[Review] Satu Jam Lebih Dekat Bersama Yuna

yuna

Tadinya, tadinya, saya mau rehat dari dunia perkonseran di tahun 2016. Ingat umur (enggak juga sih). Lagi pula, musisi-musisi favorit saya kalau tidak hiatus, ya bubar. Jadi kecil kemungkinan mereka mampir ke Indonesia buat menggelar konser.

Namun, semuanya langsung patah begitu Copeland main di Kampoeng Jazz di akhir bulan April.

Lalu keyakinan saya semakin digerus saat Kahitna jadi bintang tamu di pensi SMA Bandung bulan September.

Seolah belum cukup, muncul Yuna yang menghelat konser perdananya di Bandung tanggal 3 Desember 2016.

Aaah, persetan. Sepertinya saya masih butuh suntikan euforia konser meski antusiasmenya tidak sebesar saat kuliah dulu.

*

Tadinya, tadinya, saya tidak akan menonton Yuna. Selain karena mengurus kelahiran buku ketiga saya—Lara Miya—saya juga enggak sanggup beli tiketnya. Rp500.000 buat seorang freelancer itu besar dan saya punya prioritas di atas tiket konser. Saya lantas melepas Yuna (sama Mae juga sebenarnya).

Kemudian, dua hari sebelum konser Yuna digelar, Tari menawarkan barter.

Enggak perlu saya jelaskan isi kesepakatannya seperti apa, yes. Intinya, sih, saya mendapatkan tiket konser Yuna dan Tari memperoleh bayaran yang—katakanlah—setimpal. Heheh.

Berbeda dengan konser Copeland, untuk menonton Yuna, saya tidak menyiapkan sesuatu yang spesial. Saya juga enggak stalking penyanyi asal Malaysia itu karena siangnya sibuk mengurus book talk Vinca Callista di DU 71A. Rencana saya begitu selesai dengan book talk: kongko sebentar di Dago > pergi ke Dago Tea House sama Tari > nonton Yuna > pulang.

Nyatanya, realita tidak berbicara sesederhana itu.

*

Saya dan Tari sampai di Dago Tea House menjelang maghrib (by the way, konsernya di venue luar). Satu yang saya syukuri, cuaca Bandung saat itu relatif bersahabat; hanya berawan di siang menjelang sore hari. Gate dibuka beberapa menit setelah azan maghrib dan antreannya tidak segila konser-konser yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

Sebenarnya, saya lebih suka venue dalam, karena lebih intimate dan tentunya bisa melindungi penonton kalau hujan turun di tengah konser. Sementara venue luar jelas mengekspos kami pada angin malam di kawasan Dago yang kurang santai. Jarak dari amfiteater ke panggung juga jauh, jadi mustahil bisa ambil foto-foto bagus.

20161203_182052
Jauh, kuuuy~

Sambil menunggu kedatangan Yuna, saya dan Tari sempat mengobrol dengan dua penonton lain yang duduk di depan kami. Duh, sayang saya lupa nama mereka, tapi kami sempat berkenalan dan cerita banyak hal. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendapatkan pengalaman ini saat hendak menonton konser: punya teman-teman baru.

Obrolan kami terputus kala Indah Nada Puspita, opening act kesatu, muncul. Nada membawakan beberapa lagu dengan baik, termasuk Rather Be dari Clean Bandit. Opening act kedua adalah girlband berisi tiga teteh-teteh hijabers dari Noura. Dari segi musikalitas, opening act untuk konser Yuna lumayan bagus. Setidaknya mampu bikin kami terhibur daripada karatan menunggu Yuna yang baru naik panggung pukul setengah sembilan malam (harusnya pukul delapan. Well, Indonesia).

Sebelum Yuna, anggota band pengiringnya naik satu per satu; langsung mengundang teriakan dari arah penonton. Kemudian saat sang bintang utama muncul di tengah sorot lampu panggung, kami bersorak semakin keras.

Yuna sepertinya tidak suka dengan jarak yang terbentang di antara dirinya dengan penonton. Lantas, dia mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya. Dalam hitungan detik, semua orang berlari ke bibir panggung. Serta-merta, saya dan Tari sudah ada di baris kedua. Menakjubkan bagaimana saya, bukan hanya tiba-tiba bisa lari cepat, tapi juga mampu menaiki undakan tanpa terjatuh.

Luar biasa.

*

Places to Go dipilih menjadi pembuka konser. Sejujurnya, saya baru mengulik lagu-lagu Yuna tahun ini karena akunnya sering di-mention Aaron Marsh, vokalis Copeland. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada musiknya yang fresh. Simpel, tapi selalu sukses bikin hati bergetar *aih.

