project · writing

[Blog Tour and Giveaway] Day 3: Riset dan Penerbitan

day3

Halooo! Sampai juga kita di hari ketiga blog tour The Playlist. Setelah kemarin membahas tokoh-tokoh utama di dalam ceritanya, sekarang saya bakal mengupas riset dan proses penerbitan The Playlist. [Baca juga: Day 2: Meet the Characters]

Research is a must–bahkan untuk sesuatu yang hanya muncul dalam satu kalimat. Karena tokoh utama The Playlist adalah food writer, otomatis saya harus mencari tempat-tempat makan di Bandung. Sebenarnya ada banyak nama yang saya jelajahi, tapi empat tempat di bawah ini yang berperan besar dalam The Playlist.

1. Bober Cafe

Bober Cafe bukan sekadar tempat lahir The Playlist, tapi juga inspirasi saya saat merancang beberapa tempat fiktif di dalam cerita, yaitu La Belle Luna dan No. 46. Konsep homey dan interiornya saya pakai buat No. 46, sementara lokasinya saya sematkan untuk La Belle Luna. Omong-omong, saya sudah jadi pelanggan tetap di Bober Cafe sejak tahun 2011.

Alamat Bober Cafe: Jl. R.E. Martadinata No. 123, Bandung.

2. Perky Pedro

Kalau kalian sudah baca The Playlist, berarti kalian juga tahu bagian saat Winona mengunjungi sebuah restoran Meksiko di sekitar Jalan Riau. Yes, that place used to be existed and it was called Perky Pedro. Seperti yang digambarkan Winona, nuansa Meksiko di tempat makan ini sangat kental. Saya sendiri suka sama desain eksterior dan interiornya yang penuh warna. Sayangnya, Perky Pedro sekarang sudah tutup. Padahal burrito-nya beneran enak. 😩

Alamat Perky Pedro: Jalan Riau No. 128A, Bandung (yha, tapi sekarang bukan Perky Pedro lagi).

3. Fuku Ramen

Seperti halnya Bober Cafe, Fuku Ramen menjadi tempat lahirnya beberapa ide untuk The Playlist. Pokoknya kalau ada adegan yang ambil tempat di ramen house, referensinya ke sini, hahaha. Masih ada satu lagi kedai ramen di sekitar Jalan Riau yang jadi inspirasi saya untuk menulis salah satu bagian di The Playlist, yaitu Hakkata Ikousha. By the way, chicken cashu ramen di Fuku Ramen terbaik sekaleeeh.

Alamat Fuku Ramen: Jalan Pasirkaliki No.71 A, Bandung.

4. Mie Aquarius

Bab Yamin Pangsit dan Egg Benedict mengambil latar tempat di Mie Aquarius. Tempatnya agak nyempil, tapi kalau kalian pergi dari arah Taman Flexi (astaga, Taman Flexi banget), bakal kelihatan, kok, tempatnya. Mi ayam di sini memang bukan yang terbaik di kota Bandung, tapi lokasinya yang paling mendukung untuk bab tersebut.

Alamat Mie Aquarius: Jalan Sultan Tirtayasa 1, Bandung.

**

To be honest, proses penerbitan The Playlist tidak sepanjang penulisannya. Saya menulis draf baru The Playlist bulan Februari 2016 dan diterbitkan secara berkala di Storial dan Wattpad sampai akhir Juni 2016. Saat itu, jangankan diterbitkan secara cetak, sanggup menuntaskan The Playlist saja sudah bikin saya senang. Perasaan dihantui selama hampir satu tahun langsung hilang begitu menyentuh akhir cerita. Surreal.

Selang beberapa hari setelah The Playlist selesai, saya mendapatkan surel dari editor Grasindo. Isinya memang tidak serta-merta menawarkan The Playlist untuk terbit. Saya sempat menawarkan dua naskah yang sudah rampung ditulis saat itu dan ternyata The Playlist yang dipilih.

Kesannya kok gampang banget, ya? Padahal enggak sih. Saya cemas luar biasa setelah menyerahkan naskah The Playlist ke tangan penerbit. Apa ini memang waktu yang tepat? Memangnya The Playlist layak terbit? Memangnya saya sudah sesiap itu, ya, melepas The Playlist ke lautan lepas yang lebih ganas? Percayalah, kadar deg-degan yang saya rasakan saat mengurus penerbitan The Playlist sebenarnya lebih mengarah ke kecemasan dibandingkan excitement.

Jadi, saat ditanya bagaimana perasaan saya tentang terbitnya The Playlist, jawaban saya masih sama seperti saat saya menuntaskan cerita ini: surreal. Karena, seperti yang saya bilang di entri-entri sebelumnya, The Playlist awalnya hanya akan jadi koleksi pribadi. Kalaupun ada niat untuk diterbitkan, sepertinya sih bakal beberapa tahun lagi.

Namun, ternyata takdir berkata lain.

Saya tidak berharap muluk-muluk. Saya ingin pembaca yang akhirnya menyentuh The Playlist dapat menikmati ceritanya. Selama menulis The Playlist, saya juga mendapatkan banyak pelajaran. Mulai dari seluk-beluk penilaian tempat makan (lalu jadi sama rewelnya kayak Winona waktu dengar playlist yang diputar di tempat-tempat tersebut). Mengenal lebih dalam tentang sub-genre foodie romance. Mencoba beberapa resep meski akhirnya gagal. Plus, semakin mencintai kota kelahiran dan tempat tinggal saya sekarang, Bandung.

Hmm, ini tadinya mau curhat panjang, tapi jadinya cuma segini. Eh, tenang. Blog tour & giveaway-nya masih berlanjut. Sila catat tanggalnya dulu:

lttheplaylist

Besok, saya bakal share tentang fun facts The Playlist. Semacam trivia penghibur tentang hal-hal yang menemani saya selama menulis The Playlist.

Sampai ketemu besok!

Regards,

erl.

