Life · music

[Review] Copeland Back to Bandung: the Unexpected Return

CopelandBack

So, it took a week for me to write this review.

Setelah hampir satu dekade mengagumi dan enam tahun menanti (yang saya pikir bakal sia-sia), akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat aksi panggung Copeland di acara The 8th International Kampoeng Jazz, 30 April 2016. In case you don’t know, Copeland is one of The Muse—julukan yang saya berikan untuk mereka yang memberi pengaruh dan inspirasi besar pada tulisan-tulisan saya.

Begitu tahu Copeland bakal ke Bandung untuk kali kedua, tanpa pikir panjang saya langsung mengosongkan tanggal di atas. Sebenarnya saat itu saya berpikir kalau bisa menonton saja sudah bikin saya bersyukur habis-habisan.

Tapi siapa sangka kalau 30 April kemarin bakal jadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup?

*

Copeland adalah band luar negeri keempat yang konsernya (I don’t think it was a concert, but whatever) saya datangi setelah Mae (2009), We Are the in Crowd (2012), dan Motion City Soundtrack (2013). Iya, saya kalau mau nonton konser pilih-pilih banget. Kalau bukan favorit dan enggak hafal lagu-lagunya, mana mau saya datang. Dalam kasus Copeland, mereka ini spesial buat saya. Kedatangan mereka ke Bandung kali ini semacam penebus rasa bersalah karena saya  enggak datang ke farewell show mereka tahun 2010 lalu.

Di rundown, Copeland main sekitar pukul sepuluh malam setelah Andien. Memelesat jauh dari ekspektasi saya dan beberapa teman yang mengira Copeland bakal main pukul delapan atau sembilan malam. Tapi, masa bodo, kami toh tetap datang. Bahkan saya dan salah seorang teman, Tari, sudah stay di baris pertahanan terdepan sejak pukul setengah lima sore. Hujan-hujanan. Kena angin. Dempet-dempetan. Lapar. Ngantuk.

Sumpah deh kalau bukan buat Copeland, saya pasti lagi di rumah sambil tidur-tiduran.

Rundown yang awalnya berjalan mulus pun ngaret setelah Koes Plus turun panggung. Saya mulai panik, tapi tetap berusaha santai. Oke, dua artis lagi. Tahan, tahan. Syukurnya, dua artis sebelum Copeland—Maliq & D’Essentials dan Andien—mainnya bagus banget. Jadi saya cukup terhibur meski bukan penggemar mereka. Plus, tatanan pencahayaan dan sound-nya lumayan apik. Jadi saya sudah bisa membayangkan bakal sebagus apa kalau Copeland yang main nanti.

Pretty sure the crowd won’t forget how shameless the MC that night. In a good way.

Lalu, setelah penantian yang terasa selamanya, satu per satu personil Copeland naik ke atas panggung. Saya sempat kaget sekaligus takjub karena mereka melakukan seting alat dan tetek bengek lainnya sendirian (sesekali dibantu panitia, tapi enggak terlalu sering). Aaron Marsh, sang vokalis utama, bahkan membawa piano keramat yang jadi partner bermainnya di atas panggung dalam beberapa show Copeland.

Saya berdiri tepat beberapa meter di depannya.

Dan, sekuat apapun saya berusaha menahan lonjakan euforia dan antusiasme saat melihat Copeland di atas panggung, teriakan histeris itu akhirnya keluar juga saat Have I Always Loved You? dibawakan sebagai pembuka.

*

20160430_231505

Sayang, sayangnya, suara Marsh tidak terdengar maksimal karena sound yang agak bermasalah. Meski begitu, dia terus bernyanyi sambil memainkan piano keramatnya. Lighting belum bermain terlalu banyak juga karena tempo lagu yang cukup slow. Sebagian orang yang tahu atau mendengar album terbaru mereka, Ixora, juga ikut menyenandungkan lagu tersebut.

Tanpa basa-basi Disjointed dimainkan begitu lagu kesatu tuntas.

Di lagu ini, selain Marsh, Bryan Laurenson (gitar), Stephen Laurenson (gitar, synth), Bobby Walkerug (bas), dan Jordan Butcher (drum) mulai terlihat atraktif dengan instrumen masing-masing. Lighting juga sama mengentaknya dengan lagu yang mereka bawakan. Bahkan Marsh dengan fasih mengucapkan, “Terima kasih!” begitu menuntaskan Disjointed.

Masih dari Ixora, I Can Make You Feel Young Again dan Erase dibawakan setelah Disjointed. Kerumunan di sekitar saya masih nyanyi sekilas-sekilas, tapi kami mulai terbawa suasana dan rasanya sulit mengalihkan perhatian dari permainan mengesankan Marsh dengan pianonya. Dua lagu ini adalah favorit saya dari Ixora, jadi saya pasti bakal menyesal kalau tidak mengamati dengan saksama.

Kemudian di lagu berikutnya, bukan hanya kualitas sound yang mulai membaik, tapi atmosfer suasana juga berubah drastis begitu Marsh menyanyikan Should You Return dari album You Are My Sunshine.

Jangan tanya keadaan saya gimana saat itu. Saya jadi sama malu-maluinnya kayak dua MC yang lempar guyonan-guyonan receh sebelum Copeland main.

You Are My Sunshine adalah album keempat Copeland yang juga (sempat) jadi album perpisahan mereka sebelum menyatakan bubar tahun 2009. Menurut saya, Sunshine adalah salah satu album terbaik yang pernah Copeland rilis. Sepertinya sebagian besar penggemar Copeland pun setuju, karena kerumunan makin memanas saat Marsh melanjutkan pertunjukan dengan lagu Chin Up.

*

20160430_231804

Malam itu Copeland sepertinya ingin membolak-balik emosi kami, karena selepas Chin Up, mereka membawakan nomor-nomor lama dari Beneath Medicine Tree. Stephen dan Bobby mengacungkan ponsel mereka dengan flash menyala. Otomatis kami melakukan hal yang sama dan kembali histeris begitu tahu kalau lagu yang akan dibawakan selanjutnya adalah Brightest.