Perfomance Yuna di atas panggung pun tak kalah memesona. Dalam balutan busana berwarna hitam dan putih keperakan, Yuna terus bergerak dari satu sisi ke sisi stage; melantunkan beberapa tembang andalan dari album terbarunya, Chapters. Lantas sebelum membawakan Time, Yuna membagi kisahnya saat mengikuti beberapa kontes bakat di Malaysia.

20161203_204859
Look at that funny face

“Saya pernah bertanya kepada Ibu, Kenapa saya tidak pernah lolos saat mengikuti ajang pencarian bakat?, lalu Ibu membalas, Semua akan datang tepat pada waktunya, Sayang,” ujarnya. Sesuai dengan lirik yang Yuna senandungkan dalam Time:

It takes time
It takes a little time, baby
It will be fine,
It takes time, baby

Memang terbukti, kan? Sekarang, Yuna jadi salah satu penyanyi R&B dari Asia yang sukses melebarkan sayap sampai ke Amerika Serikat.

Selepas Mountains, Yuna menyanyikan nomor favorit saya dari Chapters, Crush. Dalam versi albumnya, lagu ini dibawakan bersama Usher. Namun, meski malam itu Crush hanya dibawakan oleh Yuna, sensasi merinding yang saya rasakan saat kali pertama mendengar lagu ini masih ada. You know it has to be a great song when it gives you chill.

20161203_205001

Atmosfer konser yang tadinya menyenangkan seketika menjadi pilu saat Yuna membawakan lagu-lagu sendu. All I Do, misalnya, yang hampir bikin saya menangis di tengah kerumunan. Hanya bersama sang gitaris, Yuna melantunkan setiap kata dari lagu ini dengan emosi yang bikin saya luluh lantak. Belum lagi Used to Love You yang tak kalah menyayat hati.

Yuna tentunya enggan menutup konser dengan kesedihan. Mendekati akhir acara, penyanyi berusia 30 tahun ini mempersembahkan lagu-lagu ceria seperti Terukir di Bintang (“Boleh tidak saya bawakan lagu berbahasa Melayu?” tanyanya sebelum memulai lagu tersebut). Kemudian, Live Your Life—yang dipilih menjadi lagu pamungkas—mengajak para penonton untuk ikut berjoget sebelum Yuna mengucapkan terima kasih dan turun dari panggung.

20161203_205322

“Tapi, tenang. Kita bertemu lagi di luar, ya,” katanya. “Nanti kita bisa swafoto bareng. Saya juga akan kasih tanda tangan di poster dan album.”

20161203_210758
Yuna during “All I Do”

Ya, tapi apalah artinya nonton konser tanpa mengeluarkan koor andalan: we want more, we want more, we want more. Entah berapa lama kami meneriakan tiga kata sakti itu. Sampai sang drummer muncul untuk membereskan alat-alatnya dan memberi isyarat pada kami: enggak, enggak akan ada lagu lagi.

Kami masih menunggu. Namun, rupanya dia benar.

Yuna tidak naik lagi ke atas panggung.

*

Konser Yuna memang berlangsung singkat—13 lagu selama kurang lebih satu jam lebih sekian menit. Walau begitu, saya suka cara Yuna saat berinteraksi dengan penonton. Dia sangat lepas di atas panggung; aktif bergerak (saking aktifnya sampai susah ambil foto bagus, hahaha), mengajak kami menyanyi bersama, dan terus menebar senyum.

Saya sampai bilang, ‘She is so cute, sweet, and humble it huuurts’ berkali-kali kepada teman-teman yang tidak sempat menonton konser ini. Yuna pun menepati janji untuk berswafoto ria dan membubuhkan tanda tangannya pada signing session yang diadakan di luar venue (terus, riasan wajahnya masih bagus aja).

Secara keseluruhan, konser Yuna di Bandung tanggal 3 Bandung 2016 kemarin sangat, sangat mengesankan. Mungkin jadi salah satu yang paling intimate yang pernah saya rasakan. Panggung boleh minimal, tapi penampilan Yuna sangat maksimal. Lighting and sound system are on point too. Nyaris tidak ada hambatan selama acara berlangsung. As a promoter, you made it, Kiosplay!

20161203_212057_2

*

Dear, Yuna, terima kasih sudah menyajikan konser akhir tahun yang indah dan hangat. It is not a crush anymore, because we have already fallen in love with your music and perfomance. Like, so hard.

So, please, visit us again next time!

Regards,

 

erl.

ps:

Terima kasih untuk Tari dan kesempatan-kesempatan mahalnya tahun ini (hahaha); akang dari Sumedang dan teteh mahasiswi Sastra Inggris UNPAD yang menemani saya serta Tari ngobrol sebelum acara dimulai; Abi untuk tebengannya sepulang konser (have a nice time in Europe! Tolong beresin naskahnya juga, ya. Thanks).

