[Blog Tour and Giveaway] Day 1: Kisah di Balik Judul

day1

SEBAGIAN dari kalian mungkin bertanya-tanya, “Kenapa judulnya The Playlist?” “Kenapa kavernya kayak enggak berkaitan sama judulnya?” “Itu spageti atau ind*mie?”

Well, yeah, I mean, look:

Tentunya saya punya alasan memilih The Playlist sebagai judul novel kedua yang baru terbit pertengahan September lalu. Gagasan awal The Playlist lahir saat saya sedang makan di Bober Cafe. Sebelumnya saya memang suka menyimak lagu-lagu yang diputar di tempat makan, tapi baru hari itu pertanyaan ini melintas:

Apakah musik latar di restoran atau kafe bisa mempengaruhi atmosfer tempat dan suasana hati pengunjung?

**

Sebelum kemunculan The Playlist, saya pernah mengira kalau musik latar di tempat makan sebagai aksesori untuk meramaikan suasana. Mungkin ada juga yang ditujukan untuk menghibur dan menarik lebih banyak orang lewat live music dari para musisi lokal. Namun saat menulis The Playlist, saya malah jadi penasaran. There must be a reason. Sampai kemudian, seorang teman saya mengirim tautan artikel yang ditulis Anggung Suherman/Angkuy (Bottlesmoker).trigger

So triggering.

Ternyata di Amerika Serikat dan Eropa, beberapa penelitian dilakukan untuk menemukan hubungan antara musik dengan produktivitas. Selain itu, lagu-lagu yang mereka putar di restoran atau kafe tidak asal dipilih alias diseleksi untuk membangun suasana tempat dan membuat pegunjung betah (atau kembali lagi ke sana). Kalau kalian penasaran, sila baca artikel lengkapnya di sini.

Long short story, musik latar ternyata memang punya pengaruh terhadap atmosfer tempat makan dan suasana hati pengunjung. Bahkan lebih. Nah, hal ini yang kemudian saya pakai untuk membangun karakter Winona, food writer yang juga jadi tokoh utama The Playlist. Berbeda dari food writer kebanyakan, Winona selalu memberikan penilaian terhadap lagu-lagu yang diputar di tempat makan.

Lantas dari sana, saya menciptakan satu konflik yang akan Winona hadapi di dalam The Playlist:

Apa yang akan Winona lakukan saat dia datang ke tempat makan yang tidak memutar musik latar?

**

Begitu.

Huh, cuma segitu ceritanya?

Dibandingkan ATHENA: Eureka dan naskah yang baru saya selesaikan, The Playlist memang tergolong ringan, karena mulanya saya menulis cerita ini untuk koleksi pribadi dan melatih kembali kemampuan saya dalam kisah-kisah fiksi. Kebetulan saat itu saya baru selesai merampungkan skiripsi dan saat kembali ke fiksi… kok yah tulisannya jadi kayak jurnal ilmiah. Heheh.

Makanya sampai sekarang saya tidak menyangka kalau The Playlist bisa diterima banyak pembaca, bahkan diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Padahal rencananya bukan The Playlist yang bakal saya jadikan novel kedua, tapi sepertinya sudah jadi takdir Winona dan kawan-kawan buat jadi ‘adik’ ATHENA. Walau idenya sederhana, drama yang mengiringi kelahiran The Playlist lumayan banyak. Namun, biarlah saya yang menyimpan suka-duka itu, hahaha. Kalian tinggal nikmati versi akhirnya saja, yak.

Nyes, that’s all folks, pembuka dari blog tour dan giveaway The Playlist hari ini. Bukan cuma cerita, kalian juga berkesempatan buat mendapatkan satu eksemplar novel bertanda tangan. Jadi, catat tanggalnya, ya. Jangan sampai ketinggalan.

 

lttheplaylist

Besok, kita bakal kenalan sama tokoh-tokoh The Playlist. So, stay tuned!

Regards,

erl.

 

ps: bab satu The Playlist bisa kalian baca di Storial dan Wattpad.

[Preview] The Playlist

Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona.

Ketika food writer lain memusatkan perhatian pada rasa dan tampilan, Winona akan menajamkan telinganya untuk menilai pilihan lagu di sebuah tempat makan. Baginya, lantunan melodi memberi pengaruh besar terhadap suasana hati pengunjung. Semakin sesuai musik latar dengan hidangan, semakin tinggi penilaian yang akan Winona berikan.

Hingga kehidupan Winona berubah saat  mengunjungi No. 46. Absennya musik latar dan kemisteriusan Aries mengusik benak… hingga hatinya. Jerat yang coba dia lepaskan justru menariknya semakin dekat dengan pria yang menyimpan duka dan sepi yang terasa familier baginya. Belum cukup di situ, Winona pun harus berhadapan dengan Ethan—pesona dari masa lalu  yang mengisi hidupnya dengan kenangan-kenangan manis.

Di antara iringan musik latar dan hidangan-hidangan lezat, Winona harus memilih: menghadapi rasa takut yang terus dia hindari atau kembali ke tempat ternyaman yang melengahkan?

The Playlist [Grasindo, 2016]
The Playlist [Grasindo, 2016]

Ready to serve you on September 13, 2016.

Erlin Natawiria.

[Review] 8 Komik Webtoon yang Akan Membuatmu Jatuh Cinta

Halo, kembali lagi di ulasan komik-komik Webtoon! Sudah satu tahun lebih saya gandrung baca komik-komik di platform ini dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda bakal bosan membacanya. Kenapa? Karena jumlah komik baru dengan ide dan gaya penceritaan yang oke makin banyak, yalaaaa. (Baca juga: 7 Komik yang Harus Kalian Baca di Webtoon)

Webtoon menyediakan komik-komik dari berbagai genre yang bisa dipilih sesuai dengan selera kalian. Mulai dari fantasi, horor, thriller, drama, komedi, slice of life, superhero, action, dan yang akan saya bahas di entri ini: romance. Sebagai salah satu genre yang paling diminati, jumlah komik romance di Webtoon bisa dibilang paling banyak; bersaing ketat dengan drama, komedi, dan thriller.