Dan kali ini, Marsh membawakan lagu tersebut sendiri. Dari layar yang berada di samping kanan panggung, saya bisa melihat kerumunan seketika tampak seperti lautan kunang-kunang. Sesuai dengan lirik yang dilantunkan Marsh, “And she says that I am the brightest little firefly in her jar.”

Coffeeone of my alltime favorite songs from Copeland—membuat suasana menjadi santai dan, seperti judulnya, bikin saya pengin nyeduh kopi di tengah kerumunan. The crowd didn’t miss any lines, too. Di sisi lain, saya mulai cemas kalau Copeland akan mengakhiri permainannya dalam satu atau dua lagu ke depan, karena jatah rata-rata artis lain tidak lebih dari dua belas lagu.

20160430_233431

Tapi, kecemasan saya dipatahkan, sebab masih ada banyak lagu yang mereka bawakan. Selepas Coffee, Marsh kembali membawa kami ke album Sunshine dengan The Day I Lost My Voice dan On the Safest Ledge.

ON THE SAFEST LEDGE, YA TUHAN.

Sialnya, seperti salah satu judul lagu mereka, saat itu suara saya sudah hampir hilang. Tapi ini Safest Ledge dan saya memaksakan diri untuk ikut sing-a-long. Safest Ledge adalah lagu yang terus saya putar beberapa hari sebelum acara tersebut dan mustahil rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan lagu seindah ini.

*

Marsh, kembali dengan permainan solo, lagi-lagi membuat kami baper maksimal dengan Hold Nothing Back dari album In Motion dan Priceless. Mungkin karena kepepet sama waktu, Marsh membawakannya beberapa lagu dalam format medley. Still good—no, that was great. Kami juga enggak mungkin enggak nyanyi di lagu Priceless (ini salah satu lagu Copeland yang pernah saya kembangkan jadi satu novel penuh).

20160430_235555

Seolah belum lelah, Copeland kembali menguji kami dengan dua lagu yang cukup upbeat, Take Care dan No One Really Wins. Saya? Saya sudah mulai kelelahan dan memilih untuk menikmati permainan Copeland di atas panggung sambil mendengarkan nyanyian kerumunan di belakang. Hey, it doesn’t mean I’m bored. Seandainya stamina tubuh pukul setengah lima sore bisa diambil, saya pasti akan memakainya untuk gila-gilaan di paruh terakhir pertunjukan Copeland.

20160501_000359

Selepas When Paula Sparks, Marsh akhirnya mengumumkan kalau dia akan membawakan lagu terakhir. And I was like, nonononononono. Namun, begitu intro dimainkan, saya tiba-tiba cenghar dan nyaris memeluk Tari begitu tahu lagu yang dipilih sebagai penutup adalah You Have My Attention.

Everyone went fully emotional at that moment.

Saya pribadi punya kenangan dengan lagu manis ini, jadi saya tidak mau kehilangan momen satu detik pun saat Copeland memainkannya. Marsh dan kawan-kawan yang awalnya terlihat santai, berubah jadi cukup agresif di atas panggung begitu memasuki paruh terakhir lagu. Bahkan mereka sempat loncat-loncat dan membuat teriakan kerumunan makin keras. Lantas, tepat saat lagu berakhir, kembang api muncul dari sisi panggung.

Kemudian, Marsh melepas gitarnya, mendekati standing mic, dan sekali lagi mengucapkan, “Terima kasih!” dengan dua tangan tersilang di dada.

20160501_001614

*

Wasn’t it enough?

Nope.

Copeland mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam lebih beberapa menit dengan total 16 lagu. Kami tahu jatah Copeland sudah habis, tetapi sebagian orang tetap meneriakan we want more! Saya sempat berharap mereka naik lagi dan membawakan satu-dua lagu (mereka tidak membawakan California! Demi apa! Dan enggak ada lagu dari Eat, Sleep, Repeat).

But the show really ended. Sambil berjalan keluar dari venue, saya sempat melihat kerumunan heboh begitu beberapa personil seperti Bryan dan Jordan melemparkan pick gitar dan stick drum. Saya mau saja rebutan kalau badan saya enggak jerit-jerit minta pulang.

Kendati ada beberapa kekurangan, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada Kampoeng Jazz karena sudah mendatangkan Copeland sebagai salah satu bintang tamu (spesial). Beberapa orang mungkin merasa janggal karena Copeland bukan band aliran jazz. Tapi saya sih enggak terlalu peduli, karena akhirnya penebusan rasa bersalah saya tuntas sudah malam itu.

Setelah bertahun-tahun tidak merasakan euforia konser, malam itu saya seperti dilempar kembali ke hari di mana saya nonton konser kali pertama tujuh tahun lalu. Pertunjukan kedua Copeland di Bandung bukan hanya membayar rasa bersalah, tetapi juga membawa kembali hal-hal mengesankan yang saya rasakan sejak masih jadi remaja tanggung sampai sekarang. Jadi, rasanya wajar kalau sampai sekarang, termasuk saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari malam mengesankan tersebut.

And it should’ve been us who said ‘thank you’ that much, dear Copeland. You always make us feel young again.

Sampai jumpa lagi!

 

erl.

CdLlAICUMAEygUK

ps: Baru sadar kalau saya menulis draf tulisan ini tanggal 8 Mei, which is tanggal yang sama waktu Copeland konser kali pertama di Bandung enam tahun lalu.

pss: Kalian bisa lihat keseruan Copeland (dan kisah fangirl/fanboy-nya) dengan mengetik tagar #CopelandBackToBandung di Twitter atau Instagram.

Life

[Review] How to Grow Them Great by Bebelac

Saya memang belum menikah, apalagi punya anak. Namun, status tidak harus jadi alasan untuk berhenti menggali ilmu, bukan? Meski masih lajang, sebagian teman wanita saya sudah menikah dan punya satu-dua anak. Tak jarang saya memperhatikan cara mereka merawat sang buah hati atau berbagi cerita (juga keluhan) di chat room.