[Review] Copeland Back to Bandung: the Unexpected Return

CopelandBack

So, it took a week for me to write this review.

Setelah hampir satu dekade mengagumi dan enam tahun menanti (yang saya pikir bakal sia-sia), akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat aksi panggung Copeland di acara The 8th International Kampoeng Jazz, 30 April 2016. In case you don’t know, Copeland is one of The Muse—julukan yang saya berikan untuk mereka yang memberi pengaruh dan inspirasi besar pada tulisan-tulisan saya.

Begitu tahu Copeland bakal ke Bandung untuk kali kedua, tanpa pikir panjang saya langsung mengosongkan tanggal di atas. Sebenarnya saat itu saya berpikir kalau bisa menonton saja sudah bikin saya bersyukur habis-habisan.

Tapi siapa sangka kalau 30 April kemarin bakal jadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup?

*

Copeland adalah band luar negeri keempat yang konsernya (I don’t think it was a concert, but whatever) saya datangi setelah Mae (2009), We Are the in Crowd (2012), dan Motion City Soundtrack (2013). Iya, saya kalau mau nonton konser pilih-pilih banget. Kalau bukan favorit dan enggak hafal lagu-lagunya, mana mau saya datang. Dalam kasus Copeland, mereka ini spesial buat saya. Kedatangan mereka ke Bandung kali ini semacam penebus rasa bersalah karena saya  enggak datang ke farewell show mereka tahun 2010 lalu.

Di rundown, Copeland main sekitar pukul sepuluh malam setelah Andien. Memelesat jauh dari ekspektasi saya dan beberapa teman yang mengira Copeland bakal main pukul delapan atau sembilan malam. Tapi, masa bodo, kami toh tetap datang. Bahkan saya dan salah seorang teman, Tari, sudah stay di baris pertahanan terdepan sejak pukul setengah lima sore. Hujan-hujanan. Kena angin. Dempet-dempetan. Lapar. Ngantuk.

Sumpah deh kalau bukan buat Copeland, saya pasti lagi di rumah sambil tidur-tiduran.

Rundown yang awalnya berjalan mulus pun ngaret setelah Koes Plus turun panggung. Saya mulai panik, tapi tetap berusaha santai. Oke, dua artis lagi. Tahan, tahan. Syukurnya, dua artis sebelum Copeland—Maliq & D’Essentials dan Andien—mainnya bagus banget. Jadi saya cukup terhibur meski bukan penggemar mereka. Plus, tatanan pencahayaan dan sound-nya lumayan apik. Jadi saya sudah bisa membayangkan bakal sebagus apa kalau Copeland yang main nanti.

Pretty sure the crowd won’t forget how shameless the MC that night. In a good way.

Lalu, setelah penantian yang terasa selamanya, satu per satu personil Copeland naik ke atas panggung. Saya sempat kaget sekaligus takjub karena mereka melakukan seting alat dan tetek bengek lainnya sendirian (sesekali dibantu panitia, tapi enggak terlalu sering). Aaron Marsh, sang vokalis utama, bahkan membawa piano keramat yang jadi partner bermainnya di atas panggung dalam beberapa show Copeland.

Saya berdiri tepat beberapa meter di depannya.

Dan, sekuat apapun saya berusaha menahan lonjakan euforia dan antusiasme saat melihat Copeland di atas panggung, teriakan histeris itu akhirnya keluar juga saat Have I Always Loved You? dibawakan sebagai pembuka.

*

20160430_231505

Sayang, sayangnya, suara Marsh tidak terdengar maksimal karena sound yang agak bermasalah. Meski begitu, dia terus bernyanyi sambil memainkan piano keramatnya. Lighting belum bermain terlalu banyak juga karena tempo lagu yang cukup slow. Sebagian orang yang tahu atau mendengar album terbaru mereka, Ixora, juga ikut menyenandungkan lagu tersebut.

Tanpa basa-basi Disjointed dimainkan begitu lagu kesatu tuntas.

Di lagu ini, selain Marsh, Bryan Laurenson (gitar), Stephen Laurenson (gitar, synth), Bobby Walkerug (bas), dan Jordan Butcher (drum) mulai terlihat atraktif dengan instrumen masing-masing. Lighting juga sama mengentaknya dengan lagu yang mereka bawakan. Bahkan Marsh dengan fasih mengucapkan, “Terima kasih!” begitu menuntaskan Disjointed.