Kalau kalian masih newbie di Webtoon dan pengin baca kisah cecintaan yang tidak biasa, di bawah ini saya rekomendasikan delapan komik romance di Webtoon; dari versi bahasa Inggris dan Indonesia.

Cheese in the Trap (Soonkki) | Rate: 9.60 | Terbit setiap hari Minggu

cheese-minggu

Seol Hong is a hard-working student, who has returned to college after a long break. Jung Yu is a senior at the college known as Mr. Perfect. Seol feels like her life took a turn for the worse since she got involved with Jung. Is Jung intentionally turning Seol’s life?

Cheese in the Trap bukan sekadar komik tentang hubungan cowok tampan dan cewek biasa ala drama Korea (tapi komik ini pun dari Korea). Selain hubungan Hong Seol dan Yu Jung, pembaca juga akan bertemu dengan orang-orang di sekitar mereka, termasuk kakak-beradik Baek yang temperamental, In Ha dan In Ho. Awalnya saya kurang menikmati Cheese in the Trap karena alurnya lambaaaat dan porsi kilas balik yang terlalu banyak. Tapi setelah dibaca ulang, dua hal tadi justru jadi nilai tambah yang membuat saya bertahan mengikuti Cheese in the Trap.

Cheese in the Trap sudah masuk Season 4 dan kalau kalian enggak mau capek baca versi komik, ada dramanya, kok, meski enggak terlalu saya rekomendasikan. Satu lagi, yang paling menyenangkan dari Cheese in the Trap adalah plotnya yang melahirkan banyak asumsi dan hipotesis dari para pembacanya. Termasuk teka-teki retaknya hubungan Yu Jung dan In Ho yang masih belum terjawab sampai sekarang.

Siren’s Lament (instantmiso)| Rate: 9.70 | Terbit setiap hari Sabtu

siren-sabtu

Content with her ordinary life, Lyra is somewhat of a wallflower. However, her comfortable lifestyle suddenly goes astray when she accidentally plunges into the world of sirens. Entangled in a curse, Lyra will learn that her world may be a lot bigger than she had ever imagined.

Penggemar Where Tangents Meet pasti sudah tidak asing dengan Sirent’s Lament. Karya kedua dari instantmiso ini memang berbeda dari Tangents yang nuansa cintanya cukup kental. Sementara di Siren’s Lament, kita akan bertemu kisah romance berbumbu fantasi yang membuatnya terasa lebih segar. Seperti judulnya, instantmiso memakai siren, mahluk mitos setengah wanita setengah burung untuk Sirent’s Lament. Dalam mitologi Yunani, siren dikenal sering membuat pelaut dan nelayan tak sadarkan diri dengan nyanyian mereka sampai kapal korban hancur tertabrak karang.

Sementara di Sirent’s Lament, pembaca akan bertemu siren yang, umh… tampan. Tapi gara-gara si siren bernama Ian, hidup Lyra yang sebelumnya datar-datar saja berubah 180 derajat setelah dia tanpa sengaja terikat perjanjian yang mengubahnya menjadi siren. Sejauh ini saya masih menikmati Siren’s Lament, karena selain gambarnya yang tipe saya banget, ada background music di setiap cerita dari kennycomics yang semakin menghidupkan cerita.

Super Secret (eon) | Rate: 9.81 | Terbit setiap hari Rabu

super-rabu

The boy next door, friends for life, is actually a werewolf!

Super Secret is a kind of comic that will make you go ‘uuunch’ all the way. Gaya berceritanya pun agak berbeda dari komik kebanyakan di Webtoon, karena Super Secret menggunakan format 4coma untuk setiap babnya. Oh dan ini bukan cerita macam vampir bling-bling versus segerombolan shape-shifter ala Twilight, ya. Super Secret adalah komik romance ringan yang menceritakan tentang Emma (Eunho di versi Korea) yang bersahabat baik dengan Ryan (Gyeonwo di versi Korea) sejak mereka masih kecil.

Terlihat klise? Memang, tapi yang membuat cerita ini unik adalah twist supernatural yang sang komikus perlihatkan sejak awal cerita. Emma yang clumsy dan polos tidak sadar kalau selama ini orang-orang di sekitarnya adalah jelmaan mahluk-mahluk yang selama ini kita kenal dalam mitos dan legenda. Selain sosok Ryan si werewolf, pembaca akan bertemu dengan apsara, penyihir, gumiho, sampai Frankenstein. Sekilas bikin seram, ya, tapi karena genre-nya romance, twist tersebut yang membuat Super Secret jadi manis  sekaligus magis.

Miss Abott and the Doctor (Maripaz Villar) | Rate: 9.76 | Terbit setiap hari Sabtu

abott-sabtu

Doctor Andreas Marino loves his quiet life, filled with work and simple amusements, and when the strange Miss Abbott arrives in his town he decides he doesn’t like her at all. Unfortunatelly she’s funny and quirky, has an uncommon past and seems to enjoy getting him in trouble. Welcome to a sketchy Victorian rom-com!

Saya sudah mengikuti komik ini sejak masih ada di Discover. Akhirnya setelah menunggu selama lebih dari 50 bab, Miss Abott and the Doctor dipinang Webtoon ke deretan Official. Saat kali pertama membaca, gaya menggambar Villar langsung mengingatkan saya pada tokoh-tokoh Disney. Lalu meski tampil dalam format sketsa  hitam-putih, penokohan Cati / Miss Abott dan Andreas / Dokter Marino yang kuat membuat cerita Miss Abott and the Doctor bukan sekadar menarik, tapi juga ringan dan menyenangkan untuk diulik.