Dari sana saya berpikir, bagaimana, ya, kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? Apa saya bisa mengurus dan membangun karakter yang baik untuk mereka?

Nah, lantas pada hari Sabtu, 26 Maret 2016, saya kembali mendapatkan sepotong ilmu berharga seputar parenting. Bertempat di Main Atrium, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Bebelac memperkenalkan sebuah kampanye yang laik disimak oleh para orangtua. Kampanye tersebut bernama #bebehero, di mana para orangtua—khususnya ibu—diajak untuk membangun kecerdasan emosional (EQ). Selain itu, para ibu juga dikenalkan pada cara pengembangan empati terhadap anak.

Untuk menunjang pertumbuhan yang optimal pada anak, dibutuhkan asupan nutrisi yang tepat seperti asam linoleat dan mineral. Kemudian, agar lebih seimbang, anak juga memerlukan vitamin dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur, lauk-pauk, serta susu. Dalam hal ini, Bebelac dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan vitamin A, zinc, zat besi, iodium, dan kalsium.

Demi mewujudkan karakter yang baik dan menumbuhkan empati, diperlukan peran sang ibu sebagai pengajar pertama bagi putra-putrinya. Anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Semakin baik dan terkontrol seorang ibu dalam memberi contoh, semakin bagus juga perilaku sang anak.

20160326_110022

Menurut Andi Airin, selaku Senior Brand Manajer Bebelac, pemberian nutrisi yang optimal dapat diberikan oleh ibu sejak masih mengandung hingga anak berusia dua tahun. Jika pertumbuhannya baik, maka anak pun akan lebih cepat tanggap dalam mempelajari hal-hal di sekitarnya. Selain itu, mereka juga akan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus rasa empati yang baik. Andi pun menuturkan pengalaman tentang anaknya yang hafal dengan jam pulang kerja dan selalu menyambutnya setiap kali tiba di rumah.

Sedangkan psikolog Roslina Verauli memaparkan tentang cara mengembangkan empati anak sejak dari rumah. Sebab empati merupakan gerbang dari aksi kepedulian terhadap orang lain. Empati juga menjadi pendukung terbentuknya karakter kepahlawanan yang tentunya tidak harus tercermin dalam aksi yang besar. Contohnya dituturkan oleh pesepakbola nasional, Bambang Pamungkas. Untuk menumbuhkan empati tersebut, Bambang akan menunjukkan nilai-nilai kebaikan, bahkan dari hal yang paling kecil sekalipun. Salah satunya adalah membantu sang anak untuk menyumbangkan pakaian kepada yayasan yang dia kelola.

Bukan hanya dari para pembicara saja, dalam sesi tanya-jawab pun saya mendapatkan banyak pelajaran tentang parenting. Di antaranya dengan mencegah terlahirnya golden child atau anak emas yang menimbulkan kecemburuan pada anak lainnya. Menurut Roslina, hal tadi ternyata muncul karena orangtua tanpa sadar telah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Lantas, ada juga yang ingin tahu sampai kapan pengembangan empati seorang anak harus diterapkan. Jawaban dari sang psikolog pun cukup mengejutkan: tidak ada batasan usia sama sekali.

20160326_112133

Oh ya, selain itu di venue Bebelac ada 14 stan permainan khusus anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Saya lihat sih yang paling diminati adalah kolam bola yang berada tepat di belakang deretan kursi tamu. Tapi, semakin siang, semakin banyak anak yang datang dan mencoba stan-stan lainnya.

20160326_120535

Satu kata untuk acara dari Bebelac ini: seru! Saya bisa mengaplikasikan ilmu dari para pembicara tadi kalau sudah punya anak di kemudian hari.

20160326_120553

erl.

 

ps: sst, Bebelac sedang mencari sosok #bebehero! Hadiah utama yang akan pemenang dapatkan adalah kesempatan untuk jadi bintang iklan Bebelac dan terbang ke Australia! Kontes ini berlangsung sampai tanggal 24 April 2016 dan keterangan lengkapnya bisa kalian klik di: http://bebeclub.co.id/growthemgreat/bebehero/

writing

[Review] Cukup Satu Tetes Bersama Lifebuoy Clini-Shield 10

Satu Tetes Saja!

Adik saya yang paling kecil, Kamila, suka sekali dengan kegiatan mandi. Bahkan dia cukup sering minta dibelikan kebutuhan dan peralatannya. Salah satunya sabun dengan beragam warna, wangi, dan bentuk. Karena keluarga kami sudah lama memakai produk Lifebuoy, Kamila juga mengincar sabun dari produsen tersebut. Kadang dia ingin sabun batang, di lain hari dia pengin yang likuid.

Sekilas, permintaan anak kecil yang belum genap lima tahun ini tidak terkesan aneh. Tapi, lama-lama, pemakaiannya jadi boros juga, karena mood Kamila suka berubah dan pada akhirnya kami menaruh sabun batang dan likuid di kamar mandi. Lantas saya berpikir, kira-kira ada enggak ya produk yang bisa menggabungkan kebaikan sabun batang dan likuid?

Daaan kebingungan saya akhirnya dipecahkan oleh produk terbaru Lifebuoy, Lifebuoy Clini-Shield 10.

Pintu masuk
Pintu masuk area Lifebuoy Clinic-Shield 10

Hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 5 Maret 2016, saya menghadiri acara peluncuran Lifebuoy Clini-Shield 10 di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan. Bersama blogger lainnya, kami berkesempatan untuk mengetahui lebih dalam tentang produk terbaru Lifebuoy ini. Ibu Indriani, selaku Senior Brand Manager Lifebuoy, memaparkan bahwa sabun gel konsetrat tersebut lahir dari kebutuhan konsumen, terutama para ibu, akan sabun yang mengadirkan pengalaman mandi menyenangkan bagi anak sekaligus melindunginya dari kuman maupun bakteri jahat.

Para konsumen juga kerap dihadapkan pada dilema penggunaan sabun batang dan likuid. Dari segi harga, sabun batang jauh lebih murah dan meninggalkan sensasi keset pada kulit setelah dibilas. Namun, sabun likuid punya kelebihan lain yang tidak dimiliki sabun batang. Di antaranya wangi yang lebih tajam serta busa melimpah. Meski lebih boros pemakaiannya dan dari segi harga memang lebih tinggi dibandingkan sabun batang.