Masih dari Ixora, I Can Make You Feel Young Again dan Erase dibawakan setelah Disjointed. Kerumunan di sekitar saya masih nyanyi sekilas-sekilas, tapi kami mulai terbawa suasana dan rasanya sulit mengalihkan perhatian dari permainan mengesankan Marsh dengan pianonya. Dua lagu ini adalah favorit saya dari Ixora, jadi saya pasti bakal menyesal kalau tidak mengamati dengan saksama.

Kemudian di lagu berikutnya, bukan hanya kualitas sound yang mulai membaik, tapi atmosfer suasana juga berubah drastis begitu Marsh menyanyikan Should You Return dari album You Are My Sunshine.

Jangan tanya keadaan saya gimana saat itu. Saya jadi sama malu-maluinnya kayak dua MC yang lempar guyonan-guyonan receh sebelum Copeland main.

You Are My Sunshine adalah album keempat Copeland yang juga (sempat) jadi album perpisahan mereka sebelum menyatakan bubar tahun 2009. Menurut saya, Sunshine adalah salah satu album terbaik yang pernah Copeland rilis. Sepertinya sebagian besar penggemar Copeland pun setuju, karena kerumunan makin memanas saat Marsh melanjutkan pertunjukan dengan lagu Chin Up.

*

20160430_231804

Malam itu Copeland sepertinya ingin membolak-balik emosi kami, karena selepas Chin Up, mereka membawakan nomor-nomor lama dari Beneath Medicine Tree. Stephen dan Bobby mengacungkan ponsel mereka dengan flash menyala. Otomatis kami melakukan hal yang sama dan kembali histeris begitu tahu kalau lagu yang akan dibawakan selanjutnya adalah Brightest.

Dan kali ini, Marsh membawakan lagu tersebut sendiri. Dari layar yang berada di samping kanan panggung, saya bisa melihat kerumunan seketika tampak seperti lautan kunang-kunang. Sesuai dengan lirik yang dilantunkan Marsh, “And she says that I am the brightest little firefly in her jar.”

Coffeeone of my alltime favorite songs from Copeland—membuat suasana menjadi santai dan, seperti judulnya, bikin saya pengin nyeduh kopi di tengah kerumunan. The crowd didn’t miss any lines, too. Di sisi lain, saya mulai cemas kalau Copeland akan mengakhiri permainannya dalam satu atau dua lagu ke depan, karena jatah rata-rata artis lain tidak lebih dari dua belas lagu.

20160430_233431

Tapi, kecemasan saya dipatahkan, sebab masih ada banyak lagu yang mereka bawakan. Selepas Coffee, Marsh kembali membawa kami ke album Sunshine dengan The Day I Lost My Voice dan On the Safest Ledge.

ON THE SAFEST LEDGE, YA TUHAN.

Sialnya, seperti salah satu judul lagu mereka, saat itu suara saya sudah hampir hilang. Tapi ini Safest Ledge dan saya memaksakan diri untuk ikut sing-a-long. Safest Ledge adalah lagu yang terus saya putar beberapa hari sebelum acara tersebut dan mustahil rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan lagu seindah ini.

*

Marsh, kembali dengan permainan solo, lagi-lagi membuat kami baper maksimal dengan Hold Nothing Back dari album In Motion dan Priceless. Mungkin karena kepepet sama waktu, Marsh membawakannya beberapa lagu dalam format medley. Still good—no, that was great. Kami juga enggak mungkin enggak nyanyi di lagu Priceless (ini salah satu lagu Copeland yang pernah saya kembangkan jadi satu novel penuh).

20160430_235555

Seolah belum lelah, Copeland kembali menguji kami dengan dua lagu yang cukup upbeat, Take Care dan No One Really Wins. Saya? Saya sudah mulai kelelahan dan memilih untuk menikmati permainan Copeland di atas panggung sambil mendengarkan nyanyian kerumunan di belakang. Hey, it doesn’t mean I’m bored. Seandainya stamina tubuh pukul setengah lima sore bisa diambil, saya pasti akan memakainya untuk gila-gilaan di paruh terakhir pertunjukan Copeland.

20160501_000359

Selepas When Paula Sparks, Marsh akhirnya mengumumkan kalau dia akan membawakan lagu terakhir. And I was like, nonononononono. Namun, begitu intro dimainkan, saya tiba-tiba cenghar dan nyaris memeluk Tari begitu tahu lagu yang dipilih sebagai penutup adalah You Have My Attention.

Everyone went fully emotional at that moment.

Saya pribadi punya kenangan dengan lagu manis ini, jadi saya tidak mau kehilangan momen satu detik pun saat Copeland memainkannya. Marsh dan kawan-kawan yang awalnya terlihat santai, berubah jadi cukup agresif di atas panggung begitu memasuki paruh terakhir lagu. Bahkan mereka sempat loncat-loncat dan membuat teriakan kerumunan makin keras. Lantas, tepat saat lagu berakhir, kembang api muncul dari sisi panggung.