Cati adalah seorang gadis dengan jiwa petualang yang kuat, sedangkan Andreas adalah dokter yang kadang kelewat logis dalam mencerna sesuatu. Mulanya Andreas berusaha mati-matian menghindari Cati. Namun, masalah-masalah yang dibuat Cati justru semakin menyeret Andreas kepada gadis tersebut. Also, one of them is tsundere, so the story is getting cuter in every chapter. Pemakaian latar waktu di zaman Victoria di Miss Abott and the Doctor pun mengingatkan saya dengan beberapa cerita karya Jane Austen.

Sweet EccapE (kiyoshin_) | Rate: 9.69 | Terbit setiap hari Minggu

sweet-minggu

Punya pacar idol?

Kalian fangirl? Berarti Sweet EscapE adalah komik romance lokal yang wajib dibaca. Saya sudah mengikuti cerita Nana sejak masih nongkrong di Webtoon Challenge. Berkat skill menggambar yang oke dan penceritaan mengalir, rasanya tidak berlebihan kalau Sweet EscapE menjadi salah satu komik berkualitas yang kemudian ditarik Webtoon ke bangku Official. Selain itu, komik ini pasti akan membuat para fangirl jadi halu dan delu, sekaligus iri karena pengin punya pengalaman terjebak dengan bias-nya di luar negeri.

Sweet EscapE bercerita tentang Nana, seorang fangirl, yang tanpa sengaja bertemu idolanya, Jun dari JI:NX saat berlibur di Venesia. Sementara itu, Jun ternyata sedang menghindar dari grup dan manajemannya. Dalam situasi yang kepepet, Jun mau tak mau harus berurusan dengan Nana untuk bersembunyi. Lalu Nana, sebagai penggemar… just do what she has to do as a fangirl. Hihi. Sejauh ini, Sweet EscapE sudah sukses membuat pembacanya berkhayal supaya bisa punya nasib seberuntung Nana.

Flawless (Shinshinhye) | Rate: 9.64 | Terbit setiap hari Rabu

flawless-rabu

Sarah, si cewek tangguh tidak sengaja bertemu Elios pemuda tunanetra seusianya. Elios begitu misterius, bikin Sarah penasaran. Apakah Sarah jatuh cinta? Mungkin ada sesuatu di balik ini semua?

Saya suka dua tokoh utama di komik ini, karena mereka sama-sama badass. Sarah adalah remaja yang masih duduk di bangku SMP, tapi jangan berani macam-macam sama dia karena cewek ini tahu caranya berkelahi. Sementara Elios dengan keterbatasannya justru tampil memukau karena sanggup mengembangkan empat indranya yang lain dan membuat pembaca penasaran karena  bagian matanya selalu ditutupi dengan poni. Flawless, seperti gambaran singkat ceritanya, bukan sekadar cerita cinta remaja kebanyakan.

Lewat goresan tangannya, Shinshinhye berhasil menghidupkan Sarah dan Elios sebagai sosok remaja yang tidak biasa, tetapi juga tidak sok dewasa. Mereka menghadapi masalah-masalah yang muncul tanpa meninggalkan kesan anak SMP yang apa adanya. Setiap episodenya membuat pembaca penasaran dan terus menebak apa yang terjadi dengan Sarah dan Elios, serta masa lalu yang membayangi mereka berdua.

Terlambat Jatuh Cinta (xzbonbon) | Rate: 9.65 | Terbit setiap hari Selasa

terlambat-selasa

Populer dan banyak digemari di kampus, itulah Barney. Ia selalu mendengar ungkapan perasaan dari para perempuan, termasuk Elvira. Tapi Elvira ternyata tidak punya waktu lama. Apa yang harus Barney lakukan sebelum terlambat?

Sejak kemunculannya di Webtoon Challenge, saya tahu kalau Terlambat Jatuh Cinta kelak akan masuk jajaran Official. Selain cerita yang enak diikuti, sang komikus juga mempunyai ciri khas pada gambarnya. Sekilas mengingatkan saya kepada Cheese in the Trap karena kedua tokoh utamanya masih duduk di bangku kuliah. Terlambat Jatuh Cinta mengisahkan tentang Barney, cowok yang paling dikagumi satu kampus. Selain tampan, Barney juga cerdas dan pandai bersosialisasi baik dengan teman sampai dosen di kampus tersebut.

Sampai kemudian Barney bertemu dengan Elvira; mahasiswi yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya terhadap cowok tersebut. Di awal cerita, pembaca sudah diberi hint kalau Elvira sedang bertarung dengan sebuah penyakit. Namun yang saya suka dari sosok Elvira adalah… dia tidak bersikap mellow dan menyedihkan. Elvira bukan hanya polos, tapi juga bocor dan kadang bersikap enggak tahu malu di depan Barney. Hal itu yang justru mendekatkan mereka berdua dan membuat pembaca sering bergumam, hasemeleh hasemeleh.

#moments (MOE / Remaja Shoujo) | Rate: 9.46 | Terbit setiap hari Sabtu

moments-sabtu

Kumpulan cerita manis dari curhatan orang-orang di sekitarmu – teman, keluarga, kecengan, mantan, atau bisa jadi ceritamu sendiri (*∀-)☆. Kisah-kisah romantis di balik setiap momen-momen pertemuan dan perasaan yang tertinggal setelahnya…

Sengaja ditaruh paling terakhir, karena saya paling suka komik ini. #moments sudah saya ikuti dari Webtoon Challenge dan butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya mereka tembus ke Official. Berbeda dari judul-judul di atas, #moments mengingatkan saya dengan format antologi cerita pendek. Meski kisahnya berbeda-beda, tetapi ada benang merah yang menghubungkannya. Lalu karena digambar oleh beberapa komikus, pembaca akan bertemu dengan gaya menggambar dan cerita yang baru juga di setiap jilidnya.