Ibu Indriani dan Ersa Mayori

Lantas, Lifebuoy Clini-Shield 10 hadir sebegai pemecah dilema tersebut. Sabun gel konsentrat pertama di dunia ini pun menghadirkan perlindungan terhadap kuman 10 kali lipat lebih baik. Cara pakainya juga sangat mudah, yakni dengan menuang satu tetes sabun gel (sekitar 2-3 ml) pada satu jari, gosok sampai busa melimpah, basuh pada bagian yang diinginkan, dan bilas dengan air sampai bersih. Kombinasi kebaikan sabun batang dan likuid pada Lifebuoy Clini-Shield 10 akan membuat kulit tubuh kita bersih, wangi, dan sehat.

Setelah pemaparan dari Ibu Indriani, kami juga mendapatkan tips dari artis cantik Ersa Mayori. Ibu dua anak ini berbagi pengalaman untuk membuat kegiatan mandi menjadi menyenangkan bagi kedua putrinya. Antara lain menggunakan shower puff dan, tentunya, sabun seperti Lifebuoy Clini-Shield 10 untuk menciptakan busa yang melimpah. Selain pengalaman mandi mengesankan, shower gel concentrate tersebut pun mengajarkan anak-anaknya untuk belajar hemat dalam menggunakan sabun.

Satu hal lain yang membuat Lifebuoy Clini-Shield 10 semakin menarik adalah kemasannya yang berbeda dari sabun lainnya. Sabun gel konsentrat ini dikemas dalam tube dengan ukuran 35 ml dan 100 ml. Dengan wadah tube tersebut, sabun tidak akan mudah berceceran dan membuatnya praktis dibawa ke mana-mana. Kemudian, produk terbaru Lifebuoy tersebut hadir dalam dua warna, yaitu merah untuk Complete dan hijau untuk Fresh.

Show the Product!

Dalam acara peluncuran tersebut, pihak Lifebuoy juga menyediakan booth produk dan berbagai permainan untuk anak-anak. Jadi, kita bisa langsung membeli Lifebuoy Clini-Shield 10 sekaligus mengajak anak bermain di sana. Sayangnya, saya enggak bisa bawa Kamila ke Citos. Dia pasti bakal betah main di booth mewarnai dan gelembung, salah dua permainan yang ada di area Lifebuoy Clini-Shield 10.

Booth mewarnai gambar
Booth mewarnai gambar
Main gelembuuung

Well, dan meskipun saya belum menikah, produk terbaru Lifebuoy ini lumayan banget buat menghemat pengeluaran. Lumayan, kan, uangnya bisa dipakai buat jajan atau beli buku. Hehe.

Thanks for having me, Lifebuoy. Tetap berinovasi untuk menjaga kesehatan keluarga Indonesia!

 

erl.

Jpeg
Hand for scale
music · writing

[Writing] 5 Album Terbaik untuk Teman Menulis

Beberapa orang yang saya kenal punya kebiasaan mendengarkan musik saat mengerjakan sesuatu, salah satunya untuk menulis. Kebiasaan ini juga sudah sering saya lakukan sejak duduk di bangku SMP. Lagu-lagu tertentu bisa membangun atmosfer yang bagus untuk tulisan. Malah sebagian di antaranya saya masukan ke dalam cerita, supaya pembaca jadi ikut penasaran buat mendengarkan. Hehe.

Namun, sekitar satu atau dua tahun terakhir, kebiasaan itu tidak terlalu sering saya lakukan. Apalagi beberapa lagu malah membuat saya melamun atau pengin sing a long sampai lupa dengan tulisan. Lantas, saya lebih memilih untuk mendengarkan musik saat jalan-jalan atau sedang tidak menulis.

Eh, tapi masih ada beberapa lagu atau album yang saya dengarkan saat sedang menulis. Here’s the list!

The Everglow (2004) – Mae

Saya awalnya enggak suka album ini. Satu-satunya lagu yang saya dengar adalah Suspension. Setelah berbulan-bulan mendekam di hard disk, saya iseng mendengarkan The Everglow lagi dan, kok tiba-tiba jadi enak banget, ya? Lantas setelah itu, saya terus mendengarkan album ini, termasuk saat sedang menulis. Di bangku SMA, saya malah pernah kepikiran buat bikin satu novel dari lagu-lagu di The Everglow (dan belum kesampaian, pemirsa). Malah di bangku kuliah, saya punya ritual mendengarkan album ini minimal satu kali saat sedang menggodok naskah. Saya sampai percaya kalau kelancaran cerita sangat bergantung pada The Everglow. Sekarang, saya sudah agak jarang dengar The Everglow dan gara-gara menulis artikel ini, sepertinya saya harus kembali mendengarkannya saat menulis.

In Love and Death (2004) – The Used

Huh, isn’t too ‘chaos’ to be listened for writing? Buat saya jawabannya tidak. Genre tidak memberi pengaruh besar selama album yang bersangkutan bisa membuat saya nyaman menulis. Termasuk In Love and Death dari The Used. Saya sudah mendengarkan mereka sejak duduk di bangku SMP dan masih betah menikmatinya. The Used is not so-called emo band for me. Kalau kalian dengar lagu-lagunya, mereka bisa memasukkan unsur elektronik, orkestra, sampai jazz di tengah-tengah keriuhan alternative rock. Namun, dengan banyaknya sentuhan yang The Used berikan dalam In Love and Death, saya ternyata masih bisa fokus untuk menulis. Kadang ada satu-dua lagu yang akhirnya masuk ke dalam cerita.

