music · review

[Review] After Laughter by Paramore

Track List:

1. Hard Times
2. Rose-Colored Boy
3. Told You So
4. Forgiveness
5. Fake Happy
6. 26
7. Pool
8. Grudges
9. Caught In The Middle
10. Idle Worship
11. No Friend
12. Tell Me How

***

Paramore is back!

Ketika mereka merilis Hard Times, saya tidak terlalu kaget. Mungkin karena saya sudah bisa menerima perubahan mereka sejak album self-titled yang dirilis pada 2013. Formasi mereka pun berubah lagi. Vokal masih dipegang Hayley Williams (kali ini dia memulas rambutnya menjadi pirang), Taylor York di sektor gitar, dan… Zac Farro di posisi drum! Kembalinya Zac ke Paramore membuat saya optimis dengan album teranyar mereka, After Laughter.

Paramore rupanya tidak mau berlama-lama menahan After Laughter. Karena beberapa hari setelah Told You Sosingle kedua—dilempar, album kelima mereka menyusul keluar dan membuat sebagian besar penggemar terkejut (termasuk saya).

Astaga, astaga, saya belum siap, tapi saya gregetan pengin mengulik After Laughter.

Dua single pertama yang Paramore luncurkan terdengar menyenangkan dengan beat-beat yang catchy dan akan membuat kalian bergoyang. Akan tetapi, semuanya tidak akan sama lagi begitu kalian menyimak liriknya. Di Hard Times, Hayley memulai lagu dengan All that I want / is to woke up fine. Sementara di Told You So, pembukanya lebih mencengangkan lagi: For all I know / the best is over and the worst is yet to come.

What?

Saya masih mengira After Laughter akan kaya akan sentuhan funky dan pop ala tahun 80-an. Nah, anggapan saya lantas dipatahkan oleh tiga judul setelah Told You So, because they had me like:

 

Dalam Fake Happy yang penuh kepalsuan, misalnya (And if I go out tonight, dress up my fears / You think I’ll look alright with these mascara tears?).  Atau 26, balada yang sebenarnya terdengar optimis, tapi tetap sukses bikin saya merinding (Reality will break your heart / Survival will not be the hardest part / It’s keeping all your hopes alive). Kemudian ada Pool yang terdengar manis, tapi nyatanya menyayat-nyayat hati (You are the wave, I could never tame / If I survive, I’ll dive back in).

Keceriaan yang saya rasakan di awal album semakin memudar memasuki paruh terakhir album. Di sisi lain, Paramore tetap mengejutkan saya. Lewat No Friend, Hayley menyerahkan sektor vokal sepenuhnya kepada Aaron Weiss, vokalis mewithoutyou. Yep, dalam lagu ini, kalian akan mendengar monolog Aaron di tengah alunan bas, gitar, yang kelam (I see myself in the reflection of people’s eyes / Realizing what they see may not be even close to the image I see in myself).

Seolah-olah ingin meninggalkan pendengar dalam ketidakpercayaan, Paramore menutup After Laughter dengan Tell Me How yang… yah, akan membuat kalian patah hati. Dengan dentingan piano sendu (yang mengingatkan saya pada lagu-lagu muram Copeland), Hayley bersenandung, You may hate me but I can’t hate you / And I won’t replace you.

And thus, I have mixed feelings about Paramore’s fifth album.

Penggemar Paramore yang sangat menyukai mereka sebelum Farro bersaudara minggat mungkin akan kecewa, karena… tf, where’s the pop-punk, rock songs they used to perform? Namun, ada juga penggemar yang menganggap After Laughter sebagai album yang menunjukkan kedewasaan Paramore. Terlihat dari lirik-liriknya yang—terlepas dari kepiluan yang begitu mendominasi—lebih matang dan membuat saya semakin mengagumi musikalitas mereka.

After Laughter akan menjadi album yang memecah penggemar menjadi dua kubu: yang enggak suka dan suka banget. Saya? Saya jelas ada di kubu suka banget. Menurut saya, perubahan yang terjadi di After Laughter adalah bukti dari usaha Paramore menghadapi dan menyelesaikan masalah yang mengadang. Ada kesakitan, kekecewaan, dan keputusasaan yang tidak pernah saya rasakan di album-album sebelumnya. Namun melalui After Laughter, Paramore seakan-akan pengin bilang mereka bisa bertahan meski tidak bisa menyelesaikan semua perkara dengan baik.

Kalau kalian penasaran dengan After Laughter, please, have a listen. Mendengarkan album ini akan terasa seperti jalan-jalan ke pantai, tapi tiba-tiba terhalang hujan deras. Lantas, alih-alih pulang ke rumah, kalian malah diam di tengah guyuran hujan; merenungkan kembali tentang makna kehidupan.

Regards,

erl.

Life · review

[Review] Cari Tempat Buat Menulis di Bandung? 4 Kafe Ini Bisa Jadi Jodohmu

bandungcafe

Setelah menulis The Playlist, saya sering mendapatkan pertanyaan seputar tempat makan oke di Bandung. Saya agak kebingungan menjawabnya, karena jumlah kafe, kedai, dan restoran di Kota Kembang selama 2-3 tahun semakin banyak. Sepertinya setiap beberapa hari atau minggu sekali pasti ada tempat makan yang tutup, muncul, atau pindah lokasi. Kalau sudah begini, saya biasanya mampir ke kafe atau restoran langganan saja. Haha.

Omong-omong, tempat makan langganan saya bukan sekadar kafe atau restoran buat numpang makan, mengobrol, atau foto-foto. Tempat-tempat itu harus memenuhi satu syarat mutlak ini: nyaman buat dipakai sebagai lokasi menulis. Jadi kalau lagi bosan kerja di rumah, saya pasti meluncur ke sana.

Saya sudah pernah menulis daftar kafe/restoran di Bandung yang oke buat dijadikan tempat menulis, tapi kayaknya harus diperbarui lagi. Setelah melakukan seleksi (enggak, deh, lebih tepatnya mengingat-ingat saking banyaknya tempat yang saya kunjungi), berikut ini saya persembahkan daftar 4 kafe di Kota Kembang yang bakal bikin kalian betah kongko dan menulis berjam-jam.

  1. Kineruku

Teman-teman yang kenal saya dan baca artikel ini pasti langsung menggumam, “Sudah kuduga.”

Kineruku bagi saya adalah sepetak surga yang jatuh ke Bumi (halah). Tempat ini merupakan perpustakaan kecil bernuansa vintage yang menyediakan berbagai kebutuhan baik bagi pecinta buku, musik, dan film. Ada buku-buku klasik (dan yang enggak akan kalian temukan di toko buku besar); kaset, vinyl, dan CD; koleksi film; sampai merchandise dari musisi-musisi indie. Buat yang pengin baca atau menulis, ada meja dan kursi di ruang tengah dan teras belakang. Terminal buat charging? Aman, ada banyak. Makanan? Enak dan murah. Tapi Kineruku enggak menyediakan wi-fi, lho. Jadi buat fakir kuota, brace yourself.

Untuk mencapai Kineruku memang butuh perjuangan. Cuma ada satu angkot yang masuk ke Jalan Hegarmanah dan itu pun jarang banget. Kalau kuat, kalian bisa jalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer. Lumayanlah, hitung-hitung olahraga (heh).

