan keperluan mendadak pun berkurang atau hilang seketika. Kerja di rumah ini, kok. Kalau lapar, ya, tinggal makan aja (kebetulan tinggal sama orangtua dan Mama masih sering masak) atau masak sendiri, in case Mama sedang tidak mood memasak. Ini juga berarti satu hal: tidak cepat bangkrut, jadi uang di dompet maupun ATM akan jarang keluar dan pindah ke dompet lain.

Poin Duka

1. Bosan dan Kesepian

Being lonely isn’t same as being alone. Iya, saya introver dan sudah sangat terbiasa sendiri. Jalan-jalan sendiri. Nonton konser sendiri. Pacaran sendiri *eh*. Tapi, saya juga butuh sosialisasi, lho. Di kantor dulu, setidaknya saya berinteraksi dengan dua sampai empat orang dalam satu ruangan. Sekarang? Tanpa hitungan chatting, saya… masih bersosialisasi, sih, tetapi dengan orang-orang rumah dan di luar jam kerja. Ketika bekerja, saya harus pergi ke tempat sepi dan lama-lama bosan karena enggak ada rekan kerja yang bisa diajak mengobrol langsung. Jadi berasa di gua, kan.

2. Tidak Selamanya Bebas

Ada yang bilang, being freelancer doesn’t mean we’re free anytime. Yhakali kami juga kerja, yang bikin free itu karena tidak terikat kontrak penuh seperti pekerja kantoran. Untuk pekerjaan sekarang, saya mengambil shift sore, dari pukul tiga sore sampai sepuluh malam. Alasannya, karena jam segitu saya lagi melek-meleknya dan porsi pagi bisa dipakai buat baca atau nulis naskah (diselingi bergunjing). Well, dan saya masih kesulitan buat meet up atau sekadar ngopi lucu sama teman-teman. Kalaupun bisa, saya harus minta izin pindah shift, tapi itu juga tidak boleh sering.

3. Gaji Seadanya

Jumlah pendapatan tenaga kerja lepas bergantung pada jumlah pekerjaannya juga. Semakin banyak, ya semakin besar pula… gajinya. Mungkin bisa melebihi gaji pegawai kantoran, tapi itu buat yang sudah ahli kali, ya. Bagi saya yang pemula, sih, gajinya masih jauuuh di bawah pendapatan di kantor dulu. Jadi, saya enggak bisa sering-sering beli buku atau kulineran. Harus berhemat juga, meski loba kahayang. Tapi, saya bersyukur, karena sejauh ini gajinya cair tepat waktu. He.

Nah, jadi itulah poin-poin suka duka selama jadi penulis lepas (sejauh ini). Tadinya, saya menjadikan freelance writer sebagai pegangan sementara sambil cari pekerjaan tetap. Lah, tapi lama-lama malah kerasan. So, I think I’m going to stick with it for a while.

Have a nice weekend,

erl.

 

 

Life · project

[Review] Sanctuary

Pagi ini, mood saya agak berantakan karena menu breakfast di salah satu tempat makan favorit saya ternyata hanya tersedia sampai pukul sepuluh pagi. Padahal di media sosial, jadwal yang tercantum sampai pukul sebelas pagi. Saya datang sekitar pukul sepuluh lebih delapan menit  dengan ekspektasi masih bisa mendapatkan sarapan. Saya pikir, ya sudahlah. Kadung berada di tempat, saya memutuskan untuk menulis entri di hari kedua.

Omong-omong, saya jadi ingat topik tentang tempat favorit untuk menulis. Zaman sekolah dan kuliah dulu, saat uang saku masih pas-pasan, saya cukup puas dengan menulis di kamar sendiri. Namun, sekitar satu tahun setengah terakhir, saya mulai menjajal beberapa kafe dan restoran di Kota Bandung sebagai ‘kamar’ kedua untuk menulis. Meski tempat kelahiran saya dibanjiri tempat makan enak, tidak semuanya bisa dijadikan tempat menulis.

Di bawah ini ada lima tempat favorit yang sering saya kunjungi:

1. Bober Cafe 

Enaks di @bobercafe tadi dapet diskon 20%. Selamat ulang tahun, kesayangan! ♡

A post shared by Erlin Natawiria (@enatawiria) on

 

Saya kali pertama ke sini empat tahun yang lalu, tetapi baru menjadikannya surga menulis sekitar setahun silam. Meja favorit saya letaknya di pojok dekat tempat lesehan (nomor 26, if you want to know). Saya yang awalnya kurang nyaman menulis di tempat ramai, mulai membiasakan diri dengan kehadiran orang-orang asing di sini.  Sampai sekarang, Bober masih menjadi tempat pertama yang akan saya kunjungi kalau pengin nulis di luar.

Alamat Bober Cafe: Jalan Riau nomor 123, Bandung

2. Siete Cafe 

 

Meeting point favorit sejak magang di GagasMedia. Tempatnya yang lumayan strategis (dekat Simpang Dago) memudahkan orang-orang untuk menemukannya tanpa lama-lama kesasar (setidaknya buat saya yang mudah tersesat). Berbeda dengan Bober, saya enggak punya meja favorit di sini. Selama ada meja yang lumayan mojok, pasti akan saya tempati, sih.