From Under the Cork Tree (2005) – Fall Out Boy

Who doesn’t like Patrick Stump’s voice? Sejak kali pertama mendengarkan Sugar, We’re Going Down sepuluh tahun silam, saya tahu saya akan jadi penggemar mereka untuk waktu yang lama. Meski album setelah From Under the Cork Tree semakin bagus dan ‘tumbuh dewasa’, saya punya kesan paling mendalam dengan album ini. From Under the Cork Tree menemani masa-masa awal saya menulis dan menerjemahkan. Yes, saya mulai belajar menerjemahkan gara-gara suka lagu Dance, Dance, tapi sebel karena enggak tahu apa artinya. Dulu terjemahannya masih berantakan banget, soalnya saya pakai teknik word per word yang maha kacau itu. Sekarang, sih, saya sudah paham semua dan bikin betah menulis lama. Ah, you guys are so irresistible.

4

Eat, Sleep, Repeat (2006) – Copeland

Copeland adalah salah satu band kesukaan saya dan sejauh ini mereka selalu mengeluarkan album-album yang bagus. Dari lima yang mereka rilis, favorit saya masih jatuh pada Eat, Sleep, Repeat. Sebelas nomor yang ada di rilisan ini membentuk satu atmosfer yang… enak. Tempo lagu-lagunya tidak terlalu cepat atau lambat. Duh, saya sendiri bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Satu hal yang pasti, saat saya kali pertama mendengar album ini, saya tidak mau menekan tombol Pause atau Stop sama sekali. Saya malah lancar jaya menulis saat Eat, Sleep, Repeat masuk ke playlist. Semua album Copeland sebenanrnya cocok didengar saat saya sedang menulis, tetapi belum ada yang bisa mengalahkan kenikmatan dari Eat, Sleep, Repeat.

5

Homesick (2009) – A Day to Remember

There’s something about this band. A Day to Remember sebenarnya hampir sama dengan The Used. Mereka bisa memasukkan genre lain dalam lagunya, meski enggak sebanyak The Used. Monument adalah lagu pertama yang mengantarkan saya pada album-album A Day to Remember yang lain. For Those Who Have Heart bagus, sih, tapi bikin fokus menulis saya berantakan. Baru di Homesick, saya bisa mendengarkan satu album penuh sambil menulis. Sekilas, Homesick lebih soft (dan agak monoton) dibandingkan For Those Who Have Heart. Di sisi lain, album ini juga lebih emosional. Kalau enggak, mana mungkin saya sampai menulis cerita dari lagu Have Faith in Me dan If It Means a Lot to You. Saya juga punya satu karakter fiksi bernama Ares yang ceritanya suka banget sama A Day to Remember.

Hmm, enggak ada album lokal, nih? Ada, kok, tapi biasanya situasional (hahaha) dan hanya didengar per lagu. Salah satu album band lokal yang saya dengar adalah Friends (2004) dari Mocca. Saya biasanya mendengarkan Mocca kalau lagi menulis cerita remaja. Menurut saya, lagu-lagu mereka punya atmosfer yang sesuai untuk kisah-kisah di bangku SMP-SMA. Selain Mocca, saya juga suka dengar Efek Rumah Kaca, Polyester Embassy, dan AFFEN / Trou saat sedang menulis cerita.

Five isn’t enough, actually, tapi album-album di atas adalah lima terbaik yang masih saya dengar saat menulis sampai sekarang.

Mind to share yours?

 

erl.

Life

[Life] The Introvert’s Drama

Saya sebenarnya sudah pernah menulis beberapa entri tentang introver di blog lama. Tapi, berhubung tulisannya alay, jadi saya bikin yang baru dan lebih rapi.

Jadi, apa itu introver? Kalau kata KBBI, sih:

intro

Kalian pernah satu kelas sama murid pendiam dan lebih suka baca buku daripada makan di kantin (wait, me?)? Nah, orang-orang introver kurang lebih seperti itu. Saya sendiri baru tahu istilah ini saat masuk kuliah setelah kenyang dibilang pendiam, kaku, dan pemalu selama bertahun-tahun. Saya pernah mencoba untuk jadi ekstrover alias lebih terbuka, tapi paling maksimal sampai level ambivert.

Nyatanya sampai sekarang masih ada yang belum paham dengan introver. Ada beberapa pertanyaan atau, ya, semacam sindiran yang saya dapatkan karena punya sifat ini. Nah, saya kumpulkan dan simak penjelasannya di bawah ini

  1. “Sendirian aja?”

Ya. Ya enggak juga sih. Ada malaikat pencatat amal, kok, di kanan-kiri saya. *eh

Para introver menikmati kesendirian. Kami suka, kok, bersosialisasi. Sayangnya, ‘baterai’ kami tidak setangguh para ekstrover yang bisa tahan ngobrol berjam-jam. Selepas gibah hore sama teman-teman atau nonton konser, saya akan merasa lelah luar biasa. Bahkan bertemu satu atau dua orang pun bisa capek, lho. Makanya, saya suka pulang sendirian untuk mengisi daya ‘baterai’ yang terkuras selama bertemu dengan banyak orang tadi (kecuali kalau butuh tebengan atau diantar gebetan. Hehe.)

Untuk bertemu dengan orang banyak, kami juga butuh tenaga yang banyak. Jadi biasanya, saya akan melakukan persiapan seperti menentukan waktu berangkat dan pulang, serta basa-basi busuk pengisi kekosongan. Perjalanan ke tempat tujuan pun terhitung sebagai pengisian daya. Makanya, kalian pasti sering mendapati introver datang sendirian ke acara tertentu.

  1. “Kok diam aja?”

We hate small talks.

Saya punya kebiasaan observasi di pertemuan pertama. First impression adalah harga mati, meski tidak jarang penilaian kami bisa salah di kemudian hari. Kalau lawan bicara kami menyenangkan, kami pasti akan membuka diri pelan-pelan. Kalau enggak, bye (tapi saya masih kasih kesempatan sampai dua atau tiga kali. Kalau masih gitu-gitu aja, bye.) Saking pendiamnya, beberapa teman menyangka kalau saya cuma ngomong kalau ada perlunya saja. Sakit, cuy. Saya makin ngediemin mereka aja jadinya.

Nah, begitu. Introver bisa ngomong, kok. Serius. Asal kalian masuk kriterianya aja, ya.