Sejauh ini #moments sedang menceritakan kisah para murid SMA yang sedang mengurus sebuah pensi. Satu hal yang paling saya suka adalah ceritanya yang realistis, sehingga membuat tokoh-tokoh dalam komik ini begitu dekat dengan pembaca. Saya sampai pengin balik lagi ke SMA gara-gara membaca #moments. Kemudian, latar tempat sekolahnya ternyata diambil dari salah satu SMA terkenal di Bandung, jadi makin terasa personal buat saya yang tinggal di kota tersebut. Kalau kalian ingin bernostalgia ke masa putih-abu, #moments adalah pilihan terbaik di Webtoon.

Masih ada banyaaak komik romance yang disediakan Webtoon. Kalian bisa ulik langsung di website atau unduh aplikasinya. By the way, ini bukan artikel endorse, ya. Webtoon adalah salah satu wadah buat saya untuk mencari inspirasi dan ada banyak hal yang saya pelajari dari platform ini.

Sekian rekomendasi komik romance dari saya. Kalau ada waktu luang (dan lagi santai seperti sekarang), saya bakal bagikan daftar dari genre lain. Mungkin thriller / horor atau slice of life.

Selamat membaca (dan ketagihan)!

 

erl.

Capture

[Review] Copeland Back to Bandung: the Unexpected Return

CopelandBack

So, it took a week for me to write this review.

Setelah hampir satu dekade mengagumi dan enam tahun menanti (yang saya pikir bakal sia-sia), akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat aksi panggung Copeland di acara The 8th International Kampoeng Jazz, 30 April 2016. In case you don’t know, Copeland is one of The Muse—julukan yang saya berikan untuk mereka yang memberi pengaruh dan inspirasi besar pada tulisan-tulisan saya.

Begitu tahu Copeland bakal ke Bandung untuk kali kedua, tanpa pikir panjang saya langsung mengosongkan tanggal di atas. Sebenarnya saat itu saya berpikir kalau bisa menonton saja sudah bikin saya bersyukur habis-habisan.

Tapi siapa sangka kalau 30 April kemarin bakal jadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup?

*

Copeland adalah band luar negeri keempat yang konsernya (I don’t think it was a concert, but whatever) saya datangi setelah Mae (2009), We Are the in Crowd (2012), dan Motion City Soundtrack (2013). Iya, saya kalau mau nonton konser pilih-pilih banget. Kalau bukan favorit dan enggak hafal lagu-lagunya, mana mau saya datang. Dalam kasus Copeland, mereka ini spesial buat saya. Kedatangan mereka ke Bandung kali ini semacam penebus rasa bersalah karena saya  enggak datang ke farewell show mereka tahun 2010 lalu.

Di rundown, Copeland main sekitar pukul sepuluh malam setelah Andien. Memelesat jauh dari ekspektasi saya dan beberapa teman yang mengira Copeland bakal main pukul delapan atau sembilan malam. Tapi, masa bodo, kami toh tetap datang. Bahkan saya dan salah seorang teman, Tari, sudah stay di baris pertahanan terdepan sejak pukul setengah lima sore. Hujan-hujanan. Kena angin. Dempet-dempetan. Lapar. Ngantuk.

Sumpah deh kalau bukan buat Copeland, saya pasti lagi di rumah sambil tidur-tiduran.

Rundown yang awalnya berjalan mulus pun ngaret setelah Koes Plus turun panggung. Saya mulai panik, tapi tetap berusaha santai. Oke, dua artis lagi. Tahan, tahan. Syukurnya, dua artis sebelum Copeland—Maliq & D’Essentials dan Andien—mainnya bagus banget. Jadi saya cukup terhibur meski bukan penggemar mereka. Plus, tatanan pencahayaan dan sound-nya lumayan apik. Jadi saya sudah bisa membayangkan bakal sebagus apa kalau Copeland yang main nanti.

Pretty sure the crowd won’t forget how shameless the MC that night. In a good way.

Lalu, setelah penantian yang terasa selamanya, satu per satu personil Copeland naik ke atas panggung. Saya sempat kaget sekaligus takjub karena mereka melakukan seting alat dan tetek bengek lainnya sendirian (sesekali dibantu panitia, tapi enggak terlalu sering). Aaron Marsh, sang vokalis utama, bahkan membawa piano keramat yang jadi partner bermainnya di atas panggung dalam beberapa show Copeland.

Saya berdiri tepat beberapa meter di depannya.

Dan, sekuat apapun saya berusaha menahan lonjakan euforia dan antusiasme saat melihat Copeland di atas panggung, teriakan histeris itu akhirnya keluar juga saat Have I Always Loved You? dibawakan sebagai pembuka.

*

20160430_231505

Sayang, sayangnya, suara Marsh tidak terdengar maksimal karena sound yang agak bermasalah. Meski begitu, dia terus bernyanyi sambil memainkan piano keramatnya. Lighting belum bermain terlalu banyak juga karena tempo lagu yang cukup slow. Sebagian orang yang tahu atau mendengar album terbaru mereka, Ixora, juga ikut menyenandungkan lagu tersebut.

Tanpa basa-basi Disjointed dimainkan begitu lagu kesatu tuntas.

Di lagu ini, selain Marsh, Bryan Laurenson (gitar), Stephen Laurenson (gitar, synth), Bobby Walkerug (bas), dan Jordan Butcher (drum) mulai terlihat atraktif dengan instrumen masing-masing. Lighting juga sama mengentaknya dengan lagu yang mereka bawakan. Bahkan Marsh dengan fasih mengucapkan, “Terima kasih!” begitu menuntaskan Disjointed.