Kineruku

Jalan Hegarmanah 52, Bandung

Buka: Senin, Rabu-Sabtu (11.00-20.00 WIB), Minggu (11.00-18.00 WIB)

Tutup setiap hari Selasa

 

2. Little Wings Café & Library

Little Wings Cafe & Library, Bandung. Photo repost from @puspariani

A post shared by Little Wings Cafe & Library (@littlewingsbdg) on

Kesan pertama saya saat datang ke Little Wings: Wah, berasa masuk ke dunia dongeng.

Little Wings adalah rumah tiga lantai yang berdiri di atas tanah yang agak miring. Di lantai satu, kalian bakal ketemu sofa-sofa cantik dan barang-barang vintage kayak typewriter. Lantai dua lebih mirip kafe biasa dengan dominasi kayu yang bikin suasana hangat dan nyaman. Nah sementara lantai tiga di-set kayak kamar, karena kalian akan menemukan kasur di sana! Enggak heran kalau Little Wings sering dipakai buat tempat pemotretan karena konsepnya yang unik. Tapi, kalian yang ke sini buat menulis pun enggak akan terganggu, kok.

Seperti halnya Kineruku, mencapai Little Wings bukan perkara mudah. Kalian akan bertemu jalan meliuk-liuk dan juga tanjakan. Untungnya, sih, ada satu angkot yang sering lewat di sekitar Cigadung meski hanya sampai pukul 4-5 sore.

Little Wings Book Cafe 1st Floor. Photo repost from @mlsgstn

A post shared by Little Wings Cafe & Library (@littlewingsbdg) on

Little Wings Café & Library

Jl.Cigadung Raya Barat no. 2, Bandung

Buka: Selasa-Jumat (12.00-21.00 WIB), Sabtu dan Minggu (12.00-23.00 WIB)

Tutup setiap hari Senin

 

3. Pillow Talk Cafe & Comfy

Inside the white house you will find happiness . . . Like our Facebook Page at Pillowtalkcoffeeandcomfy . . #Pillowtalkcafe #coffeeshop

A post shared by Pillow Talk Coffee & Comfy (@pillowtalkcafe) on

Mencari ketenangan di pusat kota Bandung kini tidaklah mustahil berkat kehadiran Pillow Talk Cafe & Comfy.

Berlokasi di kawasan hits anak muda di Kota Kembang, Pillow Talk jadi salah satu tempat menulis baru favorit saya di pusat kota. Untuk menemukan tempatnya, kalian bisa menjadikan Taman Panatayuda sebagai patokan. Dari muka, Pillow Talk mungkin kelihatan kayak kafe kebanyakan. Akan tetapi, begitu masuk ke dalam, kalian bakal terkesima sama desain interiornya. Minimalis, dengan dominasi warna hitam-putih dan ada sentuhan klasik dari aksen kayunya. Selain sofa-sofanya yang bikin betah, ada dua ceruk lesehan di samping jendela yang bagus banget buat dipakai sebagai latar foto.

In other words, Pillow Talk is Instagram-able. Menunya? Sama-sama kece, kok. Sebagian besar hidangan yang mereka sajikan adalah camilan, tapi ada juga makanan berat buat kalian yang pengin langsung kenyang.

Pillow Talk Cafe & Comfy

Jalan Haji Hasan Nomor 12 (Taman Panatayuda), Dipatiukur, Bandung

Buka: Minggu-Kamis (09.00-22.00 WIB), Jumat-Sabtu (09-00-23.00 WIB)

 

4. Nimna Book & Café

Mahasiswa ITB yang lagi asik ngumpul 👅☕🍪🍝🍮

A post shared by Nimna Book Café (@nimnabookcafe) on

Potongan surga yang baru saja turun di sekitar Gegerkalong.

Dibuka awal tahun 2016, Nimna Book & Café adalah lokasi menulis baru favorit saya kalau lagi malas ke pusat kota (apalagi kalau lagi macet-macetnya). Di sana ada kursi-kursi tinggi yang menghadap jendela, pojokan tersembunyi, dan tempat lesehan dengan latar rak berisi buku-buku kece (koleksinya masih sedikit, tapi recommendable semua). Menurut teman saya yang rajin datang ke Nimna Book & Café, kalian bisa, lho kongko tanpa pesen makanan. Cuma harus bayar Rp15.000 dengan bonus free flow infused water biar tetap sehat.

Dibandingkan tiga tempat lainnya, lokasi Nimna Book & Café lebih strategis. Patokannya ada di pertigaan Hotel Gegerkalong Asri. Masuk ke Jalan Sukahaji dan carilah gedung dengan logo Nimna Book & Café di depannya.

Nimna Book & Café

Jalan Sukahaji 126, Bandung

Buka: Rabu-Kamis (09.00-21.00 WIB), Sabtu dan Minggu (11.00-23.00 WIB)

Tutup setiap hari Senin dan Selasa

*

Untuk urusan perut, keempat tempat ini menyediakan menu dengan harga terjangkau, sekitar Rp10.000 sampai Rp50.000 (ada beberapa yang di atas Rp50.000, tapi biasanya makanan berat porsi besar). Plus, musik latar di keempat kafe ini oke-oke  (in case you’re wondering). Kecuali Kineruku, tiga kafe lainnya menyediakan wi-fi gratis.

Terakhir dan yang paling penting: kalian enggak bakal diusir meski mau nongkrong sampai tempatnya tutup.

Ya, itulah 4 kafe di Bandung rekomendasi dari saya buat kalian yang pengin nongkrong atau menulis. Kalau kalian punya masukan, mari bagi-bagi lokasinya. Siapa tahu belum saya kunjungi dan ternyata cocok buat dijadikan tempat menulis.

Regards,

erl.

Life · music · review

[Review] Satu Jam Lebih Dekat Bersama Yuna

yuna

Tadinya, tadinya, saya mau rehat dari dunia perkonseran di tahun 2016. Ingat umur (enggak juga sih). Lagi pula, musisi-musisi favorit saya kalau tidak hiatus, ya bubar. Jadi kecil kemungkinan mereka mampir ke Indonesia buat menggelar konser.

Namun, semuanya langsung patah begitu Copeland main di Kampoeng Jazz di akhir bulan April.

Lalu keyakinan saya semakin digerus saat Kahitna jadi bintang tamu di pensi SMA Bandung bulan September.

Seolah belum cukup, muncul Yuna yang menghelat konser perdananya di Bandung tanggal 3 Desember 2016.

Aaah, persetan. Sepertinya saya masih butuh suntikan euforia konser meski antusiasmenya tidak sebesar saat kuliah dulu.

*

Tadinya, tadinya, saya tidak akan menonton Yuna. Selain karena mengurus kelahiran buku ketiga saya—Lara Miya—saya juga enggak sanggup beli tiketnya. Rp500.000 buat seorang freelancer itu besar dan saya punya prioritas di atas tiket konser. Saya lantas melepas Yuna (sama Mae juga sebenarnya).

Kemudian, dua hari sebelum konser Yuna digelar, Tari menawarkan barter.