Kemudian, Marsh melepas gitarnya, mendekati standing mic, dan sekali lagi mengucapkan, “Terima kasih!” dengan dua tangan tersilang di dada.

20160501_001614

*

Wasn’t it enough?

Nope.

Copeland mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam lebih beberapa menit dengan total 16 lagu. Kami tahu jatah Copeland sudah habis, tetapi sebagian orang tetap meneriakan we want more! Saya sempat berharap mereka naik lagi dan membawakan satu-dua lagu (mereka tidak membawakan California! Demi apa! Dan enggak ada lagu dari Eat, Sleep, Repeat).

But the show really ended. Sambil berjalan keluar dari venue, saya sempat melihat kerumunan heboh begitu beberapa personil seperti Bryan dan Jordan melemparkan pick gitar dan stick drum. Saya mau saja rebutan kalau badan saya enggak jerit-jerit minta pulang.

Kendati ada beberapa kekurangan, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada Kampoeng Jazz karena sudah mendatangkan Copeland sebagai salah satu bintang tamu (spesial). Beberapa orang mungkin merasa janggal karena Copeland bukan band aliran jazz. Tapi saya sih enggak terlalu peduli, karena akhirnya penebusan rasa bersalah saya tuntas sudah malam itu.

Setelah bertahun-tahun tidak merasakan euforia konser, malam itu saya seperti dilempar kembali ke hari di mana saya nonton konser kali pertama tujuh tahun lalu. Pertunjukan kedua Copeland di Bandung bukan hanya membayar rasa bersalah, tetapi juga membawa kembali hal-hal mengesankan yang saya rasakan sejak masih jadi remaja tanggung sampai sekarang. Jadi, rasanya wajar kalau sampai sekarang, termasuk saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari malam mengesankan tersebut.

And it should’ve been us who said ‘thank you’ that much, dear Copeland. You always make us feel young again.

Sampai jumpa lagi!

 

erl.

CdLlAICUMAEygUK

ps: Baru sadar kalau saya menulis draf tulisan ini tanggal 8 Mei, which is tanggal yang sama waktu Copeland konser kali pertama di Bandung enam tahun lalu.

pss: Kalian bisa lihat keseruan Copeland (dan kisah fangirl/fanboy-nya) dengan mengetik tagar #CopelandBackToBandung di Twitter atau Instagram.

[Writing] 5 Album Terbaik untuk Teman Menulis

Beberapa orang yang saya kenal punya kebiasaan mendengarkan musik saat mengerjakan sesuatu, salah satunya untuk menulis. Kebiasaan ini juga sudah sering saya lakukan sejak duduk di bangku SMP. Lagu-lagu tertentu bisa membangun atmosfer yang bagus untuk tulisan. Malah sebagian di antaranya saya masukan ke dalam cerita, supaya pembaca jadi ikut penasaran buat mendengarkan. Hehe.

Namun, sekitar satu atau dua tahun terakhir, kebiasaan itu tidak terlalu sering saya lakukan. Apalagi beberapa lagu malah membuat saya melamun atau pengin sing a long sampai lupa dengan tulisan. Lantas, saya lebih memilih untuk mendengarkan musik saat jalan-jalan atau sedang tidak menulis.

Eh, tapi masih ada beberapa lagu atau album yang saya dengarkan saat sedang menulis. Here’s the list!

The Everglow (2004) – Mae

Saya awalnya enggak suka album ini. Satu-satunya lagu yang saya dengar adalah Suspension. Setelah berbulan-bulan mendekam di hard disk, saya iseng mendengarkan The Everglow lagi dan, kok tiba-tiba jadi enak banget, ya? Lantas setelah itu, saya terus mendengarkan album ini, termasuk saat sedang menulis. Di bangku SMA, saya malah pernah kepikiran buat bikin satu novel dari lagu-lagu di The Everglow (dan belum kesampaian, pemirsa). Malah di bangku kuliah, saya punya ritual mendengarkan album ini minimal satu kali saat sedang menggodok naskah. Saya sampai percaya kalau kelancaran cerita sangat bergantung pada The Everglow. Sekarang, saya sudah agak jarang dengar The Everglow dan gara-gara menulis artikel ini, sepertinya saya harus kembali mendengarkannya saat menulis.

In Love and Death (2004) – The Used

Huh, isn’t too ‘chaos’ to be listened for writing? Buat saya jawabannya tidak. Genre tidak memberi pengaruh besar selama album yang bersangkutan bisa membuat saya nyaman menulis. Termasuk In Love and Death dari The Used. Saya sudah mendengarkan mereka sejak duduk di bangku SMP dan masih betah menikmatinya. The Used is not so-called emo band for me. Kalau kalian dengar lagu-lagunya, mereka bisa memasukkan unsur elektronik, orkestra, sampai jazz di tengah-tengah keriuhan alternative rock. Namun, dengan banyaknya sentuhan yang The Used berikan dalam In Love and Death, saya ternyata masih bisa fokus untuk menulis. Kadang ada satu-dua lagu yang akhirnya masuk ke dalam cerita.