Masih dari Ixora, I Can Make You Feel Young Again dan Erase dibawakan setelah Disjointed. Kerumunan di sekitar saya masih nyanyi sekilas-sekilas, tapi kami mulai terbawa suasana dan rasanya sulit mengalihkan perhatian dari permainan mengesankan Marsh dengan pianonya. Dua lagu ini adalah favorit saya dari Ixora, jadi saya pasti bakal menyesal kalau tidak mengamati dengan saksama.

Kemudian di lagu berikutnya, bukan hanya kualitas sound yang mulai membaik, tapi atmosfer suasana juga berubah drastis begitu Marsh menyanyikan Should You Return dari album You Are My Sunshine.

Jangan tanya keadaan saya gimana saat itu. Saya jadi sama malu-maluinnya kayak dua MC yang lempar guyonan-guyonan receh sebelum Copeland main.

You Are My Sunshine adalah album keempat Copeland yang juga (sempat) jadi album perpisahan mereka sebelum menyatakan bubar tahun 2009. Menurut saya, Sunshine adalah salah satu album terbaik yang pernah Copeland rilis. Sepertinya sebagian besar penggemar Copeland pun setuju, karena kerumunan makin memanas saat Marsh melanjutkan pertunjukan dengan lagu Chin Up.

*

20160430_231804

Malam itu Copeland sepertinya ingin membolak-balik emosi kami, karena selepas Chin Up, mereka membawakan nomor-nomor lama dari Beneath Medicine Tree. Stephen dan Bobby mengacungkan ponsel mereka dengan flash menyala. Otomatis kami melakukan hal yang sama dan kembali histeris begitu tahu kalau lagu yang akan dibawakan selanjutnya adalah Brightest.

Dan kali ini, Marsh membawakan lagu tersebut sendiri. Dari layar yang berada di samping kanan panggung, saya bisa melihat kerumunan seketika tampak seperti lautan kunang-kunang. Sesuai dengan lirik yang dilantunkan Marsh, “And she says that I am the brightest little firefly in her jar.”

Coffeeone of my alltime favorite songs from Copeland—membuat suasana menjadi santai dan, seperti judulnya, bikin saya pengin nyeduh kopi di tengah kerumunan. The crowd didn’t miss any lines, too. Di sisi lain, saya mulai cemas kalau Copeland akan mengakhiri permainannya dalam satu atau dua lagu ke depan, karena jatah rata-rata artis lain tidak lebih dari dua belas lagu.

20160430_233431

Tapi, kecemasan saya dipatahkan, sebab masih ada banyak lagu yang mereka bawakan. Selepas Coffee, Marsh kembali membawa kami ke album Sunshine dengan The Day I Lost My Voice dan On the Safest Ledge.

ON THE SAFEST LEDGE, YA TUHAN.

Sialnya, seperti salah satu judul lagu mereka, saat itu suara saya sudah hampir hilang. Tapi ini Safest Ledge dan saya memaksakan diri untuk ikut sing-a-long. Safest Ledge adalah lagu yang terus saya putar beberapa hari sebelum acara tersebut dan mustahil rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan lagu seindah ini.

*

Marsh, kembali dengan permainan solo, lagi-lagi membuat kami baper maksimal dengan Hold Nothing Back dari album In Motion dan Priceless. Mungkin karena kepepet sama waktu, Marsh membawakannya beberapa lagu dalam format medley. Still good—no, that was great. Kami juga enggak mungkin enggak nyanyi di lagu Priceless (ini salah satu lagu Copeland yang pernah saya kembangkan jadi satu novel penuh).

20160430_235555

Seolah belum lelah, Copeland kembali menguji kami dengan dua lagu yang cukup upbeat, Take Care dan No One Really Wins. Saya? Saya sudah mulai kelelahan dan memilih untuk menikmati permainan Copeland di atas panggung sambil mendengarkan nyanyian kerumunan di belakang. Hey, it doesn’t mean I’m bored. Seandainya stamina tubuh pukul setengah lima sore bisa diambil, saya pasti akan memakainya untuk gila-gilaan di paruh terakhir pertunjukan Copeland.

20160501_000359

Selepas When Paula Sparks, Marsh akhirnya mengumumkan kalau dia akan membawakan lagu terakhir. And I was like, nonononononono. Namun, begitu intro dimainkan, saya tiba-tiba cenghar dan nyaris memeluk Tari begitu tahu lagu yang dipilih sebagai penutup adalah You Have My Attention.

Everyone went fully emotional at that moment.

Saya pribadi punya kenangan dengan lagu manis ini, jadi saya tidak mau kehilangan momen satu detik pun saat Copeland memainkannya. Marsh dan kawan-kawan yang awalnya terlihat santai, berubah jadi cukup agresif di atas panggung begitu memasuki paruh terakhir lagu. Bahkan mereka sempat loncat-loncat dan membuat teriakan kerumunan makin keras. Lantas, tepat saat lagu berakhir, kembang api muncul dari sisi panggung.

Kemudian, Marsh melepas gitarnya, mendekati standing mic, dan sekali lagi mengucapkan, “Terima kasih!” dengan dua tangan tersilang di dada.

20160501_001614

*

Wasn’t it enough?

Nope.

Copeland mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam lebih beberapa menit dengan total 16 lagu. Kami tahu jatah Copeland sudah habis, tetapi sebagian orang tetap meneriakan we want more! Saya sempat berharap mereka naik lagi dan membawakan satu-dua lagu (mereka tidak membawakan California! Demi apa! Dan enggak ada lagu dari Eat, Sleep, Repeat).