 

 

 

 

project · writing

[Blog Tour and Giveaway] Day 2: Meet the Characters

day2

Halooo, jumpa lagi di blog tour & giveaway The Playlist! Sesuai janji kemarin, kali ini kita bakal kenalan sama tokoh-tokoh utama di ceritanya. [Baca juga: Day 1: Kisah di Balik Judul]

Saya sempat bingung menentukan sudut pandang untuk The Playlist, tapi pada akhirnya saya memilih sudut pandang orang kesatu. Soalnya waktu pakai orang ketiga, narasinya malah terkesan kaku (mungkin efek dari menulis skripsi itu). Menulis dari sudut pandang orang kesatu tidak terlalu sulit, karena saya tidak perlu ‘pindah-pindah’ ke tokoh lain. Kekurangannya, saya bisa bikin pembaca bosan kalau si tokoh utama hanya berputar di tempat-tempat yang sama.

Syukurnya tokoh utama di The Playlist, Winona, adalah food writer yang sering mendapat tugas meliput tempat makan di Bandung. Jadi, sekalian menjelajah spot-spot kuliner oke saat riset.

Nah untuk lebih jelasnya, kita dalami masing-masing profil dari para tokoh The Playlist dan inspirasinya berikut ini.

Winona Firnandita, 25 tahun, food writer

1-winonaWinona sudah lama saya simpan di daftar nama dan begitu ide The Playlist lahir, saya serta-merta mengambil nama tersebut. Is that name special for me? Bisa dibilang begitu. Saya dulu punya teman bernama Winona. Kami sebenarnya hanya berinteraksi lewat Facebook, tapi sayangnya dia menghapus media sosialnya saat saya ingin kembali berkomunikasi. Selain itu, namanya terdengar klasik dan… cantik(?).

Winona is actually an average woman. Sosoknya sering saya temukan pada wanita-wanita dewasa kekinian di Bandung; punya pekerjaan oke, lingkup sosial luas, dan kehidupan asmara yang menjanjikan. Oh, tapi tentunya kehidupan Winona di The Playlist tidak semulus itu. Di awal cerita, kalian akan menemukan sosok Winona yang sedang berada di dalam kubangan duka dan berusaha untuk keluar dari sana.

Penokohan Winona juga mendapat pengaruh besar dari beberapa karakter fiksi lain. Salah satunya Gretta, tokoh utama di film Begin Again. Selama menulis draf awal The Playlist, saya selalu membayangkan sosok Keira Knightley dengan wardrobe kece di film tersebut sebagai Winona. Namun saat menulis ulang draf The Playlist, referensinya mulai bergeser sampai saya menemukan sosok Kiko Mizuhara.1-winona-kei

Ethan Aryadi, 27 tahun, jurnalis musik

3-ethan

Ethan adalah sosok mantan terindah yang bikin Winona selalu salah tingkah di awal cerita. Nah, dibandingkan Winona, penokohan Ethan melewati banyak perubahan. Ada perbedaan jauh di antara Ethan versi draf awal dengan Ethan versi buku. Kalian yang sempat membaca The Playlist di Wattpad tahun 2015 pasti bisa merasakan perubahan karakter si tampan ini. Hmm, gimana bilangnya, ya? Well, he was a little bit… naughty? :))

Lantas, kenapa pada akhirnya saya merombak penokohan Ethan? Karena kalau saya tetap pakai karakternya yang dulu, cerita The Playlist enggak akan maju-maju. Chemistry Ethan dengan Winona yang terlalu kuat juga sempat bikin saya bimbang buat menentukan nasib mereka berdua. Kayaknya emang susah ya bikin tokoh mantan terindah yang bentar-bentar bikin galau. *eh, gimana?*

Ethan is heavily influenced by Xavier from Chinese Puzzle. Dalam film ini, si aktor ganteng Romain Duris berperan sebagai penulis asal Perancis yang nekat berkelana ke Amerika Serikat. Sepertinya gaya hidup Xavier yang terbilang bebas ini masuk juga ke Ethan dan bikin saya kewalahan sendiri. Tapi, filmnya bagus, kok. Unsur romance-nya berbeda dari film-film Amerika dan terkesan lebih realistis plus unik.3-ethan-rom

Aries Himadri, 29 tahun, pemilik tempat makan No. 46

2-aries

Kalian mau tahu siapa tokoh yang bikin saya frustrasi selama menulis The Playlist? Yes, Aries. Dibandingkan Winona dan Ethan, Aries sangat, sangat sulit ‘didekati’. Di draf awal, Aries sebenarnya lebih bersahabat dibandingkan versi buku, tapi enggak tahu kenapa pas nulis ulang drafnya, dia kembali tertutup. Lebih malah. Saya nyaris membuatnya jadi lebih terbuka, tapi kayaknya enggak bakal seru, deh.

Salah satu hal yang membuat karakter Aries cukup kompleks adalah latar belakangnya yang sangat suram. Selain itu, pengalaman yang Aries alami akan membuatnya jadi tokoh yang riskan. Sebagian dari kalian mungkin akan menganggapnya aneh, tapi mungkin ada juga yang biasa-biasa saja. Syukurnya saat The Playlist menyentuh pertengahan cerita, Aries mulai mau membuka diri. Jadi saya enggak kelamaan frustrasinya.

Lalu KENAPA Seth Rogen? Personal, sih: saya suka Seth Rogen. Apalagi waktu dia main film drama Take This Waltz. Di flm ini, Seth berperan sebagai Lou, chef dan penulis buku yang suka masak ayam. In other words, Aries is fully inspired by Lou. Lalu berkat jumlah fangirls yang terus meningkat, Aries yang tadinya enggak ganteng-ganteng amat bertransformasi dari koki tampan di versi buku. :))2-aries-sethWah, panjang juga curhatnya.

Selain tiga tokoh utama di atas, kalian juga akan bertemu beberapa tokoh pendamping yang ikut mengisi The Playlist. Bahkan salah satunya bakal jadi penting di paruh terakhir cerita, jadi simak baik-baik setiap kemunculan tokoh-tokoh figuran di The Playlist, okeeeh.

Omong-omong, tiga film di atas juga menjadi referensi saat saya menulis draf awal The Playlist, terutama Take This Waltz. Bukan karena pilih kasih karena Seth Rogen-nya, ya, tapi alurnya benar-benar bikin gemas dengan akhir cerita yang tanpa diduga bikin saya nangis kejer. Hampir sama dengan Begin Again, cuma Waltz itu… ah, sudahlah. Kalau kalian penasaran, sila tonton.