  1. “Kenapa ngelamun terus dari tadi?”

Also, we are deep thinkers.

Masih berkaitan dengan poin pertama, untuk masuk ke area berpikir lama dan dalam, kami pasti akan menyendiri. Beberapa introver mungkin akan melakukannya di tempat-tempat sepi. Sebagian lagi mungkin sudah bisa melakukannya di kafe atau di tengah kerumunan konser. Sekilas, kami mungkin kayak orang kebingungan karena diam dalam waktu lama dengan tatapan kosong. Kami juga akan terganggu luar biasa kalau sesi berpikir itu terputus di tengah jalan. Makanya, kalau kalian punya teman introver dan lihat dia dalam sesi ini, jangan diganggu ya.

Kecuali kalau ngelamunnya sampai enggak tidur berhari-hari.

  1. “Kok enggak ngajak-ngajak?”

Hmm, gimana ya….

Pertanyaan ini muncul kalau saya check in di Path atau posting foto lagi tempat makan atau sejenisnya. Mungkin agak aneh, kali, ya, karena yang lain kalau check in pasti lagi sama geng atau pacarnya. Lah, saya sendirian aja. Terus enggak ngajak-ngajak lagi. Huh.

Saya bukannya enggak mau ngajak, tapi ini masih berkaitan sama nomor tiga. We need this me-time (kalian juga pasti butuh, kan, meski bukan introver?) Jadi, jangan banyak protes, ya, kalau saya pergi sendirian. Kecuali kalau saya respons, berarti saya enggak keberatan kalian temani. Atau saya ajak kalau memang sedang ingin ditemani.

  1. “Kamu lebih lancar ngobrol pas chatting, ya.”

HAHAHA.

True story.

Karena lebih sering berpikir dan menyendiri, kami otomatis jadi irit bicara. Saya bahkan paling takut dan waswas kalau bertemu sesi presentasi di kelas (jangan tanya sefrustrasi apa waktu saya mau sidang). Talk is cheap, they said, but hell nope for us. Makanya SMS dan aplikasi chatting jadi semacam pahlawan buat kami. Menulis jadi semacam keahlian para introver, karena kami enggak usah repot ngomong dengan berbelit-belit.

Ya terus menurut kalian kenapa saya jadi penulis? *lel

Tapi pada kondisi tertentu, kami bisa bicara lancar dalam waktu lama. Saya akan masuk mode tersebut kalau sedang mendiskusikan hal-hal yang saya suka. Begitu beres, sih, ya, saya jadi pendiam lagi.

  1. “Balas, dong, chat-nya.”

Jadi begini… ternyata SMS dan chatting pun tidak selamanya menguntungkan.

Saya sering membiarkan beberapa pesan tak terbalas karena menganggap percakapan itu sudah selesai. Namun, beberapa orang ternyata butuh balasan singkat, meski dengan oke, sudah diterima, atau y. Sebenarnya saya kesal dan kurang suka, karena balasan singkat tadi masuk ke kategori 1) basa-basi dan 2) small talks. Tapi, dalam beberapa kondisi, saya mau tidak mau harus mengalah supaya si lawan bicara tidak senewen.

Y. K.

[insert emoticon]

  1. “Sendirian terus. Kapan punya pacar / suami / istri?”

Menjalin hubungan serius adalah hal tersulit lain setelah bicara.

Sebenarnya, jangankan pendamping sehidup-semati, menjalin pertemanan atau bisnis pun bukan hal mudah buat kami. Saya tipe orang yang sulit percaya dengan orang lain. Saya tidak mau berbagi cerita, rahasia, apalagi hidup dengan sembarang orang. Makanya, para introver punya lingkaran pertemanan yang cenderung kecil dan masih di situ-situ saja.

Lantas, kalau kamu berhasil mencuri perhatian saya (atau introver lain yang punya sifat seperti ini), saya akan percaya sepenuhnya sama kamu. Saya enggak akan segan-segan bicara panjang lebar dan mendiskusikan berbagai topik. Saya, kalau sudah percaya banget, akan menjadikan orang ini sebagai prioritas untuk berbagi cerita tentang apapun. Kalau sama yang lain saya benci basa-basi, sama orang-orang kepercayaan ini sih ya malah enggak segan lempar guyonan garing.

Itu baru sama teman. Can you imagine how complicated it is to be in a relationship with introvert?

Tapi, tapi, kalau kamu berhasil bikin introver jatuh cinta… they will try hard to never let you go. *hahay

Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang sering nyangkut, tapi tujuh poin di atas adalah yang paling sering dilontarkan. And, for us, being alone doesn’t mean we’re not feeling lonely. Iyes, kami juga bisa merasa kesepian. Kami mungkin terlihat aneh, tetapi selama kalian tahu cara menghadapi introver, enggak akan ada masalah, kok.

It’s quite long, tho, but thanks for reading.

 

erl.

 

p.s.: pemaparan di atas mungkin tidak berlaku untuk semua introver.

p.s.s: ini salah satu ilustrasi terbaik tentang introver.

Life · writing

[Publishing] Perhatikan Poin-poin Ini Sebelum Mengirim Naskah ke Penerbit

Ada beberapa teman dan pembaca yang bertanya bagaimana caranya kirim naskah ke penerbit. Sebenarnya, kirim naskah ke penerbit bukan perkara sulit. Tinggal dikirim ke alamatnya, kan? *eh* *bukan itu, ya?*

Pertanyaan tadi biasanya merujuk ke syarat dan ketentuan. Itu pun tidak bisa saya jawab langsung karena setiap penerbit punya poin yang berbeda. Entah dari genre cerita hingga format pengiriman. Namun, ada beberapa kesamaan yang dicantumkan para penerbit tersebut. Pada entri kali ini, saya mau membahas seputar kesamaan tadi dan hal-hal penting yang harus kalian perhatikan sebelum mengirim naskah ke penerbit.