Enggak perlu saya jelaskan isi kesepakatannya seperti apa, yes. Intinya, sih, saya mendapatkan tiket konser Yuna dan Tari memperoleh bayaran yang—katakanlah—setimpal. Heheh.

Berbeda dengan konser Copeland, untuk menonton Yuna, saya tidak menyiapkan sesuatu yang spesial. Saya juga enggak stalking penyanyi asal Malaysia itu karena siangnya sibuk mengurus book talk Vinca Callista di DU 71A. Rencana saya begitu selesai dengan book talk: kongko sebentar di Dago > pergi ke Dago Tea House sama Tari > nonton Yuna > pulang.

Nyatanya, realita tidak berbicara sesederhana itu.

*

Saya dan Tari sampai di Dago Tea House menjelang maghrib (by the way, konsernya di venue luar). Satu yang saya syukuri, cuaca Bandung saat itu relatif bersahabat; hanya berawan di siang menjelang sore hari. Gate dibuka beberapa menit setelah azan maghrib dan antreannya tidak segila konser-konser yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

Sebenarnya, saya lebih suka venue dalam, karena lebih intimate dan tentunya bisa melindungi penonton kalau hujan turun di tengah konser. Sementara venue luar jelas mengekspos kami pada angin malam di kawasan Dago yang kurang santai. Jarak dari amfiteater ke panggung juga jauh, jadi mustahil bisa ambil foto-foto bagus.

20161203_182052
Jauh, kuuuy~

Sambil menunggu kedatangan Yuna, saya dan Tari sempat mengobrol dengan dua penonton lain yang duduk di depan kami. Duh, sayang saya lupa nama mereka, tapi kami sempat berkenalan dan cerita banyak hal. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendapatkan pengalaman ini saat hendak menonton konser: punya teman-teman baru.

Obrolan kami terputus kala Indah Nada Puspita, opening act kesatu, muncul. Nada membawakan beberapa lagu dengan baik, termasuk Rather Be dari Clean Bandit. Opening act kedua adalah girlband berisi tiga teteh-teteh hijabers dari Noura. Dari segi musikalitas, opening act untuk konser Yuna lumayan bagus. Setidaknya mampu bikin kami terhibur daripada karatan menunggu Yuna yang baru naik panggung pukul setengah sembilan malam (harusnya pukul delapan. Well, Indonesia).

Sebelum Yuna, anggota band pengiringnya naik satu per satu; langsung mengundang teriakan dari arah penonton. Kemudian saat sang bintang utama muncul di tengah sorot lampu panggung, kami bersorak semakin keras.

Yuna sepertinya tidak suka dengan jarak yang terbentang di antara dirinya dengan penonton. Lantas, dia mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya. Dalam hitungan detik, semua orang berlari ke bibir panggung. Serta-merta, saya dan Tari sudah ada di baris kedua. Menakjubkan bagaimana saya, bukan hanya tiba-tiba bisa lari cepat, tapi juga mampu menaiki undakan tanpa terjatuh.

Luar biasa.

*

Places to Go dipilih menjadi pembuka konser. Sejujurnya, saya baru mengulik lagu-lagu Yuna tahun ini karena akunnya sering di-mention Aaron Marsh, vokalis Copeland. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada musiknya yang fresh. Simpel, tapi selalu sukses bikin hati bergetar *aih.

Perfomance Yuna di atas panggung pun tak kalah memesona. Dalam balutan busana berwarna hitam dan putih keperakan, Yuna terus bergerak dari satu sisi ke sisi stage; melantunkan beberapa tembang andalan dari album terbarunya, Chapters. Lantas sebelum membawakan Time, Yuna membagi kisahnya saat mengikuti beberapa kontes bakat di Malaysia.

20161203_204859
Look at that funny face

“Saya pernah bertanya kepada Ibu, Kenapa saya tidak pernah lolos saat mengikuti ajang pencarian bakat?, lalu Ibu membalas, Semua akan datang tepat pada waktunya, Sayang,” ujarnya. Sesuai dengan lirik yang Yuna senandungkan dalam Time:

It takes time
It takes a little time, baby
It will be fine,
It takes time, baby

Memang terbukti, kan? Sekarang, Yuna jadi salah satu penyanyi R&B dari Asia yang sukses melebarkan sayap sampai ke Amerika Serikat.

Selepas Mountains, Yuna menyanyikan nomor favorit saya dari Chapters, Crush. Dalam versi albumnya, lagu ini dibawakan bersama Usher. Namun, meski malam itu Crush hanya dibawakan oleh Yuna, sensasi merinding yang saya rasakan saat kali pertama mendengar lagu ini masih ada. You know it has to be a great song when it gives you chill.

20161203_205001

Atmosfer konser yang tadinya menyenangkan seketika menjadi pilu saat Yuna membawakan lagu-lagu sendu. All I Do, misalnya, yang hampir bikin saya menangis di tengah kerumunan. Hanya bersama sang gitaris, Yuna melantunkan setiap kata dari lagu ini dengan emosi yang bikin saya luluh lantak. Belum lagi Used to Love You yang tak kalah menyayat hati.

Yuna tentunya enggan menutup konser dengan kesedihan. Mendekati akhir acara, penyanyi berusia 30 tahun ini mempersembahkan lagu-lagu ceria seperti Terukir di Bintang (“Boleh tidak saya bawakan lagu berbahasa Melayu?” tanyanya sebelum memulai lagu tersebut). Kemudian, Live Your Life—yang dipilih menjadi lagu pamungkas—mengajak para penonton untuk ikut berjoget sebelum Yuna mengucapkan terima kasih dan turun dari panggung.

20161203_205322

“Tapi, tenang. Kita bertemu lagi di luar, ya,” katanya. “Nanti kita bisa swafoto bareng. Saya juga akan kasih tanda tangan di poster dan album.”

20161203_210758
Yuna during “All I Do”

Ya, tapi apalah artinya nonton konser tanpa mengeluarkan koor andalan: we want more, we want more, we want more. Entah berapa lama kami meneriakan tiga kata sakti itu. Sampai sang drummer muncul untuk membereskan alat-alatnya dan memberi isyarat pada kami: enggak, enggak akan ada lagu lagi.

Kami masih menunggu. Namun, rupanya dia benar.

Yuna tidak naik lagi ke atas panggung.

*

Konser Yuna memang berlangsung singkat—13 lagu selama kurang lebih satu jam lebih sekian menit. Walau begitu, saya suka cara Yuna saat berinteraksi dengan penonton. Dia sangat lepas di atas panggung; aktif bergerak (saking aktifnya sampai susah ambil foto bagus, hahaha), mengajak kami menyanyi bersama, dan terus menebar senyum.

Saya sampai bilang, ‘She is so cute, sweet, and humble it huuurts’ berkali-kali kepada teman-teman yang tidak sempat menonton konser ini. Yuna pun menepati janji untuk berswafoto ria dan membubuhkan tanda tangannya pada signing session yang diadakan di luar venue (terus, riasan wajahnya masih bagus aja).