Yak, terima kasih sudah menyimak sesi perkenalan tokoh-tokoh utama The Playlist. Jangaan lupa catat tanggal blog tour & giveaway-nya.

lttheplaylist

Besok akan bahas apa? Saya bakal cerita lebih dalam tentang riset dan proses penerbitan The Playlist. Termasuk tempat-tempat yang saya kunjungi untuk latar tempat di cerita. Penasaran? Makanya jangan lupa buat pantengin Twitter, ya!

Regards,

erl.

 

project · writing

[Blog Tour and Giveaway] Day 1: Kisah di Balik Judul

day1

SEBAGIAN dari kalian mungkin bertanya-tanya, “Kenapa judulnya The Playlist?” “Kenapa kavernya kayak enggak berkaitan sama judulnya?” “Itu spageti atau ind*mie?”

Well, yeah, I mean, look:

Tentunya saya punya alasan memilih The Playlist sebagai judul novel kedua yang baru terbit pertengahan September lalu. Gagasan awal The Playlist lahir saat saya sedang makan di Bober Cafe. Sebelumnya saya memang suka menyimak lagu-lagu yang diputar di tempat makan, tapi baru hari itu pertanyaan ini melintas:

Apakah musik latar di restoran atau kafe bisa mempengaruhi atmosfer tempat dan suasana hati pengunjung?

**

Sebelum kemunculan The Playlist, saya pernah mengira kalau musik latar di tempat makan sebagai aksesori untuk meramaikan suasana. Mungkin ada juga yang ditujukan untuk menghibur dan menarik lebih banyak orang lewat live music dari para musisi lokal. Namun saat menulis The Playlist, saya malah jadi penasaran. There must be a reason. Sampai kemudian, seorang teman saya mengirim tautan artikel yang ditulis Anggung Suherman/Angkuy (Bottlesmoker).trigger

So triggering.

Ternyata di Amerika Serikat dan Eropa, beberapa penelitian dilakukan untuk menemukan hubungan antara musik dengan produktivitas. Selain itu, lagu-lagu yang mereka putar di restoran atau kafe tidak asal dipilih alias diseleksi untuk membangun suasana tempat dan membuat pegunjung betah (atau kembali lagi ke sana). Kalau kalian penasaran, sila baca artikel lengkapnya di sini.

Long short story, musik latar ternyata memang punya pengaruh terhadap atmosfer tempat makan dan suasana hati pengunjung. Bahkan lebih. Nah, hal ini yang kemudian saya pakai untuk membangun karakter Winona, food writer yang juga jadi tokoh utama The Playlist. Berbeda dari food writer kebanyakan, Winona selalu memberikan penilaian terhadap lagu-lagu yang diputar di tempat makan.

Lantas dari sana, saya menciptakan satu konflik yang akan Winona hadapi di dalam The Playlist:

Apa yang akan Winona lakukan saat dia datang ke tempat makan yang tidak memutar musik latar?

**

Begitu.

Huh, cuma segitu ceritanya?

Dibandingkan ATHENA: Eureka dan naskah yang baru saya selesaikan, The Playlist memang tergolong ringan, karena mulanya saya menulis cerita ini untuk koleksi pribadi dan melatih kembali kemampuan saya dalam kisah-kisah fiksi. Kebetulan saat itu saya baru selesai merampungkan skiripsi dan saat kembali ke fiksi… kok yah tulisannya jadi kayak jurnal ilmiah. Heheh.

Makanya sampai sekarang saya tidak menyangka kalau The Playlist bisa diterima banyak pembaca, bahkan diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Padahal rencananya bukan The Playlist yang bakal saya jadikan novel kedua, tapi sepertinya sudah jadi takdir Winona dan kawan-kawan buat jadi ‘adik’ ATHENA. Walau idenya sederhana, drama yang mengiringi kelahiran The Playlist lumayan banyak. Namun, biarlah saya yang menyimpan suka-duka itu, hahaha. Kalian tinggal nikmati versi akhirnya saja, yak.

Nyes, that’s all folks, pembuka dari blog tour dan giveaway The Playlist hari ini. Bukan cuma cerita, kalian juga berkesempatan buat mendapatkan satu eksemplar novel bertanda tangan. Jadi, catat tanggalnya, ya. Jangan sampai ketinggalan.

 

lttheplaylist

Besok, kita bakal kenalan sama tokoh-tokoh The Playlist. So, stay tuned!

Regards,

erl.

 

ps: bab satu The Playlist bisa kalian baca di Storial dan Wattpad.

project · writing

Tentang Bandung: [10] Alasan untuk Pulang

Well this is my home

Won’t you come and stay here

Well this is my home

Won’t you stay and save me

“Kalian tahu, sebenarnya kita tinggal di sebuah mangkuk besar dari masa prasejarah.”

Ketika saya masih duduk di bangku kuliah, seorang dosen pernah menceritakan asal mula Kota Bandung. Beberapa legenda mengatakan kalau kota ini lahir dari letusan gunung berapi yang menciptakan kaldera besar. Dari sana, lahir sebuah danau, hingga satu dan dua peristiwa lain membuat airnya surut dan mengeringkan danau tersebut sampai dasar.

“Kalau kalian lihat, Bandung sebenarnya dikelilingi pegunungan tinggi dan kita tinggal di dasar danau besar tersebut.”

Saya menengok sekilas keluar jendela dan mengamati puncak Tangkuban Parahu yang menjulang tinggi. Membayangkan pegunungan-pegunungan lain mengelilingi kota ini—seolah melindunginya dari ancaman dan marabahaya.

*

Berbicara tentang harapan, saya tidak bisa mengatakan jika Bandung tempo kiwari telah memenuhi semua angan para penduduknya. Saya juga tidak menampik jika kontribusi walikota sekarang, Ridwan Kamil, telah mengubah Bandung dan menarik berbagai tanggapan dari masyarakat luas. Di sisi lain, saya juga khawatir. Kelak, saat masa jabatan Ridwan Kamil habis, apa euforia akan rasa bangga ini juga akan lenyap?

Apa harapan-harapan kami akan Bandung yang lebih baik akan memudar?

Saya pikir kerja sama antara masyarakat dan pemerintahnya sangat diperlukan dalam membangun kota agar terus berkembang ke arah positif. Pemerintah yang terbuka dan tahan banting serta warga yang dapat memberi dukungan dengan kritik membangun adalah kombinasi sempurna, bukan?