  1. Kelengkapan Naskah dan Data Diri

Setidaknya, ada tiga komponen yang harus kalian siapkan: naskah, sinopsis, dan data diri. Ada juga komponen lain seperti surat pernyataan keaslian naskah, tetapi tidak semua penerbit memintanya. Nah, untuk naskah, pastikan ceritamu benar-benar sudah selesai. Enggak nyicil ngirimnya per bab macam kredit motor.

Sedangkan untuk sinopsis, usahakan kalian bisa merangkum cerita dari awal sampai akhir sepanjang dua halaman A4 (standar). Iya, awal sampai akhir, karena ternyata masih ada yang kirim sinopsis, tapi isinya gantung. Sok bikin penasaran sampai dikasih pertanyaan kayak “Apa mereka akan bertemu kembali? Simak ceritanya dalam [Judul Naskah].” Woooi, kalau itu sampai dibaca editor, bisa langsung ditolak. (Baca juga: Perbedaan Blurb dan Sinopsis)

Terakhir, cantumkan data diri selengkap dan seasli mungkin. Kalau sebelumnya kalian punya karya yang sudah diterbitkan, cantumkan juga. Lumayan, lho, buat ‘jual diri’.

  1. Format Penulisan

Standarnya, penerbit minta naskah diketik dengan huruf Times New Roman atau Calibri. Ukuran hurufnya 11pt atau 12pt, dengan spasi berkisar dari 1 sampai 2 spasi. Margin by default, artinya kalian enggak usah utak-atik Page Setup lagi. Kayaknya mudah, tapi masih ada yang bandel. Contohnya pakai jenis huruf berukir macam Jokerman atau Kristen ITC. Yaaa, kelihatan artistik, sih, cuma enggak akan dibaca karena bikin sakit mata. Terus, bagaimana kalau penerbit enggak mencantumkan jenis dan ukuran huruf? Kalian bisa pakai jenus huruf standar Times New Roman, ukuran 12pt. Atau bisa tanya dulu sama penerbitnya supaya lebih jelas (kalau katanya bebas, kembali pakai standar aja, lah).

Oh, satu lagi: jangan pakai jenis huruf Comic Sans MS, karena kalian kirim naskah buku, bukan komik.

  1. Cara Mengirim Naskah

Sebagian besar penerbit masih pakai metode yang sama, yaitu dikirim langsung ke alamat redaksi mereka. Supaya naskah kalian enggak berantakan, jilid atau pakai klip sesuai dengan ketebalan naskahnya. Kirim pakai amplop berlapis supaya enggak basah kalau kehujanan dan sampai dengan selamat. Akhir-akhir ini penerbit juga mulai buka metode lain melalui surat elektronik atau e-mail. Lumayan, kan, bisa hemat kertas dan tinta printer. Tapi, kalau penerbit enggak pakai metode lewat surel, jangan dipaksa buat bisa, ya. Standar setiap penerbit, kan, beda-beda.

  1. Jangan Kirim Satu Naskah ke Dua Penerbit

Ada yang pernah panik karena mengirimkan satu naskah ke dua penerbit berbeda dalam waktu berdekatan. Berita baik sekaligus buruknya adalah… kedua penerbit tadi menerima naskahnya! Kenapa baik? Ya berarti naskahnya sesuai standar penerbit dan laik muat, dong. Buruknya? Kalau sampai diterbitkan di dua penerbit, bisa chaos dunia penerbitan. Soalnya, penulis tidak boleh mengirimkan satu naskah ke dua penerbit berbeda dalam waktu bersamaan. Kesannya, si penulis serakah dan pengin ambil untung banyak. Sementara penerbit merasa dikhianati karena penulis tadi nyambi juga di tempat lain. Kalau sudah begitu, si penulis bisa di-blacklist. Bukan hanya di dua penerbit tadi, tapi bisa saja semua penerbit. Kelar, deh, karier dia sebagai penulis.

Hal ini juga berlaku untuk bentuk tulisan lain seperti artikel atau cerita pendek. Kalau mau, kalian harus sabar menunggu kabar dari satu penerbit. Baru kirim ke penerbit lain seandainya naskah kalian ditolak di penerbit sebelumnya.

  1. Kirim ke Penerbit yang Sesuai

Ini memang agak tricky dan mengandalkan keberuntungan. Kalian mungkin suka baca buku dari penerbit A, eh tapi malah jodoh sama penerbit B. Begitu pula sebaliknya. Tapi, satu hal yang pasti, jangan sampai kirim naskah ke penerbit yang enggak menerima genre tulisanmu. Jadi, ada baiknya kalian riset dulu ke lapangan (toko buku-red) dan pilih beberapa penerbit yang gaya ceritanya mendekati karya kalian. Kalian juga bisa tanya teman-teman, “Naskahku cocoknya masuk penerbit mana, ya?” Siapa tahu salah satu di antara mereka cukup teliti untuk hal ini.

Selain lima hal di atas, kalian juga harus sabaaar menunggu kabar tentang naskah. Penerbit membutuhkan rata-rata tiga sampai lima bulan untuk memberi konfirmasi selanjutnya. Bukan mau bikin kamu kesal karena menunggu, tetapi mereka menerima puluhan bahkan ratusan naskah yang harus diseleksi secara ketat. Kalau sudah lebih dari lima bulan belum dapat kabar, kalian baru bisa mengontak mereka buat tanya nasib si naskah.

Semoga tulisanmu bisa segera bertemu jodohnya!

 

erl.

Life · writing

[Writing] “Kayak gimana, sih, bikin tulisan yang bagus?”

Saya sebenarnya pengin kasih jawaban simpel buat pertanyaan itu: baca banyak buku dan rajin nulis. Read, write, repeat. Tapi, nyatanya kualitas menulis seseorang bisa dipengaruhi beberapa faktor. Kalian pasti akan menemukan banyak artikel tips penulis saat melakukan pencarian di Google. Sumbernya juga beragam; mulai dari pengarang best seller sampai penulis amatir. Dari ratusan atau ribuan artikel itu, mungkin kalian akan menemukan banyak kesamaan dari para sumber. Ada juga yang berbeda. Tergantung dari kebiasaan para sumber yang bersangkutan.