From Under the Cork Tree (2005) – Fall Out Boy

Who doesn’t like Patrick Stump’s voice? Sejak kali pertama mendengarkan Sugar, We’re Going Down sepuluh tahun silam, saya tahu saya akan jadi penggemar mereka untuk waktu yang lama. Meski album setelah From Under the Cork Tree semakin bagus dan ‘tumbuh dewasa’, saya punya kesan paling mendalam dengan album ini. From Under the Cork Tree menemani masa-masa awal saya menulis dan menerjemahkan. Yes, saya mulai belajar menerjemahkan gara-gara suka lagu Dance, Dance, tapi sebel karena enggak tahu apa artinya. Dulu terjemahannya masih berantakan banget, soalnya saya pakai teknik word per word yang maha kacau itu. Sekarang, sih, saya sudah paham semua dan bikin betah menulis lama. Ah, you guys are so irresistible.

4

Eat, Sleep, Repeat (2006) – Copeland

Copeland adalah salah satu band kesukaan saya dan sejauh ini mereka selalu mengeluarkan album-album yang bagus. Dari lima yang mereka rilis, favorit saya masih jatuh pada Eat, Sleep, Repeat. Sebelas nomor yang ada di rilisan ini membentuk satu atmosfer yang… enak. Tempo lagu-lagunya tidak terlalu cepat atau lambat. Duh, saya sendiri bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Satu hal yang pasti, saat saya kali pertama mendengar album ini, saya tidak mau menekan tombol Pause atau Stop sama sekali. Saya malah lancar jaya menulis saat Eat, Sleep, Repeat masuk ke playlist. Semua album Copeland sebenanrnya cocok didengar saat saya sedang menulis, tetapi belum ada yang bisa mengalahkan kenikmatan dari Eat, Sleep, Repeat.

5

Homesick (2009) – A Day to Remember

There’s something about this band. A Day to Remember sebenarnya hampir sama dengan The Used. Mereka bisa memasukkan genre lain dalam lagunya, meski enggak sebanyak The Used. Monument adalah lagu pertama yang mengantarkan saya pada album-album A Day to Remember yang lain. For Those Who Have Heart bagus, sih, tapi bikin fokus menulis saya berantakan. Baru di Homesick, saya bisa mendengarkan satu album penuh sambil menulis. Sekilas, Homesick lebih soft (dan agak monoton) dibandingkan For Those Who Have Heart. Di sisi lain, album ini juga lebih emosional. Kalau enggak, mana mungkin saya sampai menulis cerita dari lagu Have Faith in Me dan If It Means a Lot to You. Saya juga punya satu karakter fiksi bernama Ares yang ceritanya suka banget sama A Day to Remember.

Hmm, enggak ada album lokal, nih? Ada, kok, tapi biasanya situasional (hahaha) dan hanya didengar per lagu. Salah satu album band lokal yang saya dengar adalah Friends (2004) dari Mocca. Saya biasanya mendengarkan Mocca kalau lagi menulis cerita remaja. Menurut saya, lagu-lagu mereka punya atmosfer yang sesuai untuk kisah-kisah di bangku SMP-SMA. Selain Mocca, saya juga suka dengar Efek Rumah Kaca, Polyester Embassy, dan AFFEN / Trou saat sedang menulis cerita.

Five isn’t enough, actually, tapi album-album di atas adalah lima terbaik yang masih saya dengar saat menulis sampai sekarang.

Mind to share yours?

 

erl.

[Review] Ixora by Copeland

image

Track List
01) Have I Always Loved You?
02) Disjointed
03) I Can Make You Feel Young Again
04) Erase
05) Lavender
06) Ordinary
07) Like A Lie
08) Chiromancer
09) World Turn
10) In Her Arms You Will Never Starve
11) Like I Want You

*

Enam tahun sejak You Are My Sunshine dan lima tahun sejak keputusan untuk bubar, Copeland memberi kejutan untuk para penggemarnya di pertengahan tahun 2014. Tepat pada tanggal 1 April, band ini mengumumkan reuni dan album kelima yang akan dirilis sebelum akhir tahun. Tentu hal ini mengagetkan para pengikutnya–beberapa menganggapnya hanya bagian dari April Mop–sampai teaser lagu-lagu dari album teranyar mereka, Ixora, beredar di internet.

Things are getting pretty serious.