Secara keseluruhan, konser Yuna di Bandung tanggal 3 Bandung 2016 kemarin sangat, sangat mengesankan. Mungkin jadi salah satu yang paling intimate yang pernah saya rasakan. Panggung boleh minimal, tapi penampilan Yuna sangat maksimal. Lighting and sound system are on point too. Nyaris tidak ada hambatan selama acara berlangsung. As a promoter, you made it, Kiosplay!

20161203_212057_2

*

Dear, Yuna, terima kasih sudah menyajikan konser akhir tahun yang indah dan hangat. It is not a crush anymore, because we have already fallen in love with your music and perfomance. Like, so hard.

So, please, visit us again next time!

Regards,

 

erl.

ps:

Terima kasih untuk Tari dan kesempatan-kesempatan mahalnya tahun ini (hahaha); akang dari Sumedang dan teteh mahasiswi Sastra Inggris UNPAD yang menemani saya serta Tari ngobrol sebelum acara dimulai; Abi untuk tebengannya sepulang konser (have a nice time in Europe! Tolong beresin naskahnya juga, ya. Thanks).

review · writing

[Blog Tour and Giveaway] Day 4: Fun Facts and Stuff

day4

Wah, ternyata sudah sampai hari keempat blog tour The Playlist.

Seperti yang disebutkan di entri sebelumnya, kali ini saya akan memberi fun facts The Playlist. Trivia ini berisi inspirasi-inspirasi yang terpakai dan yang terpaksa dibuang, kejadian-kejadian yang menginspirasi beberapa bab di dalam cerita, daaan tentunya lagu-lagu yang saya dengarkan selama menulis The Playlist. [Baca juga: Day 3: Riset dan Penerbitan]

Yak, kita mulai trivianya!

  • Saya sempat menulis dua versi The Playlist: versi satu adalah draf awal yang saya lanjutkan (diunggah di Wattpad) dan versi dua adalah draf baru (diunggah di Storial). Apa bedanya? Versi satu bergelimang adegan NSFW, sementara yang versi dua sudah dibikin lebih soft. Lantas, saya memilih versi dua karena lebih mudah dikerjakan dan yang di Wattpad pun akhirnya mengikuti versi terakhir;
  • Karena hanya berstatus selingan, The Playlist mulanya saya rencanakan terdiri dari 30 bab. Satu bab juga enggak panjang-panjang amat, sekitar 500 sampai 800 kata. Makanya terasa pendek, tapi ternyata menurut beberapa pembaca durasinya pas untuk cerita online. Eh, nyatanya semakin dilanjutkan, malah semakin panjang. Draf final The Playlist (termasuk yang di buku) terdiri dari 34 bab dan epilog, dengan panjang lebih dari 38.000 kata (tergolong panjang untuk sebuah cerita fluff);
  • The Playlist adalah cerita pertama yang berhasil saya tuntaskan secara online! Saya sudah mencoba menerbitkan cerita secara berkala di Wattpad, tapi tumbang sebelum klimaks dan akhirnya dihapus, atau malah diunggah sekaligus, lol;
  • Sebelum jadi buku, The Playlist tayang dua kali seminggu–setiap hari Senin dan Kamis. Jadwal ini sudah saya terapkan sejak cerita tayang di Wattpad, tapi gagal dan akhirnya berhenti total. Kemudian, saya unggah ulang di Storial tanggal 15 Februari 2016 dengan jadwal yang sama. Iseng sih, lagian waktu itu drafnya baru sampai bab 8. Eh ternyata satu minggu setelah tayang di Storial, The Playlist malah masuk Pilihan Editor. Lantas saya pikir kalau sudah begini, mau enggak mau cerita harus diselesaikan. Apalagi jumlah pembacanya mulai bertambah;

pe

  • Penerapan jadwal tayang The Playlist terinspirasi dari Webtoon. Sebagian komik di sana punya jadwal tayang yang bervariasi: mulai dari satu kali seminggu sampai setiap hari. Namun yang bikin greget justru yang update setiap satu atau dua kali seminggu. Satu yang saya amati, komik-komik dengan jadwal tayang tersebut justru yang bikin pembaca setia menunggu, terutama kalau gambar dan ceritanya sama-sama menarik. Selain itu, saya juga masih menyesuaikan diri dengan The Playlist, jadi butuh waktu yang agak lama untuk benar-benar masuk ke dalam cerita;
  • Tayang dua kali seminggu enggak berarti minim tantangan, lho. Ada kalanya saya malas, tapi kadang juga pengin update sebelum jadwal. Beberapa kali saya absen karena sakit atau harus mengurus hal pribadi. Tapi so far, proses dan tantangan itu yang membuat saya menikmati The Playlist. Makanya berat pas nulis bagian-bagian akhir;
  • Nah, masih berkaitan sama Webtoon, ada satu tokoh dari Cheese in the Trap yang membantu saya saat membangun karakter Aries: Yoo Jung. Jung sama-sama misterius kayak Aries. Bedanya, Jung jauh lebih mengintimidasi dan punya aura yang lumayan bikin merinding.

jung1

  • Ada beberapa pembaca yang tanya, “Kenapa tempat makannya Aries dikasih nama No. 46? Apa Aries atau penulisnya penggemar [Valentino] Rossi?” Lol, enggak. Saya malah baru tahu itu nomornya Rossi dan pemilihan nomor itu benar-benar random. Tapi buat kalian yang emang suka sama Rossi, anggaplah kebetulan ini sebagai hadiah.

  • Sebagian tempat makan di The Playlist memang ada di Bandung, sebagian lagi setengah fiktif, dan sisanya seratus persen fiktif. No. 46–sebagai salah satu tempat fiktif yang sering saya pakai di dalam cerita–terinspirasi dari berbagai tempat. Selain Bober Cafe, saya juga pernah membayangkan No. 46 seperti rumah baker yang ada di film Kiki’s Delivery Service, tapi enggak kesampaian dipakai;

  • Di draf awal, saya sempat menceritakan kalau Winona menyukai hal-hal yang berkaitan dengan astronomi. Tapi saat saya mulai menulis, poin ini malah tidak dikembangkan dan tenggelam di paruh terakhir The Playlist. Poin ini juga yang melatarbelakangi beberapa penamaan tokoh plus julukannya di dalam cerita. Salah satunya, yang paling jelas, ya Aries. Sayang, sih, tapi ya udahlah;
  • Ada banyaaak lagu yang saya dengarkan selama menulis The Playlist, tapi ada satu album yang memberi pengaruh kuat untuk ceritanya. Everyone, let me show you one of the greatest albums I’ve ever listened: Ixora by Copeland;