Maka, siapapun pemimpinnya nanti dan sebanyak apa masyarakat yang tinggal di Bandung, saya berharap kami bisa tumbuh dewasa untuk menghidupkan semua harapan itu menjadi nyata.

*

Kadang, saya ingin tahu alasan Tuhan menempatkan saya untuk lahir dan besar di Bandung. Bagaimana kalau saya lahir di Athena atau Mekah? Jika saya tidak ditakdirkan untuk tinggal di kota ini, apa saya akan bertemu mereka—orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup saya sampai sekarang? Apa kondisi finansial saya akan lebih baik atau buruk kalau saya bekerja di kota lain? Apakah kota-kota lain memiliki kadar kenyamanan seperti Bandung?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengambang tanpa jawaban, sampai saya mengamati bagaimana orang-orang begitu terkesan dengan Bandung. Kata kangen dan betah bertebaran dalam setiap ucapan. Aku pengin kerja di Bandung. Kapan aku bisa tinggal di sana? Saya bukan orang Bandung, tapi selalu suka lihat keadaan di sana.

Apakah Bandung memiliki semacam jampi-jampi dan menyisipkannya untuk mereka yang pernah menapaki kota ini, meski hanya sedetik?

Namun, kemudian, mereka secara tidak langsung telah menjawab semua pertanyaan saya tadi.

Karena saya pantas menerimanya.

*

Sepuluh hari dengan sepuluh tema berbeda tidak akan pernah sanggup mewakili bagaimana pikiran dan perasaan saya terhadap Bandung. Kota ini menjadi saksi dari tangis, tawa, kecewa, bangga, takut, berani yang pernah dan akan terus berada dalam diri saya.

Kota yang selalu menjadi tujuan utama saya untuk pulang.

Sumber: nyonyakotaro.com

*

Here in your home

Can you see me so close

Let away your fears go

Put you peace in my soul

Peace in my soul

(Home – Polyester Embassy)

project · writing

Tentang Bandung: [9] Mencari Ketenangan di Kineruku

Aku patung, mereka patung

Cangkir teh hangat namun kaku dan dingin

Meja-meja kayu mengkilap

Wajahmu dibasahi air mata yang dilukis

Sebenarnya, saya bukan tipe yang senang jalan-jalan ke tempat wisata. Padahal, Bandung menyediakan banyak tempat rekreasi dan hiburan—mulai dari yang modern seperti Trans Studio Mall hingga kembali ke alam seperti Taman Hutan Raya Juanda. Di akhir pekan, objek-objek wisata seperti itu akan dipadati banyak orang dan itu berarti satu hal: saya akan menghindarinya mati-matian.

Saya punya versi sendiri untuk rekreasi dan hiburan. Karena saya tidak suka tempat ramai, destinasi saya untuk melepas penat harus memiliki syarat ini: lengang. Tapi, bukan berarti saya pergi ke pemakaman. Tempat ini hanya perlu menyediakan ketenangan untuk menyegarkan kembali otak saya sebelum kembali ke kehidupan nyata.

Salah satu destinasi favorit saya adalah Kineruku.

*

Sumber: kineruku.com

Di Bandung, ada beberapa perpustakaan plus kafe yang, tentunya, akan jauh dari kebisingan bagi para pengunjung. Namun, sejauh ini, belum ada yang bisa membuat saya jatuh hati dan betah seperti Kineruku. Perpustakaan ini terletak di Jalan Hegarmanah No. 52. Aksesnya bisa dibilang gampang-gampang susah, sebab Kineruku tidak terletak di tepi jalan besar. Bagi yang punya kendaraan pribadi, cukup belok dari jalan utama (Jalan Setiabudhi) dan angkoters seperti saya harus jalan dulu kurang lebih satu kilometer dari seberang McDonald Setiabudhi.

Tidak seperti rumah-rumah mewah di sekitarnya, Kineruku adalah perpustakaan berkonsep vintage yang bikin saya—dan pengunjung lain—larut dalam nostalgia. Selain buku-buku yang diatur sesuai genre-nya dalam rak kayu dan batu, saya juga menemukan rilisan musik dari piringan hitam, kaset, hingga CD, serta koleksi film di ruangan berbeda.

Desain interiornya juga bikin saya kepincut. Ada botol-botol bekas yang diatur sedemikian rupa di meja, dengan kursi-kursi serta sofa tempo dulu. Di bagian belakang Kineruku, para pengunjung dapat menikmati bacaan mereka sambil makan atau sekadar mengerjakan tugas dengan ditemani alunan musik.

Sumber: freemagz.com

*

Bicara soal makanan, Kineruku juga menyediakan menu santap yang murah dan enak. Favorit saya sampai sekarang adalah omelet dan wedang jahe. WEDANG JAHENYA JUARA. Tapi, harus diminum selagi hangat, karena kalau sudah dingin, rasanya jadi kurang oke. Selain itu, di Kineruku juga sering diadakan pertunjukan musik, diskusi buku, dan nonton film bareng.

Kalau mulai bosan baca atau mengerjakan tugas, kita bisa rehat sebentar dan mengunjungi Garasi Opa di taman belakang Kineruku. Di sana, kita bisa melihat dan membeli barang-barang vintage seperti mesin tik, buku-buku tua, hingga kacamata bergaya retro. Pecinta barang vintage dijamin kalap dan bisa lupa diri jika berkunjung ke Garasi Opa.

Oh ya, di Kineruku ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi pengunjung. Seperti menaruh tas dan helm pada laci di teras rumah (ada kuncinya dan pastikan jangan hilang). Dilarang mengambil foto dengan kamera profesional, kecuali sudah minta izin untuk keperluan khusus seperti prewed atau acara tertentu (saya sudah pernah ditegur langsung, nih). Kineruku juga tidak menyediakan wi-fi, jadi kalau mau koneksi internet gratis, sila cari tempat lain yaaa.

Sumber: freemagz.com

*

Setelah mengunjungi Kineruku beberapa kali, saya jadi pengin punya perpustakaan dan kafe kecil seperti itu suatu saat nanti. Saya ingin mempunyai tempat yang menawarkan ketenangan dan kenyamanan untuk orang lain. Dan, Kineruku, sekali lagi, menjadi alasan saya untuk jatuh hati pada Kota Bandung.