But the show really ended. Sambil berjalan keluar dari venue, saya sempat melihat kerumunan heboh begitu beberapa personil seperti Bryan dan Jordan melemparkan pick gitar dan stick drum. Saya mau saja rebutan kalau badan saya enggak jerit-jerit minta pulang.

Kendati ada beberapa kekurangan, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada Kampoeng Jazz karena sudah mendatangkan Copeland sebagai salah satu bintang tamu (spesial). Beberapa orang mungkin merasa janggal karena Copeland bukan band aliran jazz. Tapi saya sih enggak terlalu peduli, karena akhirnya penebusan rasa bersalah saya tuntas sudah malam itu.

Setelah bertahun-tahun tidak merasakan euforia konser, malam itu saya seperti dilempar kembali ke hari di mana saya nonton konser kali pertama tujuh tahun lalu. Pertunjukan kedua Copeland di Bandung bukan hanya membayar rasa bersalah, tetapi juga membawa kembali hal-hal mengesankan yang saya rasakan sejak masih jadi remaja tanggung sampai sekarang. Jadi, rasanya wajar kalau sampai sekarang, termasuk saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari malam mengesankan tersebut.

And it should’ve been us who said ‘thank you’ that much, dear Copeland. You always make us feel young again.

Sampai jumpa lagi!

 

erl.

CdLlAICUMAEygUK

ps: Baru sadar kalau saya menulis draf tulisan ini tanggal 8 Mei, which is tanggal yang sama waktu Copeland konser kali pertama di Bandung enam tahun lalu.

pss: Kalian bisa lihat keseruan Copeland (dan kisah fangirl/fanboy-nya) dengan mengetik tagar #CopelandBackToBandung di Twitter atau Instagram.

[Review] How to Grow Them Great by Bebelac

Saya memang belum menikah, apalagi punya anak. Namun, status tidak harus jadi alasan untuk berhenti menggali ilmu, bukan? Meski masih lajang, sebagian teman wanita saya sudah menikah dan punya satu-dua anak. Tak jarang saya memperhatikan cara mereka merawat sang buah hati atau berbagi cerita (juga keluhan) di chat room.

Dari sana saya berpikir, bagaimana, ya, kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? Apa saya bisa mengurus dan membangun karakter yang baik untuk mereka?

Nah, lantas pada hari Sabtu, 26 Maret 2016, saya kembali mendapatkan sepotong ilmu berharga seputar parenting. Bertempat di Main Atrium, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Bebelac memperkenalkan sebuah kampanye yang laik disimak oleh para orangtua. Kampanye tersebut bernama #bebehero, di mana para orangtua—khususnya ibu—diajak untuk membangun kecerdasan emosional (EQ). Selain itu, para ibu juga dikenalkan pada cara pengembangan empati terhadap anak.

Untuk menunjang pertumbuhan yang optimal pada anak, dibutuhkan asupan nutrisi yang tepat seperti asam linoleat dan mineral. Kemudian, agar lebih seimbang, anak juga memerlukan vitamin dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur, lauk-pauk, serta susu. Dalam hal ini, Bebelac dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan vitamin A, zinc, zat besi, iodium, dan kalsium.

Demi mewujudkan karakter yang baik dan menumbuhkan empati, diperlukan peran sang ibu sebagai pengajar pertama bagi putra-putrinya. Anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Semakin baik dan terkontrol seorang ibu dalam memberi contoh, semakin bagus juga perilaku sang anak.

20160326_110022

Menurut Andi Airin, selaku Senior Brand Manajer Bebelac, pemberian nutrisi yang optimal dapat diberikan oleh ibu sejak masih mengandung hingga anak berusia dua tahun. Jika pertumbuhannya baik, maka anak pun akan lebih cepat tanggap dalam mempelajari hal-hal di sekitarnya. Selain itu, mereka juga akan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus rasa empati yang baik. Andi pun menuturkan pengalaman tentang anaknya yang hafal dengan jam pulang kerja dan selalu menyambutnya setiap kali tiba di rumah.

Sedangkan psikolog Roslina Verauli memaparkan tentang cara mengembangkan empati anak sejak dari rumah. Sebab empati merupakan gerbang dari aksi kepedulian terhadap orang lain. Empati juga menjadi pendukung terbentuknya karakter kepahlawanan yang tentunya tidak harus tercermin dalam aksi yang besar. Contohnya dituturkan oleh pesepakbola nasional, Bambang Pamungkas. Untuk menumbuhkan empati tersebut, Bambang akan menunjukkan nilai-nilai kebaikan, bahkan dari hal yang paling kecil sekalipun. Salah satunya adalah membantu sang anak untuk menyumbangkan pakaian kepada yayasan yang dia kelola.

Bukan hanya dari para pembicara saja, dalam sesi tanya-jawab pun saya mendapatkan banyak pelajaran tentang parenting. Di antaranya dengan mencegah terlahirnya golden child atau anak emas yang menimbulkan kecemburuan pada anak lainnya. Menurut Roslina, hal tadi ternyata muncul karena orangtua tanpa sadar telah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Lantas, ada juga yang ingin tahu sampai kapan pengembangan empati seorang anak harus diterapkan. Jawaban dari sang psikolog pun cukup mengejutkan: tidak ada batasan usia sama sekali.

20160326_112133

Oh ya, selain itu di venue Bebelac ada 14 stan permainan khusus anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Saya lihat sih yang paling diminati adalah kolam bola yang berada tepat di belakang deretan kursi tamu. Tapi, semakin siang, semakin banyak anak yang datang dan mencoba stan-stan lainnya.

20160326_120535

Satu kata untuk acara dari Bebelac ini: seru! Saya bisa mengaplikasikan ilmu dari para pembicara tadi kalau sudah punya anak di kemudian hari.

20160326_120553

erl.