Alamat Siete Cafe: Jalan Tongkeng No. 20, Sumur Bandung, Bandung

3. Todays Koffie

Glimpse of company. #coffeeshop #greentea

A post shared by Erlin Natawiria (@enatawiria) on

 

Kedai kopi cukup melekat kuat dengan penulis. Dari sekian kedai yang pernah saya kunjungi, Todays Koffie menjadi favorit saya. Kendati kecil, saya menyukai atmosfernya dan kedai ini jauh dari ingar-bingar kedai kopi di pusat perbelanjaan. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini untuk menulis atau sekadar menghabiskan secangkir kopi Vietnam.

Alamat Todays Koffie: Jl. Ir. H. Juanda (Dago) no. 374, Bandung.

4. Kineruku

Di Kineruku bersama @abi_ardianda.

A post shared by Erlin Natawiria (@enatawiria) on

 

Surga selanjutnya adalah perpustakaan kecil yang membuat saya jatuh hati pada pandangan pertama. Kineruku pada dasarnya adalah tempat berbaurnya para kutu buku dan penikmat musik. Selain itu, di bagian belakangnya, ada Garasi Opa yang menyuguhkan barang-barang vintage. Tempat menulis favorit saya ada di teras belakang Kineruku yang menghadap taman dan Garasi Opa.

Alamat Kineruku: Jl. Hegarmanah No. 52, Bandung.

5. Ngopi Doeloe

Dari beberapa cabang yang tersebar di Bandung, Ngopi Doeloe di Jl. Setiabudhi dan Purnawarman adalah dua tempat paling nyaman untuk menulis. Poin plusnya ada di sofa-sofa besar dan empuk yang kelewat enak dipakai buat menulis. Harga menunya juga bersahabat. Saya sendiri baru menulis di Ngopi Doeloe sejak mulai bekerja.

Alamat Ngopi Doeloe: Jl. Purnawarman dan Jl. Setiabudhi, Bandung.

Lima tempat di atas tadi adalah tempat-tempat rekomendasi saya buat menulis. Kalau kalian ada atau sedang berkunjung di Bandung, sila kunjungi tempat-tempat ini. Jika kalian juga punya rujukan lain, share di sini, yuk!

Have a nice day,

erl.

 

 

Life · writing

[Publishing] Meet the Editor

Dapat kabar dari penerbit kalau naskah kamu diterima? Yippie, selamat! Langkah kamu sebagai penulis baru saja memasuki tahap baru. Di tingkat ini pula kamu akan berkenalan dengan editor.

Menjalin hubungan baik dengan editor adalah salah satu hal penting, karena kalian akan menjadi partner dalam proses penyuntingan naskah. Sayangnya, beberapa penulis pemula sering takut duluan gara-gara mendapat rumor kalau editor di penerbit bersangkutan terkenal galak sampai suka mencabik-cabik naskah.

Uh, namanya juga rumor, jangan ditelan mentah-mentah sebelum melihatnya sendiri. Di bawah ini, ada lima poin yang bisa kalian pakai untuk berhadapan dengan editor.

1. Jangan baper

Penulis baru mungkin akan kaget saat menerima revisi awal naskah. Tidak jarang naskahmu akan dipenuhi catatan dengan komentar-komentar ‘pedas’ yang bikin kamu pengin nangis. Terus kamu jadi baper (bawa perasaan) dan beranggapan jika editor (atau penerbit) enggak suka sama si naskah. Saking sedihnya, kamu sampai enggan memperbaiki dan memutuskan buat loncat dari gedung cari penerbit baru dengan editor yang lebih ramah. Duh, padahal editornya enggak punya dendam apa-apa sama kamu.

2. Siapkan mental

Terus, bagaimana caranya supaya enggak baper? Selain kemampuan menulis, menyiapkan mental juga penting, lho. Like, seriously. Editormu memberi banyak catatan bukan karena mereka jijik sama tulisanmu, tetapi karena mereka peduli. Naskahmu diterima penerbit, sebab mereka melihat potensi besar. Mereka lalu memberimu harapan, dengan catatan kamu juga mau bekerja sama dengan memperbaiki poin-poin yang diberikan editormu.

3. Diskusi tanpa perantara

Jika kalian tinggal di kota yang sama, usahakan untuk bertemu langsung; entah sambil makan siang, ngopi-ngopi, atau datang ke kantornya. Dengan bertatap muka, kalian bisa mendiskusikan naskah dan berbagi pendapat di tempat. Biasanya, ada hal-hal yang sulit disampaikan dalam surel atau WhatsApp dan lebih enak diungkapkan tanpa perantara.

4. Berteman dengan editor

Supaya ketegangan dan kecanggunganmu mencair, bertemanlah dengan editormu. Berteman, ya, bukan menjilat. Kamu dapat memulainya kalau kalian sama-sama menyukai sesuatu–penulis kesukaan, misalnya. Sambil membicarakan naskah, kalian bisa berbagi buku-buku favorit atau lagu dalam playlist. Tidak menutup kemungkinan kalian bisa jadi teman baik meski dia tidak menyunting tulisanmu lagi.

5. Jaga sikap

Saking dekatnya sama editor bukan berarti kamu bisa seenak udel datang ke kantornya tanpa membuat janji atau menanyakan kabar naskahmu setiap dua jam sekali. Ingat, selain naskahmu, editor juga mengurus naskah dari penulis-penulis lain. Dia butuh me-time setelah seharian bergulat dengan pekerjaannya. Kalau editormu menegur, perbaiki kesalahanmu dan jangan sampai diulangi lagi. He or she wants you to be a well-behaved author.

Nah, yakin masih mau mundur? Mudah-mudahan lima poin di atas bisa membantu kalian berhadapan dengan editor. Kalau punya poin tambahan, please share with us!

Salam,

 

erl.