Sumber: kineruku.com

*

Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia

Tapi kita dalam diorama

Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah

Tapi kita dalam diorama

(Diorama – Tulus)

project · writing

Tentang Bandung: [8] Pancakaki

Time is a mystery

Space is a myth

Can’t be sure where you’re going

The darkness tells me nothing

Dalam masyarakat Sunda, pancakaki sudah menjadi ritual yang tidak bisa dilepaskan. Biasanya, saat bertemu orang baru, kami akan mengulik asal-usul orang tersebut. Keluarganya, tempat tinggal, sekolah, pergaulan…. Jika orang itu menyebutkan satu nama yang kami kenal atau sekilas tahu, kami otomatis akan bilang, “Eh, dia itu temennya sepupuku. Ternyata dunia sempit, ya.”

*

Mungkin pancakaki juga berlaku di suku atau etnis lain, tapi proses saling kenal ini begitu melekat bagi saya sebagai orang Sunda. Sejak kecil, saat berada di tengah family gathering, saya selalu mendengar obrolan-obrolan mengenai s A yang masih dari punya hubungan darah dari keluarga B, atau si C yang ternyata saudara jauh dari D. Bahkan, salah satu kakak ibu saya menikahi perempuan yang masih kerabat (sangat) jauh dari keluarga adik nenek.

Namun, karena (lagi-lagi) introver, saya tidak terlalu peduli jika si A ternyata masih punya ikatan saudara dengan saya. Saya juga sering ditegur jika tidak salim dengan tetua yang disebut aki di tengah keluarga. Untuk formalitas dan sopan-santun, saya seringnya hanya cium tangan atau setor wajah sebentar saat keluarga besar sedang berkumpul, lalu menghilang ke tempat sepi. Maka, tidak heran jika saya kurang dikenal oleh anggota keluarga lainnya.

I haven’t seen them before, so why should I care?

*

Kemudian, dua tahun silam, saya mencatut nama Natawiria yang tercantum di nisan kakek  untuk nama pena. Dan, ya, saya tidak tahu siapa sosok Natawiria ini. Saya pikir, almarhum adalah tetua dari pihak ibu; buyut saya jika almarhum ayah dari ibu. Setelah itu, novel debut saya lahir dengan nama itu tercantum dan tersebar ke tengah publik.

Pada bulan-bulan pertama sejak novel tersebut terbit, saya belum merasakan impact yang amat besar dari nama pena selain respons pembaca di media sosial.  Hingga kemudian, ibu memberi kabar tentang tanggapan keluarga Natawiria tentang nama pena saya.

Tunggu, saya terkejut, mereka masih ada?

Ternyata, Natawiria bukan sekadar nama buyut saya, tapi juga sebuah keluarga besar dari pihak kakek. Dari obrolan ibu dengan kerabat dari keluarga tersebut, mereka tidak keberatan saat tahu saya menggunakan Natawiria sebagai nama pena (syukurlah, saya tidak tahu harus berbuat apa kalau mereka malah balik menuntut saya).

Salah satu keturunan dari keluarga Natawaria memberitahu jika buyut saya adalah seorang prajurit di masa perang, guru bahasa, dan seniman. Sejak saat itu, beberapa anggota dari keluarga Natawiria menghubungi saya melalui media sosial dan menunjukan apresiasi mereka terhadap karya saya.

Oke. Pancakaki nyatanya tidak semenyeramkan yang saya pikirkan selama ini.

*

Na

Kendati begitu, saya masih sedikit terintimidasi saat berada di tengah family gathering. Saya tidak bisa sembunyi lama-lama lagi, sebab pasti ada satu atau dua orang kerabat yang menanyakan perihal kelanjutan karya saya. Saya juga kadang menelusuri dari mana nama Natawiria berasal.

Karena, bagaimanapun juga, sekarang saya telah membawa nama keluarga dan harus menjaganya baik-baik ke manapun saya pergi.

*

We’re walking on a different tracks 

Heading to a different space and time

And I can see you’re doing okay

(Telescope – Hollywood Nobody)

project · writing

Tentang Bandung: [7] Lalu Lintas Kenangan

I know that you’re very nice

Never ever tell me lies

You’re always there to comfort me

And cheer me up when I am down

Lalu lintas di sekitar Balai Kota, Bandung
Lalu lintas di sekitar Balai Kota Bandung

Selalu ada alasan untuk jatuh cinta di Kota Bandung.

Entah dengan keramahan orang-orangnya, tempatnya, atmosfernya, makanannya…. Setiap orang menorehkan kisah dan menyimpan kenangannya di sudut yang berbeda. Mungkin, di sebuah ruangan kelas saat dia duduk di bangku SMA. Mungkin, di sebuah pohon tua yang terletak di pusat kota.

Bagi saya, memori-memori itu terpatri dalam lalu-lintas Kota Kembang.

*

Jalan Merdeka
Jalan Merdeka

Saya lupa kapan kebiasaan itu dimulai, tapi ingatan paling jelas mengatakan saya mengawalinya sejak di bangku kuliah. Ketika itu, saya jatuh cinta, lalu patah hati dalam hitungan bulan. Saya tidak pernah mengencani pria-pria ini, karena, katakanlah, saya hanya memuja mereka secara diam-diam.

Kemudian, begitu tahu mereka sedang kasmaran dengan gadis lain, kebiasaan ini muncul. Saya menjadi sensitif terhadap jalan-jalan yang pernah saya—dan kami—lewati. Rute-rute yang saya ambil untuk bertemu demi sebuah kencan. Saya jadi amat emosional dan, tidak tahu malu, menangis di pojok angkot.

Jalan Merdeka menjadi saksi bisu dari sebagian besar kegagalan kisah asmara saya. Di sana, saya pernah menghabiskan waktu bersama pria bermata indah pada malam-malam cerah. Tanpa sadar diserang Cupid setelah menonton film dengan teman dari satu jurusan. Atau sekadar mengingat kembali bagaimana saya bisa terpikat dengan si berengsek sambil mengamati padatnya kendaraan dari jembatan penyeberangan.

Dan, kendati lalu-lintas di Bandung semakin padat, saya belum merasa bosan untuk menikmatinya. Ketika lengang—dan cukup waras untuk tidak terbawa perasaan—saya menghabiskan waktu di jalur pedestrian sambil melihat mobil dan motor lalu-lalang. Masa-masa seperti itu adalah waktu terbaik saya menjadi diri sendiri.