Setelah tujuh bulan yang terasa lama, Ixora mulai menunjukkan diri. Album ini awalnya dijadwalkan rilis pada 31 Oktober, tetapi diundur sampai 24 November. Meski begitu, mereka yang sudah memesan lewat PO sudah dapat menikmati album ini lewat versi digital.

Lewat sebelas lagu di dalamnya, Copeland membawa suasana baru tanpa meninggalkan ciri khasnya. Dibuka dengan petikan gitar yang lembut pada Have I Always Loved You? yang sedikit mengingatkan saya pada Beneath Medicine Tree dan Eat, Sleep, Repeat. Namun, lagu berikutnya, Disjointed, membawa saya pada perjalanan sesungguhnya. Dentingan piano yang tidak terlalu rumit dan terompet melatari Aaron Marsh yang sesekali memamerkan falset-nya.

Dua tembang berikutnya membuat saya makin tercengang. I Can Make You Feel Young Again terdengar menggoda dengan lantunan Marsh yang mendayu (Your breathing is quickening / Take my lungs, I owe you, lost and cold now / There’s a place in my arms I can keep you). Sementara Erase memberi kesenduan lewat dentingan piano dan biola, serta entakan drum di akhir lagu (I can’t help this awful feeling / That I can’t erase you).

Ordinary, yang dilempar menjadi single hit dari album ini, adalah satu-satunya lagu yang paling minimalis karena hanya diiringi oleh piano. Meski terdengar sederhana, Copeland masih menawarkan daya magisnya. Like a Lie kembali memukau saya. Chorus-nya terdengar  bukan seperti Copeland, tapi cocok dengan mereka. Chiromancer kembali mengingatkan saya pada You Are My Sunshine, terlebih lagi dengan kehadiran vokalis perempuan yang mendampingi Marsh. Like I Want Youmenutup Ixora dengan manis. Paduan synth, gitar, dan iringan orkestranya berbaur tanpa ada tubrukan yang menganggu telinga.

Rate: 4.5/5. Secara keseluruhan, Copeland bertambah dewasa dalam Ixora. Mengutip dari salah satu ulasan, tiap lagu di dalamnya adalah sebuah perjalanan. Dikemas dalam tampilan yang minimalis, Ixora menawarkan kesederhanaan yang tidak biasa. Sebuah album yang layak didengar setelah penantian yang cukup panjang.

 

erl.

image

[Review] The Sun of Pandora by A.F.F.E.N

image

Track list:

01. Emily
02. Home
03. Last Lullaby
04. Like Life’s Easily Ended
05. Same Sky
06. Pulang (bonus track)

*

A.F.F.E.N stands for Anatomy for Fabulous Emergency Noise, tetapi beberapa bulan yang lalu mereka mengganti nama menjadi Troü dengan formasi baru. Have I mentioned they’re from Bandung? “The Sun of Pandora” sendiri rilis dua tahun 2012, berisi enam lagu yang membawa nuansa berbeda untuk telinga saya.

I sum it as indie-pop/post-rock, meski saya menemukan berbagai aliran musik dalam “The Sun of Pandora” (saya juga melabeli musik mereka dengan aliran ‘mengawang-awang’). Dimulai dari “Emily” yang pada awalnya dreamy, lalu mengentak di akhir dengan kor ‘lalalalala’. Kemudian “Home” yang mengingatkan saya dengan kenyamanan rumah.

“Last Lullaby” somehow reminds me with Copeland’s song dengan lirik yang terdengar seperti nasihat seorang ibu (All she ever said / Was to live my life in happiness / She hates to see me sad). “Like Life’s Easily Ended”–the single hit–menjadi lagu yang menurut saya sing-a-long able dengan lirik yang mudah diingat (the “it’s gonna rain” chorus, especially). Lagu berikutnya, “Same Sky”, dengan satu baris yang mendorong saya untuk sesekali mendongak ke arah langit (“As long as I know you’re smiling there / Under the same sky“). Ditutup dengan “Pulang” yang merupakan versi Bahasa Indonesia dari “Home” (saya juga lebih suka dengan lirik “Pulang”, terutama di bagian Ke tempat di mana bertemu / Segala bentuk balas rindu).

Secara keseluruhan, saya menikmati “The Sun of Pandora”. Musik yang dibawakan Troü seperti representasi dari kota di mana saya lahir dan tinggal sekarang. There is a little bit of traditonal atmosphere on the guitar, fully on the dreamy, magical voice (kadang terdengar seperti nyinden), with modern heavy drum beats. Don’t forget the cello–the epic cello.

Rate: 4/5. Kalau kalian warga Bandung atau ingin bertualang di kota ini, saya merekomendasikan “The Sun of Pandora” untuk masuk ke dalam playlist.

erl.