 

ps: sst, Bebelac sedang mencari sosok #bebehero! Hadiah utama yang akan pemenang dapatkan adalah kesempatan untuk jadi bintang iklan Bebelac dan terbang ke Australia! Kontes ini berlangsung sampai tanggal 24 April 2016 dan keterangan lengkapnya bisa kalian klik di: http://bebeclub.co.id/growthemgreat/bebehero/

[Review] Cukup Satu Tetes Bersama Lifebuoy Clini-Shield 10

Satu Tetes Saja!

Adik saya yang paling kecil, Kamila, suka sekali dengan kegiatan mandi. Bahkan dia cukup sering minta dibelikan kebutuhan dan peralatannya. Salah satunya sabun dengan beragam warna, wangi, dan bentuk. Karena keluarga kami sudah lama memakai produk Lifebuoy, Kamila juga mengincar sabun dari produsen tersebut. Kadang dia ingin sabun batang, di lain hari dia pengin yang likuid.

Sekilas, permintaan anak kecil yang belum genap lima tahun ini tidak terkesan aneh. Tapi, lama-lama, pemakaiannya jadi boros juga, karena mood Kamila suka berubah dan pada akhirnya kami menaruh sabun batang dan likuid di kamar mandi. Lantas saya berpikir, kira-kira ada enggak ya produk yang bisa menggabungkan kebaikan sabun batang dan likuid?

Daaan kebingungan saya akhirnya dipecahkan oleh produk terbaru Lifebuoy, Lifebuoy Clini-Shield 10.

Pintu masuk
Pintu masuk area Lifebuoy Clinic-Shield 10

Hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 5 Maret 2016, saya menghadiri acara peluncuran Lifebuoy Clini-Shield 10 di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan. Bersama blogger lainnya, kami berkesempatan untuk mengetahui lebih dalam tentang produk terbaru Lifebuoy ini. Ibu Indriani, selaku Senior Brand Manager Lifebuoy, memaparkan bahwa sabun gel konsetrat tersebut lahir dari kebutuhan konsumen, terutama para ibu, akan sabun yang mengadirkan pengalaman mandi menyenangkan bagi anak sekaligus melindunginya dari kuman maupun bakteri jahat.

Para konsumen juga kerap dihadapkan pada dilema penggunaan sabun batang dan likuid. Dari segi harga, sabun batang jauh lebih murah dan meninggalkan sensasi keset pada kulit setelah dibilas. Namun, sabun likuid punya kelebihan lain yang tidak dimiliki sabun batang. Di antaranya wangi yang lebih tajam serta busa melimpah. Meski lebih boros pemakaiannya dan dari segi harga memang lebih tinggi dibandingkan sabun batang.

Ibu Indriani dan Ersa Mayori

Lantas, Lifebuoy Clini-Shield 10 hadir sebegai pemecah dilema tersebut. Sabun gel konsentrat pertama di dunia ini pun menghadirkan perlindungan terhadap kuman 10 kali lipat lebih baik. Cara pakainya juga sangat mudah, yakni dengan menuang satu tetes sabun gel (sekitar 2-3 ml) pada satu jari, gosok sampai busa melimpah, basuh pada bagian yang diinginkan, dan bilas dengan air sampai bersih. Kombinasi kebaikan sabun batang dan likuid pada Lifebuoy Clini-Shield 10 akan membuat kulit tubuh kita bersih, wangi, dan sehat.

Setelah pemaparan dari Ibu Indriani, kami juga mendapatkan tips dari artis cantik Ersa Mayori. Ibu dua anak ini berbagi pengalaman untuk membuat kegiatan mandi menjadi menyenangkan bagi kedua putrinya. Antara lain menggunakan shower puff dan, tentunya, sabun seperti Lifebuoy Clini-Shield 10 untuk menciptakan busa yang melimpah. Selain pengalaman mandi mengesankan, shower gel concentrate tersebut pun mengajarkan anak-anaknya untuk belajar hemat dalam menggunakan sabun.

Satu hal lain yang membuat Lifebuoy Clini-Shield 10 semakin menarik adalah kemasannya yang berbeda dari sabun lainnya. Sabun gel konsentrat ini dikemas dalam tube dengan ukuran 35 ml dan 100 ml. Dengan wadah tube tersebut, sabun tidak akan mudah berceceran dan membuatnya praktis dibawa ke mana-mana. Kemudian, produk terbaru Lifebuoy tersebut hadir dalam dua warna, yaitu merah untuk Complete dan hijau untuk Fresh.

Show the Product!

Dalam acara peluncuran tersebut, pihak Lifebuoy juga menyediakan booth produk dan berbagai permainan untuk anak-anak. Jadi, kita bisa langsung membeli Lifebuoy Clini-Shield 10 sekaligus mengajak anak bermain di sana. Sayangnya, saya enggak bisa bawa Kamila ke Citos. Dia pasti bakal betah main di booth mewarnai dan gelembung, salah dua permainan yang ada di area Lifebuoy Clini-Shield 10.

Booth mewarnai gambar
Booth mewarnai gambar
Main gelembuuung

Well, dan meskipun saya belum menikah, produk terbaru Lifebuoy ini lumayan banget buat menghemat pengeluaran. Lumayan, kan, uangnya bisa dipakai buat jajan atau beli buku. Hehe.

Thanks for having me, Lifebuoy. Tetap berinovasi untuk menjaga kesehatan keluarga Indonesia!

 

erl.

Jpeg
Hand for scale

[Writing] 5 Album Terbaik untuk Teman Menulis

Beberapa orang yang saya kenal punya kebiasaan mendengarkan musik saat mengerjakan sesuatu, salah satunya untuk menulis. Kebiasaan ini juga sudah sering saya lakukan sejak duduk di bangku SMP. Lagu-lagu tertentu bisa membangun atmosfer yang bagus untuk tulisan. Malah sebagian di antaranya saya masukan ke dalam cerita, supaya pembaca jadi ikut penasaran buat mendengarkan. Hehe.