Sebab, bukankah jatuh cinta kadang mengubahmu menjadi orang lain?

Termasuk saat saya bertemu pria itu.

*

Jalan Dayang Sumbi
Jalan Dayang Sumbi

Sepanjang tahun 2014, saya benci setengah mati dengan Jalan Ir. H. Djuanda. Kami lebih suka menyebutnya dengan Dago. Sebisa mungkin, saya mengambil rute lain saat tahu tempat tujuan saya harus melintasi Dago. Tidak apa-apa meski jauh, yang penting saya bisa menghindar. Tapi, dalam beberapa situasi, saya terjebak dan tidak bisa bergerak ke mana-mana.

Karena, di sanalah kami menyimpan semua kenangan itu.

Di tengah-tengah kemacetan Dago, kami bertukar cerita. Bagaimana dia akan menghadapi ujian Public Speaking. Bagaimana saya magang sebagai asisten editor saat itu. Bagaimana punggungnya sangat mengintimidasi otak saya. Bagaimana saya diam-diam berharap kemacetan ini berlangsung selamanya, agar kami tidak lekas berpisah.

Nyatanya, kami memang sudah berpisah.

Maka, saat melewati trotoar di Dago, saya kadang berhenti. Di minggu-minggu pertama, saya berusaha mati-matian untuk menyembunyikan air mata yang kerap mengalir. Saya terdistraksi cepat kala melihat seorang pria yang mengendarai skuter di jalan. Di tengah keriuhan malam di Dago, saya menjadi orang yang amat kesepian.

Monsieur*, gumam saya, kapan ini akan berakhir?

*

Kadang, saat berpikir saya sudah tak mampu, saya ingin meninggalkan Bandung. Namun, sebelum sempat melakukannya, dia yang angkat kaki duluan.

Meski belum sembuh total, saya sudah sanggup menyusuri Dago. Menyeberangi jalan tanpa khawatir terganggu pria berskuter. Misuh-misuh di lampu merah Simpang Dago. Bertemu teman-teman di salah satu kafe yang berjejal di sana. Rindu itu masih ada; menguar kembali setiap kali saya menatap lalu-lintas yang pernah kami lewati bersama.

Apa dia juga memikirkan hal yang sama?

*

Pagi hari di Simpang Dago
Pagi hari di Simpang Dago

Selalu ada alasan untuk jatuh cinta kembali di Kota Bandung.

Bagi saya, waktunya bukan sekarang. Pun, itu menjadi alasan saya untuk tetap tinggal di kota ini.

*

Sorry honey, my heart is not for you

Sorry baby this love is not for you

Sorry honey, my heart is not for you

Sorry baby this love is not for you

It’s over now

(It’s Over Now – Mocca)

*) Monsieur adalah sebutan tuan dalam Bahasa Prancis

 

project · writing

Tentang Bandung: [6] Sandekala

We’re still remainded
Sometimes by a rain
But can’t no longer say
What it means

 

“Tong kaluar pas sareupna. Bisi ditĂ©wak Sandekala.”

Siapapun yang lahir dan besar di Bandung pasti familier dengan mahluk ini: Sandekala. Termasuk saya. Namanya sering sekali disebut saat saya masih kecil. Kala malam datang beranjak, ibu atau nenek saya pasti akan cepat-cepat menarik saya ke dalam rumah dengan peringatan ‘Jangan lama-lama main di luar jam segini, nanti ditangkap sama Sandekala.’

Saat itu, saya tidak tahu wujud Sandekala seperti apa. Saya manut saja dan masuk ke dalam rumah sebelum maghrib. Kadang, saya sengaja mengintip dari balik jendela saat azan berkumandang. Bertanya-tanya apa mahluk itu sekarang sedang berkeliaran dan, kalau iya, bagaimana rupanya? Mengapa kehadirannya membuat orang tua saya panik?

Sampai beberapa tahun kemudian, saat saya sudah remaja, peringatan itu tidak pernah dilontarkan lagi. Saya juga sadar jika Sandekala hanya sekadar mitos. Mahluk itu konon digambarkan sebagai wanita berbadan besar, dengan wajah menyeramkan, yang kerap menculik anak-anak kecil. Jika anak-anak itu diculik Sandekala, mereka tidak akan pernah bisa pulang lagi ke rumah.

Namun, Sandekala memang ada. Dia bukan lagi sosok wanita menyeramkan dan tidak melulu menculik anak-anak kecil.

Sandekala kini melebur dalam kehidupan; memperdaya manusia dalam tipu muslihatnya.

*

Usia saya hampir 23 tahun dan masih tinggal bersama orangtua serta nenek dalam satu rumah. Sebagai anak pertama, saya selalu membawa kejutan, sekaligus pembelajaran baru bagi orangtua saya. Dan, sebagai anak pertama, ada sederet peraturan ketat yang harus dipatuhi demi menjaga keamanan saya di dalam maupun luar rumah.

Salah satunya adalah jam malam.

Saya harus pulang sebelum pukul sembilan malam*. [*) syarat dan ketentuan berlaku]

Awalnya, saya bisa patuh. Namun, melihat teman-teman saya yang bebas pulang tanpa jam malam lambat laun membuat saya sebal juga. Beberapa di antara mereka maklum, tapi ada juga yang menggoda saya. Saat mereka baru keluar pukul tujuh malam, di jam yang sama, saya malah harus pulang ke rumah.

Kadang, saya memberontak dan hal itu mengundang ayah saya untuk mengeluarkan wejangan selama berjam-jam. Saya pikir, apa salahnya selama saya bisa pulang dengan selamat?

Kekhawatiran orangtua saya nyatanya memang beralasan. Kami tinggal dengan nenek yang kurang bisa beradaptasi dengan kehidupan modern. Baginya, maghrib masih jadi patokan untuk masuk ke dalam rumah dan lewat dari jam itu, tidak boleh lagi ada yang keluar.

Satu hari, nenek pernah bilang, “Dulu mah orang-orang masuk rumah pas maghrib. Naha ayeuna (kenapa sekarang) mah baru pada keluar pas maghrib?”

Meski kami menjelaskannya berkali-kali, nenek tetap pada peraturannya sendiri dan tidak ada jalan selain mematuhinya.