  • Oh, saya sempat menyusun playlist berisi kumpulan lagu yang menginspirasi saya saat mengembangkan cerita The Playlist. Silakan dicari:

playlistsong

  • Saya sempat membuat beberapa ide alternatif untuk The Playlist. Saat sedang stuck dengan draf awal, saya pernah menulis satu bab The Playlist yang dituturkan dari sudut pandang orang ketiga dan gagal dengan suksesnya. Aries hampir saya buat menjadi seorang fotografer makanan yang nantinya bakal menemani Winona liputan (lalu cinlok, and the rest is history). Satu lagi, yang paling mengejutkan dan masih tertulis jelas di catatan outline lama The Playlist: saya pernah merencanakan Aries jadi mantan pacar Ghina–sahabat Winona. Untung enggak diwujudkan karena ceritanya bakal a n e h;
  • Apakah ada sekuel untuk The Playlist? Ya. Tidak. Eh? Some readers demand for sequel dan saya mengerti alasan mereka menginginkan lanjutan cerita ini. Saya juga sebenarnya gatal ingin menjelaskan banyak hal yang tidak sempat dituangkan di The Playlist. Saya akan menulis lanjutan The Playlist tahun depan, tapi tidak lagi dituturkan dari sudut pandang Winona dan saya enggak tahu apakah cerita ini nantinya akan naik cetak seperti The Playlist;
  • Lantas sekarang, saya sedang mendalami tokoh Aries lewat Nights with Aries yang terbit secara berkala di Storial dan Wattpad. NWA bukan sekuel; lebih ke kumpulan side story. Buat kalian yang belum baca The Playlist, mungkin akan ada beberapa bab yang jatuhnya jadi spoiler. Makanya beli dulu The Playlist (berujung dengan shameless promotion).

By the way, kalian juga bisa mengintip inspiration board The Playlist di akun Pinterest saya.

Are we done yet? Nope. Sesi blog tour bersama saya memang berakhir hari ini, tapi akan dilanjutkan oleh Asri selama dua hari ke depan sebelum nanti ditutup sama sesi Q&A. Makanya jangan lupa catat tanggalnya, ya!

lttheplaylist

Siapkan diri kalian untuk sesi giveaway!

Regards,

 

erl.

review · writing

[Review] 8 Komik Webtoon yang Akan Membuatmu Jatuh Cinta

Halo, kembali lagi di ulasan komik-komik Webtoon! Sudah satu tahun lebih saya gandrung baca komik-komik di platform ini dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda bakal bosan membacanya. Kenapa? Karena jumlah komik baru dengan ide dan gaya penceritaan yang oke makin banyak, yalaaaa. (Baca juga: 7 Komik yang Harus Kalian Baca di Webtoon)

Webtoon menyediakan komik-komik dari berbagai genre yang bisa dipilih sesuai dengan selera kalian. Mulai dari fantasi, horor, thriller, drama, komedi, slice of life, superhero, action, dan yang akan saya bahas di entri ini: romance. Sebagai salah satu genre yang paling diminati, jumlah komik romance di Webtoon bisa dibilang paling banyak; bersaing ketat dengan drama, komedi, dan thriller.

Kalau kalian masih newbie di Webtoon dan pengin baca kisah cecintaan yang tidak biasa, di bawah ini saya rekomendasikan delapan komik romance di Webtoon; dari versi bahasa Inggris dan Indonesia.

Cheese in the Trap (Soonkki) | Rate: 9.60 | Terbit setiap hari Minggu

cheese-minggu

Seol Hong is a hard-working student, who has returned to college after a long break. Jung Yu is a senior at the college known as Mr. Perfect. Seol feels like her life took a turn for the worse since she got involved with Jung. Is Jung intentionally turning Seol’s life?

Cheese in the Trap bukan sekadar komik tentang hubungan cowok tampan dan cewek biasa ala drama Korea (tapi komik ini pun dari Korea). Selain hubungan Hong Seol dan Yu Jung, pembaca juga akan bertemu dengan orang-orang di sekitar mereka, termasuk kakak-beradik Baek yang temperamental, In Ha dan In Ho. Awalnya saya kurang menikmati Cheese in the Trap karena alurnya lambaaaat dan porsi kilas balik yang terlalu banyak. Tapi setelah dibaca ulang, dua hal tadi justru jadi nilai tambah yang membuat saya bertahan mengikuti Cheese in the Trap.

Cheese in the Trap sudah masuk Season 4 dan kalau kalian enggak mau capek baca versi komik, ada dramanya, kok, meski enggak terlalu saya rekomendasikan. Satu lagi, yang paling menyenangkan dari Cheese in the Trap adalah plotnya yang melahirkan banyak asumsi dan hipotesis dari para pembacanya. Termasuk teka-teki retaknya hubungan Yu Jung dan In Ho yang masih belum terjawab sampai sekarang.

Siren’s Lament (instantmiso)| Rate: 9.70 | Terbit setiap hari Sabtu

siren-sabtu

Content with her ordinary life, Lyra is somewhat of a wallflower. However, her comfortable lifestyle suddenly goes astray when she accidentally plunges into the world of sirens. Entangled in a curse, Lyra will learn that her world may be a lot bigger than she had ever imagined.

Penggemar Where Tangents Meet pasti sudah tidak asing dengan Sirent’s Lament. Karya kedua dari instantmiso ini memang berbeda dari Tangents yang nuansa cintanya cukup kental. Sementara di Siren’s Lament, kita akan bertemu kisah romance berbumbu fantasi yang membuatnya terasa lebih segar. Seperti judulnya, instantmiso memakai siren, mahluk mitos setengah wanita setengah burung untuk Sirent’s Lament. Dalam mitologi Yunani, siren dikenal sering membuat pelaut dan nelayan tak sadarkan diri dengan nyanyian mereka sampai kapal korban hancur tertabrak karang.

Sementara di Sirent’s Lament, pembaca akan bertemu siren yang, umh… tampan. Tapi gara-gara si siren bernama Ian, hidup Lyra yang sebelumnya datar-datar saja berubah 180 derajat setelah dia tanpa sengaja terikat perjanjian yang mengubahnya menjadi siren. Sejauh ini saya masih menikmati Siren’s Lament, karena selain gambarnya yang tipe saya banget, ada background music di setiap cerita dari kennycomics yang semakin menghidupkan cerita.

Super Secret (eon) | Rate: 9.81 | Terbit setiap hari Rabu

super-rabu

The boy next door, friends for life, is actually a werewolf!

Super Secret is a kind of comic that will make you go ‘uuunch’ all the way. Gaya berceritanya pun agak berbeda dari komik kebanyakan di Webtoon, karena Super Secret menggunakan format 4coma untuk setiap babnya. Oh dan ini bukan cerita macam vampir bling-bling versus segerombolan shape-shifter ala Twilight, ya. Super Secret adalah komik romance ringan yang menceritakan tentang Emma (Eunho di versi Korea) yang bersahabat baik dengan Ryan (Gyeonwo di versi Korea) sejak mereka masih kecil.

Terlihat klise? Memang, tapi yang membuat cerita ini unik adalah twist supernatural yang sang komikus perlihatkan sejak awal cerita. Emma yang clumsy dan polos tidak sadar kalau selama ini orang-orang di sekitarnya adalah jelmaan mahluk-mahluk yang selama ini kita kenal dalam mitos dan legenda. Selain sosok Ryan si werewolf, pembaca akan bertemu dengan apsara, penyihir, gumiho, sampai Frankenstein. Sekilas bikin seram, ya, tapi karena genre-nya romance, twist tersebut yang membuat Super Secret jadi manis  sekaligus magis.