Namun, sekitar satu atau dua tahun terakhir, kebiasaan itu tidak terlalu sering saya lakukan. Apalagi beberapa lagu malah membuat saya melamun atau pengin sing a long sampai lupa dengan tulisan. Lantas, saya lebih memilih untuk mendengarkan musik saat jalan-jalan atau sedang tidak menulis.

Eh, tapi masih ada beberapa lagu atau album yang saya dengarkan saat sedang menulis. Here’s the list!

The Everglow (2004) – Mae

Saya awalnya enggak suka album ini. Satu-satunya lagu yang saya dengar adalah Suspension. Setelah berbulan-bulan mendekam di hard disk, saya iseng mendengarkan The Everglow lagi dan, kok tiba-tiba jadi enak banget, ya? Lantas setelah itu, saya terus mendengarkan album ini, termasuk saat sedang menulis. Di bangku SMA, saya malah pernah kepikiran buat bikin satu novel dari lagu-lagu di The Everglow (dan belum kesampaian, pemirsa). Malah di bangku kuliah, saya punya ritual mendengarkan album ini minimal satu kali saat sedang menggodok naskah. Saya sampai percaya kalau kelancaran cerita sangat bergantung pada The Everglow. Sekarang, saya sudah agak jarang dengar The Everglow dan gara-gara menulis artikel ini, sepertinya saya harus kembali mendengarkannya saat menulis.

In Love and Death (2004) – The Used

Huh, isn’t too ‘chaos’ to be listened for writing? Buat saya jawabannya tidak. Genre tidak memberi pengaruh besar selama album yang bersangkutan bisa membuat saya nyaman menulis. Termasuk In Love and Death dari The Used. Saya sudah mendengarkan mereka sejak duduk di bangku SMP dan masih betah menikmatinya. The Used is not so-called emo band for me. Kalau kalian dengar lagu-lagunya, mereka bisa memasukkan unsur elektronik, orkestra, sampai jazz di tengah-tengah keriuhan alternative rock. Namun, dengan banyaknya sentuhan yang The Used berikan dalam In Love and Death, saya ternyata masih bisa fokus untuk menulis. Kadang ada satu-dua lagu yang akhirnya masuk ke dalam cerita.

From Under the Cork Tree (2005) – Fall Out Boy

Who doesn’t like Patrick Stump’s voice? Sejak kali pertama mendengarkan Sugar, We’re Going Down sepuluh tahun silam, saya tahu saya akan jadi penggemar mereka untuk waktu yang lama. Meski album setelah From Under the Cork Tree semakin bagus dan ‘tumbuh dewasa’, saya punya kesan paling mendalam dengan album ini. From Under the Cork Tree menemani masa-masa awal saya menulis dan menerjemahkan. Yes, saya mulai belajar menerjemahkan gara-gara suka lagu Dance, Dance, tapi sebel karena enggak tahu apa artinya. Dulu terjemahannya masih berantakan banget, soalnya saya pakai teknik word per word yang maha kacau itu. Sekarang, sih, saya sudah paham semua dan bikin betah menulis lama. Ah, you guys are so irresistible.

4

Eat, Sleep, Repeat (2006) – Copeland

Copeland adalah salah satu band kesukaan saya dan sejauh ini mereka selalu mengeluarkan album-album yang bagus. Dari lima yang mereka rilis, favorit saya masih jatuh pada Eat, Sleep, Repeat. Sebelas nomor yang ada di rilisan ini membentuk satu atmosfer yang… enak. Tempo lagu-lagunya tidak terlalu cepat atau lambat. Duh, saya sendiri bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Satu hal yang pasti, saat saya kali pertama mendengar album ini, saya tidak mau menekan tombol Pause atau Stop sama sekali. Saya malah lancar jaya menulis saat Eat, Sleep, Repeat masuk ke playlist. Semua album Copeland sebenanrnya cocok didengar saat saya sedang menulis, tetapi belum ada yang bisa mengalahkan kenikmatan dari Eat, Sleep, Repeat.

5

Homesick (2009) – A Day to Remember

There’s something about this band. A Day to Remember sebenarnya hampir sama dengan The Used. Mereka bisa memasukkan genre lain dalam lagunya, meski enggak sebanyak The Used. Monument adalah lagu pertama yang mengantarkan saya pada album-album A Day to Remember yang lain. For Those Who Have Heart bagus, sih, tapi bikin fokus menulis saya berantakan. Baru di Homesick, saya bisa mendengarkan satu album penuh sambil menulis. Sekilas, Homesick lebih soft (dan agak monoton) dibandingkan For Those Who Have Heart. Di sisi lain, album ini juga lebih emosional. Kalau enggak, mana mungkin saya sampai menulis cerita dari lagu Have Faith in Me dan If It Means a Lot to You. Saya juga punya satu karakter fiksi bernama Ares yang ceritanya suka banget sama A Day to Remember.

Hmm, enggak ada album lokal, nih? Ada, kok, tapi biasanya situasional (hahaha) dan hanya didengar per lagu. Salah satu album band lokal yang saya dengar adalah Friends (2004) dari Mocca. Saya biasanya mendengarkan Mocca kalau lagi menulis cerita remaja. Menurut saya, lagu-lagu mereka punya atmosfer yang sesuai untuk kisah-kisah di bangku SMP-SMA. Selain Mocca, saya juga suka dengar Efek Rumah Kaca, Polyester Embassy, dan AFFEN / Trou saat sedang menulis cerita.

Five isn’t enough, actually, tapi album-album di atas adalah lima terbaik yang masih saya dengar saat menulis sampai sekarang.

Mind to share yours?

 

erl.