*

Lalu, ucapan nenek malah melekat kuat di benak saya. Ya, kenapa? Memang sebagian pekerja akan pulang sekitar pukul lima atau enam sore. Sebagian lagi—entah kerja, dapat shift malam, atau sekadar hang out—memutuskan berkeliaran saat malam baru datang.

Kemudian, saya teringat dengan Sandekala.

Mungkin, dia masih ada. Dia masih hidup dalam ancaman para ibu yang ingin anak-anaknya segera masuk sebelum sore tiba. Di sisi lain, Sandekala menyaru dalam gaya hidup orang-orang kota. Dia menjadi gemerlap lampu-lampu malam; membius mereka yang masih terjebak di tengah perjalanan pulang.

Malam masih panjang, bisiknya, bagaimana kalau kita minum sebentar? Bukankah ada teman yang ingin kau kunjungi? Bukankah ada pujaan hati yang ingin kau tengok untuk memadu kasih?

Malam masih panjang. Tidak perlu pulang ke rumah sekarang.

Bermainlah bersamaku, sebentar saja.

*

Saya pernah bermain bersama Sandekala beberapa kali. Mengamati kehidupan Bandung di bawah langit malam bersama teman-teman. Bekerja di kafe favorit. Mendekap kekasih saya sebelum berpisah. Terjebak di tengah kerumunan konser.

Namun, semakin larut, semakin sering saya memikirkan nenek.

Dia biasanya tidak akan tidur sebelum semua anggota keluarga ada di rumah. Jika ayah atau ibu mengirim pesan dan menelepon, saya tahu itu artinya nenek mulai ketar-ketir. Maka, saya menjadi orang pertama yang beranjak dari meja saat berkumpul. Saya menjadi orang pertama yang mengakhiri kencan.

Saya menjadi yang pertama melepaskan cengkeraman dari Sandekala.

*

Sekarang, saya kembali ke rutinitas dulu. Hanya sesekali saya keluar sampai malam—itu pun tak pernah lebih dari pukul delapan. Saya tidak perlu ditakut-takuti Sandekala untuk masuk sebelum maghrib.

Saya hanya ingin meyakinkan nenek jika dia bisa tidur nyenyak, karena semua anggota keluarga sudah pulang ke rumah.

*

The sweet and golden dreams all vanished there
In every clime and every sun
The story is never told
White as a birch in the snow of a winter moon

(Solitude – Sarasvati)

project · writing

Tentang Bandung: [5] Nasihat dari Tepi Jalan

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam

Semua nyata hati pun terluka

Gerak ini telah terdiam hati t’lah tertoreh pisau yang keji

Semua nyata akankah kau percaya?

Sudah hampir satu tahun saya meninggalkan bangku kuliah dan selama itu pula saya merasakan jatuh-bangun mencari pekerjaan. Mencari pencaharian yang sesuai dengan minat di Kota Bandung bisa dibilang gampang-gampang susah. Saingannya banyak. Bahkan pekerjaan pertama saya pun bisa dibilang baru bagi saya, meski ada beberapa keterampilan yang saya kuasai dengan baik.

Dan, bicara tentang pekerjaan, ingatan saya kembali pada semester-semester akhir sebagai mahasiswi Sastra Inggris. Saat itu, saya mengambil peminatan Jurnalistik dan mendapat tugas mewawancarai figur unik untuk tugas Jurnalisme Sastrawi. Setelah observasi selama satu minggu, mata saya menangkap sosok tersebut berdiri di seberang jalan.

*

2013-12-14 14.14.47

Namanya Pak Maman, dua tahun lalu berusia 65 tahun, dan bekerja di Bandung Trade Center (BTC) sejak tahun 2000.

Sosoknya sering saya lihat saat berkunjung ke pusat belanja tersebut. Mengenakan rompi berwarna oranye dan topi, Pak Maman berdiri di bagian depan gedung sambil memegang tanda STOP. Dia akan menghampiri pengunjung yang butuh bantuan menyeberangi jalan atau sebaliknya. Lalu lintas di Jalan Dr. Djunjunan memang terbilang ramai dan jembatan penyeberangan terdekat letaknya cukup jauh dari BTC. Jadi, orang-orang seperti Pak Maman sangat dibutuhkan di tempat itu.

Saya sempat grogi sebelum berhasil membuka percakapan pertama. Ternyata, Pak Maman mudah diajak mengobrol. Pembawaannya yang santai dan jenaka lambat laun melunturkan kegugupan saya. Kami memulai obrolan dengan pertanyaan dasar seperti berapa lama dia bekerja di sini dan jumlah gaji yang diterima setiap bulannya.

Obrolan semakin menarik saat saya menanyakan latar belakangnya. Pak Maman, yang tinggal tak jauh dari Jalan Dr. Djunjunan, punya latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang mengagumkan. “Saya pernah kuliah di STHB (Sekolah Tinggi Hukum Bandung) dan kerja di Kimia Farma, tapi akhirnya saya ambil pensiun dini.”

Saya tercengang dan terus mengulik latar belakangnya. Pak Maman memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai dosen Sastra Sunda di salah satu universitas negeri terkenal di Bandung. Dia punya tiga anak—dua laki-laki dan satu perempuan. Dua di antaranya sudah bekerja di Qatar (Qatar, I mean it) dan Jakarta. Sementara si bungsu baru kuliah di sekolah kedokteran.

Untuk menghidupi putra-putrinya sampai ke jenjang setinggi itu, tentu ada harga yang harus dibayar Pak Maman. Dia rela tidak melanjutkan S2 dan memilih untuk bekerja. Dia tidak mau anak-anaknya seperti segerombolan mahasiswa yang baru dia bantu untuk menyeberangi jalan—terlalu sibuk dengan ponsel pintarnya.

“Saya pernah tanya beberapa hal tentang hukum di Indonesia, tapi sebagian besar dari mereka tidak ada yang bisa jawab,” ujarnya miris.

Saya, yang masih penasaran dan kagum, membiarkan Pak Maman terus bicara.

*

Selain menjadi petugas penyeberang, Pak Maman juga punya sambilan sebagai pemandu turis di Hotel Topas. Dia dapat bicara dalam enam bahasa—termasuk Mandarin. Sampai ke topik tersebut, saya yang duduk di sampingnya mulai merasa sangat kecil.