Miss Abott and the Doctor (Maripaz Villar) | Rate: 9.76 | Terbit setiap hari Sabtu

abott-sabtu

Doctor Andreas Marino loves his quiet life, filled with work and simple amusements, and when the strange Miss Abbott arrives in his town he decides he doesn’t like her at all. Unfortunatelly she’s funny and quirky, has an uncommon past and seems to enjoy getting him in trouble. Welcome to a sketchy Victorian rom-com!

Saya sudah mengikuti komik ini sejak masih ada di Discover. Akhirnya setelah menunggu selama lebih dari 50 bab, Miss Abott and the Doctor dipinang Webtoon ke deretan Official. Saat kali pertama membaca, gaya menggambar Villar langsung mengingatkan saya pada tokoh-tokoh Disney. Lalu meski tampil dalam format sketsa  hitam-putih, penokohan Cati / Miss Abott dan Andreas / Dokter Marino yang kuat membuat cerita Miss Abott and the Doctor bukan sekadar menarik, tapi juga ringan dan menyenangkan untuk diulik.

Cati adalah seorang gadis dengan jiwa petualang yang kuat, sedangkan Andreas adalah dokter yang kadang kelewat logis dalam mencerna sesuatu. Mulanya Andreas berusaha mati-matian menghindari Cati. Namun, masalah-masalah yang dibuat Cati justru semakin menyeret Andreas kepada gadis tersebut. Also, one of them is tsundere, so the story is getting cuter in every chapter. Pemakaian latar waktu di zaman Victoria di Miss Abott and the Doctor pun mengingatkan saya dengan beberapa cerita karya Jane Austen.

Sweet EccapE (kiyoshin_) | Rate: 9.69 | Terbit setiap hari Minggu

sweet-minggu

Punya pacar idol?

Kalian fangirl? Berarti Sweet EscapE adalah komik romance lokal yang wajib dibaca. Saya sudah mengikuti cerita Nana sejak masih nongkrong di Webtoon Challenge. Berkat skill menggambar yang oke dan penceritaan mengalir, rasanya tidak berlebihan kalau Sweet EscapE menjadi salah satu komik berkualitas yang kemudian ditarik Webtoon ke bangku Official. Selain itu, komik ini pasti akan membuat para fangirl jadi halu dan delu, sekaligus iri karena pengin punya pengalaman terjebak dengan bias-nya di luar negeri.

Sweet EscapE bercerita tentang Nana, seorang fangirl, yang tanpa sengaja bertemu idolanya, Jun dari JI:NX saat berlibur di Venesia. Sementara itu, Jun ternyata sedang menghindar dari grup dan manajemannya. Dalam situasi yang kepepet, Jun mau tak mau harus berurusan dengan Nana untuk bersembunyi. Lalu Nana, sebagai penggemar… just do what she has to do as a fangirl. Hihi. Sejauh ini, Sweet EscapE sudah sukses membuat pembacanya berkhayal supaya bisa punya nasib seberuntung Nana.

Flawless (Shinshinhye) | Rate: 9.64 | Terbit setiap hari Rabu

flawless-rabu

Sarah, si cewek tangguh tidak sengaja bertemu Elios pemuda tunanetra seusianya. Elios begitu misterius, bikin Sarah penasaran. Apakah Sarah jatuh cinta? Mungkin ada sesuatu di balik ini semua?

Saya suka dua tokoh utama di komik ini, karena mereka sama-sama badass. Sarah adalah remaja yang masih duduk di bangku SMP, tapi jangan berani macam-macam sama dia karena cewek ini tahu caranya berkelahi. Sementara Elios dengan keterbatasannya justru tampil memukau karena sanggup mengembangkan empat indranya yang lain dan membuat pembaca penasaran karena  bagian matanya selalu ditutupi dengan poni. Flawless, seperti gambaran singkat ceritanya, bukan sekadar cerita cinta remaja kebanyakan.

Lewat goresan tangannya, Shinshinhye berhasil menghidupkan Sarah dan Elios sebagai sosok remaja yang tidak biasa, tetapi juga tidak sok dewasa. Mereka menghadapi masalah-masalah yang muncul tanpa meninggalkan kesan anak SMP yang apa adanya. Setiap episodenya membuat pembaca penasaran dan terus menebak apa yang terjadi dengan Sarah dan Elios, serta masa lalu yang membayangi mereka berdua.

Terlambat Jatuh Cinta (xzbonbon) | Rate: 9.65 | Terbit setiap hari Selasa

terlambat-selasa

Populer dan banyak digemari di kampus, itulah Barney. Ia selalu mendengar ungkapan perasaan dari para perempuan, termasuk Elvira. Tapi Elvira ternyata tidak punya waktu lama. Apa yang harus Barney lakukan sebelum terlambat?

Sejak kemunculannya di Webtoon Challenge, saya tahu kalau Terlambat Jatuh Cinta kelak akan masuk jajaran Official. Selain cerita yang enak diikuti, sang komikus juga mempunyai ciri khas pada gambarnya. Sekilas mengingatkan saya kepada Cheese in the Trap karena kedua tokoh utamanya masih duduk di bangku kuliah. Terlambat Jatuh Cinta mengisahkan tentang Barney, cowok yang paling dikagumi satu kampus. Selain tampan, Barney juga cerdas dan pandai bersosialisasi baik dengan teman sampai dosen di kampus tersebut.

Sampai kemudian Barney bertemu dengan Elvira; mahasiswi yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya terhadap cowok tersebut. Di awal cerita, pembaca sudah diberi hint kalau Elvira sedang bertarung dengan sebuah penyakit. Namun yang saya suka dari sosok Elvira adalah… dia tidak bersikap mellow dan menyedihkan. Elvira bukan hanya polos, tapi juga bocor dan kadang bersikap enggak tahu malu di depan Barney. Hal itu yang justru mendekatkan mereka berdua dan membuat pembaca sering bergumam, hasemeleh hasemeleh.

#moments (MOE / Remaja Shoujo) | Rate: 9.46 | Terbit setiap hari Sabtu

moments-sabtu

Kumpulan cerita manis dari curhatan orang-orang di sekitarmu – teman, keluarga, kecengan, mantan, atau bisa jadi ceritamu sendiri (*∀-)☆. Kisah-kisah romantis di balik setiap momen-momen pertemuan dan perasaan yang tertinggal setelahnya…

Sengaja ditaruh paling terakhir, karena saya paling suka komik ini. #moments sudah saya ikuti dari Webtoon Challenge dan butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya mereka tembus ke Official. Berbeda dari judul-judul di atas, #moments mengingatkan saya dengan format antologi cerita pendek. Meski kisahnya berbeda-beda, tetapi ada benang merah yang menghubungkannya. Lalu karena digambar oleh beberapa komikus, pembaca akan bertemu dengan gaya menggambar dan cerita yang baru juga di setiap jilidnya.

Sejauh ini #moments sedang menceritakan kisah para murid SMA yang sedang mengurus sebuah pensi. Satu hal yang paling saya suka adalah ceritanya yang realistis, sehingga membuat tokoh-tokoh dalam komik ini begitu dekat dengan pembaca. Saya sampai pengin balik lagi ke SMA gara-gara membaca #moments. Kemudian, latar tempat sekolahnya ternyata diambil dari salah satu SMA terkenal di Bandung, jadi makin terasa personal buat saya yang tinggal di kota tersebut. Kalau kalian ingin bernostalgia ke masa putih-abu, #moments adalah pilihan terbaik di Webtoon.