[Review] Troü

mtf_qbDXf_107[1]
Troü performed last night at Sasana Budaya Ganesha, Bandung.
Troü adalah salah satu band lokal favorit saya. Memang agak telat, sih, karena baru mendengarkan Troü (waktu itu namanya masih AFFEN) sekitar pertengahan April 2014. Show terakhir mereka dengan nama AFFEN digelar pada awal bukan Juni 2014 dan sialnya saya melewatkan pertunjukkan mereka di Dago Tea House karena sedang magang. Jadi saat mengetahui kalau Troü mengisi salah satu acara besar di Sabuga kemarin malam, tanpa banyak pikir saya langsung pergi ke sana.

Saya mendapatkan informasi jika Troü akan tampil sekitat pukul tujuh malam. Tapi, dasar Indonesia yah, mereka baru naik sekitar pukul delapan kurang sepuluh menit. It’s okay, saya masih bertahan, kok, untuk merasakan euforia dari permainan mereka. Setelah basa-basi singkat dari dua MC, Troü akhirnya naik ke atas panggung.

20140719_200930
Troü

Troü membawakan beberapa lagu favorit saya seperti “Emily”, “Another Dream Story”, “Kisah Teduh Membius Biru”, dan “Like Life’s Easily Ended”. Dua lagu yang terakhir saya sebutkan tadi sukses membuat rambut-rambut tipis di tangan merinding. Sejak kali pertama mendengarkan Troü, saya masih nggak ngerti kenapa vokalis mereka, Hariz, punya suara yang seperti itu. Saya tidak bisa mendeskripsikannya seperti apa, jadi mungkin kalian bisa mendengarkan beberapa lagu mereka di sini.

“Berhenti” dipilih menjadi lagu pamungkas. ‘Jatah’ selama setengah jam jelas terasa kurang untuk saya. Namun, saya senang melihat penampilan mereka yang apik dengan sound bagus–kolaborasi sempurna untuk sebuah short gig yang memukau. Semoga saya bisa menyaksikan penampilan-penampilan Troü selanjutnya.

 

erl.

 

We Want (Para)More!

Selama beberapa bulan terakhir, saya seolah ditarik kembali ke masa-masa berseragam – baik biru maupun abu-abu. Bukan karena reuni, tapi ‘kebangkitan’ beberapa band favorit saya bersama beritanya.

My Chemical Romance bubar. Fall Out Boy reuni. Motion City Soundtrack ditinggal drummer. A Day to Remember menggelar tur.

Terakhir, Paramore merilis album keempat mereka.

Ini kejutan. Selepas ‘Brand New Eyes’ (2009), band ini diterpa ombak musibah. Salah satunya, yang paling menggemparkan, adalah minggatnya Farro bersaudara. Saya jadi pesimis. Dua pertiga napas Paramore ada pada tangan Zac dan Josh. Jadi, saat mengetahui Paramore tengah merampungkan album baru, saya hanya geleng-geleng kepala.

Sampai kemudian self-titled album mereka dirilis tanggal 9 April 2013. Saya penasaran, perubahan apa yang Paramore – dengan tiga personil seperti Yeah Yeah Yeahs, sekilas – sajikan. Tadi pagi, saya menikmati secangkir kopi bersama Paramore dan…

…ya, Tuhan. Hayley Williams berhasil mematahkan semua ekspektasi buruk saya.

Dari seluruh album yang pernah mereka produksi, ‘Paramore’ adalah yang terbaik. I ate those tracks in one sit! Tujuh belas lagu – terbanyak yang pernah mereka masukan juga – yang memukau.

“Grow Up” seolah menjadi tamparan Hayley untuk Farro bersaudara (some of us have to grow up sometimes / and so, if I have to, I’m gonna leave you behind //). Sementara “Still Into You” membuat siapapun jatuh cinta (I should be over all the butterflies / but, I’m into you //). Nomor “Ankle Biters” membawa napas pop-punk yang amat kental. Hayley lalu membuai saya dalam ballad berjudul “Hate to See Your Heart Break”.

Yang unik, ada tiga interlude terpisah dalam album ini. “Moving On”, “Holiday”, dan “I’m Not Angry Anymore” menarik senyum saya dengan alunan ukulelenya.

Ah, beberapa band memang sepantasnya tumbuh dan berkembang – seperti para penggemarnya. Kendati Paramore masih pincang karena belum menemukan personil pengganti, mereka telah tumbuh dengan baik dan lebih dewasa.

erl.

***

‘Paramore’

Rate: 4/5

They will take an eargasm: “Fast in My Car”, “Now”, “Grow Up”, “Ain’t it Fun”, “Still Into You”, “Proof”.