“Bekerja itu harus rida karena Allah, Neng. Selama itu jadi pegangan, kita tidak akan malu apalagi takut,” kata Pak Maman saat saya tanya apa dia pernah merasa gentar saat menjadi petugas penyeberang.

Sebenarnya, saya ingin berbincang lebih lama. Satu jam rasanya tidak cukup. Kalau bukan karena awan mendung yang bergulung di atas kami, mungkin saya tidak akan pergi.

“Pesan saya mah, Neng, rajin belajar, jangan banyak main. Cepet lulus dan jadi orang sukses,” pungkasnya saat menyeberangkan saya ke depan gedung BTC.

Saya mengamininya dalam hati.

*

Dua tahun berlalu dan, sekarang, ada jembatan penyeberangan di samping gerbang utama BTC. Kendati zebra cross di jalan raya masih ada, saya ragu jika fasilitas itu masih dipakai. Dan, yang paling utama, saya penasaran apa Pak Maman dan dua rekannya yang lain masih dipekerjakan sebagai petugas di sana?

Saya mendapat jawaban tersebut saat mengunjungi BTC sebelum bulan Ramadan kemarin. Saya mencoba jembatan penyeberangan—yang tampak masih rapuh—dan menemukan sosok pria tua di ujung jembatan. Masih mengenakan rompi oranye dan topi, dengan segelas kopi hitam di tangan. Saya tidak tahu apa Pak Maman masih ingat atau tidak dengan saya, tapi saya lega luar biasa. Saya senang dia masih bekerja di sini.

Namun, saya terlalu gentar untuk menyapa dan hanya melempar senyum saat berpapasan dengannya.

*

Saya punya respek besar terhadap orang-orang seperti Pak Maman. Saya bukan orang religius, tapi saya percaya kalau rida dari Allah adalah segala-galanya—termasuk untuk bekerja. Maka, berkali-kali saya berusaha meluruskan niat untuk mencari pekerjaan baru.

Pun, saya bersyukur pernah dipertemukan dengan Pak Maman.

*

Inginan bisikan terdalam, celoteh gagak terdengar

Apakah kau kan percaya?

Semua t’lah usai tak terbayang, celoteh gagak terdengar

Daun dan Ranting menuju surga..

(Daun dan Ranting Menuju Surga – The Milo)

project · writing

Tentang Bandung: [4] Cemal-Cemil dari Kota Kembang

Tiada lagi yang kuinginkan lebih dari yang kau berikan
Tak pernah berhenti sekan datang tanpa kuminta
Selalu ada saat kubutuhkan
Apa gerangan yang terlintas
Tataplah ke atas sinar yang terang

Bandung dulu dikenal sebagai Kota Mode; factory outlet yang tersebar di wilayah Dago selalu menjadi incaran para pendatang maupun penduduk aslinya. Saya bukan penggiat fesyen, tapi setidaknya tahu fakta tersebut dari majalah atau novel berseting Kota Kembang.

Itu, beberapa tahun lalu. Kini, setiap kali saya meluangkan waktu untuk refreshing, saya akan menemukan tempat-tempat makan baru. Tidak hanya di pusat kota, puluhan meter dari rumah saya pun ada kedai dan kafe kecil yang disesaki mahasiswa dan pekerja kantoran. Di media sosial, akun-akun sibuk mempromosikan tempat nongkrong baru setiap minggunya. Menu yang dihidangkan pun beragam—dari cara penyajian hingga namanya.

Bandung kini telah menjadi Kota Kuliner.

*

Tema kali ini menguntungkan, sekaligus membuat saya bingung. Apa yang harus saya bahasa? Di mana tempat yang paling cocok mewakili Bandung? Syukurlah, keruwetan saya nerakhir saat Nenek membeli beberapa potong kue lapis.

Ah, jajanan pasar.

Kenapa saya harus pusing memilih tempat, padahal ada penganan-penganan ini di sekitar saya?

1. Kue cubit

Jauh sebelum menjadi tren kekinian, kue cubit hanya dikenal sebagai jajanan murah-meriah di sekolah. Saat saya masih duduk di bangku SD, saya kerap membeli kue cubit. Satu kue harganya lima ratus rupiah (saja). Kue cubit juga bisa dibuat sendiri karena bahan-bahannya tidak terlalu sulit—terigu, telur, gula, dan cetakan khusus. Favorit saya sampai sekarang adalah kue cubit setengah matang yang masih panas (makannya harus diam-diam, takut dimarahi Mama).

Wah, saya baru tahu kalau kue cubit ternyata dari Jakarta.

 

2. Awug

Awug adalah kue khas dari tataran Sunda. Saya dulu kurang suka dengan camilan ini, tapi karena Nenek sering beli, akhirnya saya iseng coba dan malah ketagihan. Awug terbuat dari tepung beras dan gula merah. Rasa gurih dan manisnya akan semakin oke dengan tambahan parutan kelapa. Satu hal yang saya sukai dari awug adalah wangi pandan yang kentara tercium saat penganan ini dihidangakan panas-panas.

 

3. Seblak

Ada yang bilang kalau seblak sebenarnya berasal dari Jawa Tengah, karena mirip krupuk godog dari Sumpiuh. Sebagian besar seblak terbuat dari kerupuk dengan berbagai bumbu, tapi ada yang membuat variasi dari makaroni dan mi. Namun, saya kurang suka pedas dan hanya sesekali menyantap seblak. Plus, seblak favorit saya hanya ada dua: buatan adik saya dan saudara Ayah di Ciwidey.

 

4. Colenak

Jajanan khas Bandung dikenal dengan namanya yang berupa singkatan. Seperti gehu (toge dan tahu) dan cireng (aci digoreng). Colenak alias dicocol enak adalah peuyeum (tapai singkong) bakar yang biasanya dihidangkan dengan gula jawa cair. Saya gandrung dengan hal-hal berbau peuyeum dan jatuh cinta dengan colenak ini. Sekarang, colenak merambah ke buah-buahan seperti durian dan nangka.

Nah, camilan-camilan ini mungkin hanya mewakili sebagian kecil ragam kuliner di Bandung. Karena, ya, rasanya perlu berhari-hari untuk mengulas industri makanan di kota ini.

Selamat menikmati!

Tunjukan apa yang kita cari
Apa yang telah kuberikan
Terbawa angin dan menghilang
Biarkan saja menghilang
Lihat ke atas sinar yang terang

(Elora – Pure Saturday)