Masih ada banyaaak komik romance yang disediakan Webtoon. Kalian bisa ulik langsung di website atau unduh aplikasinya. By the way, ini bukan artikel endorse, ya. Webtoon adalah salah satu wadah buat saya untuk mencari inspirasi dan ada banyak hal yang saya pelajari dari platform ini.

Sekian rekomendasi komik romance dari saya. Kalau ada waktu luang (dan lagi santai seperti sekarang), saya bakal bagikan daftar dari genre lain. Mungkin thriller / horor atau slice of life.

Selamat membaca (dan ketagihan)!

 

erl.

Capture

review · writing

[Review] 7 Komik yang HARUS Kamu Baca di Webtoon

Sekitar lima bulan terakhir, saya gandrung baca komik-komik di Webtoon (padahal dulu sempat sewot baca tagline mereka di Google Play). Alasan unduh aplikasinya pun bukan karena pengin baca, tapi demi dapat koin gratisan (ha ha). Eh, tapi setelah iseng baca satu-dua komik, ternyata seru juga, ya. Lama-lama ngulik yang lain daaaan ketagihan.

Nah, di entri kali ini, saya mau merekomendasikan beberapa komik yang masuk ke daftar Subscribe saya di Webtoon. Sesungguhnya, ini bukan pekerjaan mudah, karena saya baca banyak komik di aplikasi ini.

Well, but here some of my favorites.

1. The Sound of Your Heart (Cho Seok)

Never I expected to read this hilarious comic, karena gambar di thumbnail-nya pun awalnya bukan tipe saya. Tapi, begitu baca episode kesatu… darn, I couldn’t handle my laugh. The Sound of Heart karya Cho Seok bercerita tentang kehidupan (random) sehari-hari dari sang komikus dan orang-orang di sekitarnya. Di bagian awal, kalian mungkin akan sedikit bingung dengan hubungan antar tokohnya. Tapi, lama-lama, kita hafal siapa saja tokoh yang muncul di komik tersebut sekaligus paham dengan jenis komedi yang dibawa oleh Cho Seok. The Sound of Your Heart lahir tahun 2006 dan masih terus berlanjut sampai sekarang dengan jumlah lebih dari 900 episode di situs Naver.

Similar comics: Trash Bird, Average Adventure of Average Girl.

citt

2. Cheese in the Trap (Soonkki)

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan komik ini. Cheese in the Trap bukan komik cecintaan biasa, karena kalian juga akan menemukan unsur lain seperti drama hingga suspense dalam beberapa episodenya. Komik karya Soonkki ini bercerita tentang Hong Seol, seorang mahasiswi pekerja keras, yang tiba-tiba menjadi akrab dengan mahasiswa tampan misterius di kampusnya, Yoo Jung. Di episode-episode awal, banyak pembaca yang bingung dan lelah karena plotnya berjalan lambat juga kebanyakan flash back. Tapi, ternyata, hal itu yang membuat Cheese in the Trap makin menarik dan bikin penasaran. Sejak tahun 2010, komik ini sudah masuk ke season 4 di Naver dan versi drama Korea-nya akan rilis 4 Januari 2016. Wee!

Similar comics: Where Tangents Meet, UnTouchable, Salty Studio.

totu

3. Tales of the Unusual (Seongdae Oh)

Thriller comics on Webtoon are the BEST that I can’t decide which one I have to put on this list. Saya juga sebenarnya penakut, tapi kalah sama rasa penasaran buat baca komik-komik ini. Tales of the Unusual karya Seongdae Oh merupakan kumpulan-kumpulan cerita yang bisa bikin kalian merinding sampai jijik nggak keruan. Tapi, jangan berpikir ada banyak hantu yang muncul di sini, karena Oh lebih banyak menampilkan cerita-cerita ganjil yang bikin kalian ngilu sampai ke tulang. Salah satu judul yang paling terkenal dan sering disebut adalah Beauty Water. Pemakaian warna hitam-putih di komik ini juga memberi kesan mencekam yang lebih tajam.

Similar comics: Friday: Forbidden Tales, The Red Book, Chiller.

ds

4. Distant Sky (Inwan Youn / Sunhee Kim)

Masih dari keluarga thriller (maaf yang lain, saya terpaksa pilih kasih sama genre ini), Distant Sky menawarkan ketegangan yang dibumbui fiksi ilmiah. Dalam komik ini, kalian akan bertemu dua anak SMA yang tiba-tiba terjaga di tengah reruntuhan bangunan dan… orang-orang mati.  Alih-alih melihat langit biru, yang mereka dapatkan saat mendongak adalah kegelapan total. Pemadaman listrik? Nah, you better read it. Saya sempat mual-mual saat membaca episode-episode awal, tapi keterusan dan baru berhenti pukul setengah tiga pagi. Gambarnya detail sekali sampai bikin saya merinding. Don’t ask about the plot twist. It wins.

Similar comics: Deep, HIVE.

yc

5. Yumi’s Cells (Donggun Lee)

Slide toon dari genre drama ini menceritakan kehidupan sehari-hari dari seorang wanita bernama Yumi. Satu hal yang unik dari Yumi’s Cells adalah sudut pandang yang dipilih oleh sang komikus. Sebab, sebagian besar cerita dibawakan oleh… sel-sel di otak Yumi! Kalian akan mengenal nama-nama sel tersebut sekaligus tugasnya di otak Yumi. Tingkah mereka tidak jarang membuat pembaca tertawa dan larut dalam kisah sang tokoh utama. Dalam beberapa episode, kalian juga bisa melihat sel-sel otak dari tokoh lain seperti Wook dan Ruby.

Similar comics: Mercworks, Midnight Rhapsody.

ad

6. About Death (Sini / Hyeono)

Ever wondering what will happen with your after life? About Death berisi kisah-kisah orang yang berkunjung ke ‘persinggahan’ sementara setelah mereka mati atau sedang sekarat dan bertemu sosok ‘Tuhan’. Di tempat singgah tersebut, mereka akan berbincang sebentar dengan ‘Tuhan’ sebagai proses evaluasi singkat sebelum mereka masuk ke kehidupan baru. Sebagian besar cerita di About Death bikin saya banjir air mata, sedangkan yang lainnya membuat saya merenung lama. Oh ya, catatan tambahan, tolong jangan bawa nama-nama agama tertentu saat baca komik ini (sepertinya bakal ada yang sensitif dengan konsep tokoh ‘Tuhan’ di About Death).

Similar comics: Annarasumanara.

mkaod

7. My Kitty and Old Dog (Cho)

Satu komik lagi yang bikin saya nangis adalah My Kitty and Old Dog. Komik yang baru selesai beberapa hari yang lalu ini berisi tentang Soondae, seekor kucing dengan penglihatan buram, dan Nang-nak, anjing tua yang sudah lama sakit. Kedua hewan ini dipelihara oleh Cho dan kedua orangtuanya. Selain mereka, ada juga hewan-hewan dan tokoh lain yang memeriahkan My Kitty and Old Dog (dan siap menyerang kalian dengan ninja-ninja bawang merah). Uniknya, beberapa episode dibawakan dari sudut pandang hewan-hewan tersebut dan membuat pembaca terharu, sedih, hingga tertawa.

Similar comics: All That We Hope to be, Roar Street Journal, Smile Brush.

Sebenarnya, masih banyak komik yang pengin saya jejalkan di daftar ini, tapi nanti malah kepanjangan. Judul-judul di bagian similar comics bisa dijadikan rekomendasi tambahan.

Selamat bertualang di Webtoon!

erl.

p.s.: Ah, saya sedang baca Noblesse, nih. Seru dan agak absurd juga, ya.

Fiction · review

[Review] Priceless Moment by Prisca Primasari

Kisah kita serupa dongeng. Dipertemukan tanpa sengaja, jatuh cinta, lalu bersama, dan akan bahagia selamanya. Tanpa banyak kata, kau tahu aku mencintaimu selamanya.Begitulah yang seharusnya.

Namun, ketika setiap pagi kutemukan diriku tanpa kau di sisiku, aku sadar bahwa dongeng hanyalah cerita bohong belaka. Kau pergi, meninggalkanku dalam sepi, dalam sesal yang semakin menikam.

Hidup tak akan sama lagi tanpamu.Apa yang harus kukatakan ketika mata polos gadis itu memelas, memintaku menceritakan dongeng-dongeng yang berakhir bahagia? Kau belum memberi tahu jawabnya untukku.

Kau tahu, kali ini, akan kulakukan apa pun untuk mempertahankanmu berada di sisiku. Pun sejenak. Namun, lagi-lagi, kau hanya ada dalam memori….

***

Tahun ini, GagasMedia mengeluarkan beberapa lini baru, salah satunya adalah fatherhood. Dari namanya, novel-novel yang terbit di bawah label ini pasti berkaitan dengan sosok ayah. “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya–yang menjadi ‘pembuka’ lini fatherhood–sukses membuat saya merinding sampai menangis. Kemudian, “Priceless Moment” karya Prisca Primasari terbit dan membuat saya penasaran: apa ceritanya akan meninggalkan kesan yang sama?

Nah, berbeda dari karya-karya Prisca sebelumnya, sebagian besar seting di “Priceless Moment” mengambil tempat di Indonesia. Bercerita tentang Yanuar, seorang manajer sukses di perusahaan furnitur besar, yang berduka atas kematian sang istri, Esther. Sebagai single parent baru, Yanuar menghadapi tanggung jawab yang selama ini dipegang oleh mendiang istrinya–termasuk mengurus anak-anaknya. Yanuar berusaha untuk bangkit, meski tak yakin bisa melupakan Esther. Hingga suatu hari, dia bertemu Lieselotte,seorang desainer baru di kantornya. Kedekatan mereka, yang awalnya sekadar teman satu perusahaan, perlahan berubah setelah mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing.

Hal menarik pertama yang membuat saya penasaran adalah bagaimana Prisca menuturkan cerita lewat tokoh utama pria. Pemilihan sudut pandang orang ketiga menurut saya cukup aman dan tidak membuat tokoh Yanuar jadi menye-menye. Takaran konflik dalam keluarga Yanuar dan perusahaannya pun cukup seimbang. Jangan kaget kalau sebagian percakapannya agak kaku dan dewasa, karena sebagian besar tokohnya berusia di atas 25 tahun. Saya menyukai beberapa adegan saat Yanuar berusaha dekat dengan kedua anaknya–kadang dibuat tertawa sampai terharu. The struggle is real, yah.

Namun, mungkin karena fokusnya berada di lingkup ‘dunia-menjadi-ayah’, bumbu romance-nya hambar. Kedekatan Yanuar dengan Lieselotte tampil sekilas-sekilas. Eh, tapi ada satu bagian yang menjadi favorit saya: saat mereka berdiri di tengah hujan lebat. Adegan ini menyelamatkan romance-nya (dan tidak bisa saya jelaskan detailnya. Go buy and read if you’re curious.)

Overall, saya menikmati “Priceless Moment”. Prisca memberi bayangan kehidupan seorang duda tanpa plot yang terlalu ruwet. Mata saya sempat memanas saat membaca segelintir adegan. Nyaris bersih dari typo–saya menemukan salah ketik dalam tanda baca di halaman 262 (…dua jam lagi. yang berarti…) I give it 4 of 5, anyway.

Sila yang penasaran pengin baca, cek toko-toko buku terdekat. Mungkin harus sedia tisu juga, buat jaga-jaga kalau nangis di tengah jalan.

erl.

image

music · review

We Want (Para)More!

Selama beberapa bulan terakhir, saya seolah ditarik kembali ke masa-masa berseragam – baik biru maupun abu-abu. Bukan karena reuni, tapi ‘kebangkitan’ beberapa band favorit saya bersama beritanya.

My Chemical Romance bubar. Fall Out Boy reuni. Motion City Soundtrack ditinggal drummer. A Day to Remember menggelar tur.

Terakhir, Paramore merilis album keempat mereka.

Ini kejutan. Selepas ‘Brand New Eyes’ (2009), band ini diterpa ombak musibah. Salah satunya, yang paling menggemparkan, adalah minggatnya Farro bersaudara. Saya jadi pesimis. Dua pertiga napas Paramore ada pada tangan Zac dan Josh. Jadi, saat mengetahui Paramore tengah merampungkan album baru, saya hanya geleng-geleng kepala.

Sampai kemudian self-titled album mereka dirilis tanggal 9 April 2013. Saya penasaran, perubahan apa yang Paramore – dengan tiga personil seperti Yeah Yeah Yeahs, sekilas – sajikan. Tadi pagi, saya menikmati secangkir kopi bersama Paramore dan…

…ya, Tuhan. Hayley Williams berhasil mematahkan semua ekspektasi buruk saya.

Dari seluruh album yang pernah mereka produksi, ‘Paramore’ adalah yang terbaik. I ate those tracks in one sit! Tujuh belas lagu – terbanyak yang pernah mereka masukan juga – yang memukau.

“Grow Up” seolah menjadi tamparan Hayley untuk Farro bersaudara (some of us have to grow up sometimes / and so, if I have to, I’m gonna leave you behind //). Sementara “Still Into You” membuat siapapun jatuh cinta (I should be over all the butterflies / but, I’m into you //). Nomor “Ankle Biters” membawa napas pop-punk yang amat kental. Hayley lalu membuai saya dalam ballad berjudul “Hate to See Your Heart Break”.

Yang unik, ada tiga interlude terpisah dalam album ini. “Moving On”, “Holiday”, dan “I’m Not Angry Anymore” menarik senyum saya dengan alunan ukulelenya.

Ah, beberapa band memang sepantasnya tumbuh dan berkembang – seperti para penggemarnya. Kendati Paramore masih pincang karena belum menemukan personil pengganti, mereka telah tumbuh dengan baik dan lebih dewasa.

erl.

***

‘Paramore’

Rate: 4/5

They will take an eargasm: “Fast in My Car”, “Now”, “Grow Up”, “Ain’t it Fun”, “Still Into You”, “Proof”.