Bagaimana dengan saya? Tulisan saya mungkin masih jauh dari kata bagus banget atau sangat berkualitas. Writing is about learning for me. Jadi, poin-poin di bawah ini merupakan kebiasaan yang saya praktikan untuk meningkatkan mutu tulisan selama beberapa tahun terakhir.

  1. Baca Buku dari Berbagai Genre

Dulu, saya paling susah untuk mencoba pindah ke satu genre, baik dalam musik atau buku. Sampai seorang teman dekat meminjamkan beberapa buku koleksinya kepada saya. Katanya, saya harus membaca karya-karya dari genre berbeda untuk memperluas pikiran dan menambah wawasan. Awalnya memang susah, sampai ada beberapa buku yang tidak bisa saya selesaikan. Namun, lama-lama saya jatuh hati pada buku-buku dari genre yang belum pernah dibaca. Nah, dari sana saya mulai berani menyelami banyak genre dan hasilnya tidak mengecewakan. Kalian bisa mempelajari berbagai hal, mulai dari emosi sampai karakterisasi dari sudut pandang berbeda.

  1. Sering Jalan-jalan

Bandung—kota tempat saya lahir dan tinggal sekarang—sedang berada dalam fase paling nyaman dan menyenangkan. Ruang publik yang terus dipoles dan transportasi memadai berhasil menarik saya untuk keluar rumah. Sejak tiga tahun terakhir, saya menjadi turis di kota kelahiran sendiri. Saya menjelajahi sudut dan jalan kecil yang belum tersentuh. Dari perjalanan-perjalanan tadi, saya mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis. Kalian yang suka jalan-jalan—entah di dalam kota atau sampai ke luar negeri—jangan sampai lewatkan kesempatan tersebut. Observasi dan nikmati setiap pengalaman yang kalian dapat. Kemudian, tulis sedetail mungkin.

  1. Shut Your Inner Editor

Kalian suka mendengar suara-suara di dalam kepala yang sering muncul saat menulis? That’s the bitchy inner editor. Apalagi kalau suara-suara tadi suka kasih komentar sinis sampai kritik-kritik yang bikin kalian pada akhirnya malas menulis. Ugh. Saya masih mengalami hal itu dan kesulitan untuk membuat ‘mereka’ diam. “Write drunk, edit sober.”* Kalau nulis, ya, jangan kagok lah. Tulis saja kayak orang mabuk yang enggak memerhatikan keadaan sekitar, terutama sama suara-suara mengganggu di kepala. Lantas, setelah semuanya beres, baru sunting habis-habisan tulisan kalian tanpa ampun.

  1. Kongko sama Teman-teman

Writing is a solitary work. Bagi saya, itu benar. Kalian juga? Saking sibuknya menulis, kita kadang suka lupa sama kehidupan sosial. Padahal, dari interaksi dengan orang lain, kita juga bisa memperoleh banyak inspirasi. Nongkrong sama teman-teman dekat bukan sekadar ajang ngegibahin orang lain, tapi juga tempat menggali ide. Dari mereka, kalian bisa mengamati gaya bicara, ekspresi wajah, sampai suara. Eh, tapi jangan keasyikan observasi sampai kalian enggak ikutan ngobrol. Pastikan juga, ya, kalau teman-teman kalian rela dijadikan objek penelitian. Hehe.

  1. Istirahat yang Cukup

Ini penting. Banget. Saya pernah beberapa kali sakit hanya karena terlalu memforsir diri buat menyelesaikan tulisan. I know it’s your passion, but your body and mind need a rest, too. Ingat kasus copywriter yang meninggal gara-gara kerja non-stop sampai enggak tidur? Jangan sampai kejadian ini terulang. Atur jadwal menulis kalian supaya enggak bentrok sama waktu ibadah, makan, atau tidur. Seandainya kalian enggan meninggalkan cerita buat tidur, tulis saja poin-poin utamanya. Jadi, kalian tinggal mengembangkannya keesokan hari. Istirahat enggak akan bikin tulisan kalian buruk, kok. Suer. Percuma, kan, tulisan kalian tuntas, tetapi kesehatan malah drop?

Nah, ini tips dari saya buat meningkatkan kualitas tulisan. Sekaligus jadi catatan buat diri saya sendiri, sih. Semoga bermanfaat!

 

erl.

*) Actually, it’s not from Hemingway

writing

[Writing] Memilih Lagu untuk Cerita

Untitled

Ketika membaca novel, kita akan sering menemukan beberapa kutipan lirik lagu yang disematkan si penulis. Porsinya bervariasi, bisa hanya satu baris atau malah berbait-bait; tergantung sepenting dan sekuat lagu itu terhadap cerita. Saya juga termasuk penulis yang melakukan kebiasaan tersebut. Meski sekarang mulai dikurangi, kayaknya masih merasa enggak sreg kalau belum menambahkan satu atau dua baris lagu di dalam naskah. Heheh.

Lantas, bagaimana cara saya memilih lagu yang tepat untuk cerita?

1. Belajar dari Soundtrack Film

Pernah nonton film dengan soundtrack bagus? Lagu-lagu yang disisipkan dalam berbagai adegan di film tentunya diciptakan sesuai sama ceritanya supaya nyambung. Salah dua soundtrack favorit saya adalah dari (500) Days of Summer dan Begin Again. Selain bagus-bagus, nyawa dari soundtrack tersebut masuk dengan alur ceritanya.

That is—nyawa. Pilihlah lagu yang nyawanya satu jalan sama naskah. Bukan hanya enak didengar, tetapi liriknya sesuai dengan isi cerita kalian. Meski, ya, sensasinya enggak akan semaksimal film yang didukung audio-visual.

2. Jangan Dipaksakan

Saya kadang menemukan lagu yang musiknya pas dengan cerita, tetapi liriknya enggak sesuai. Di waktu lain, saya menemukan lagu dengan musik yang enggak mendukung atmosfer, tetapi liriknya cocok banget sama kisahnya. Ah, sebel, kan? Bagi saya, komposisi musik juga penting buat cerita, walaupun enggak akan kedengaran sama si pembaca. Tapi, bagaimana kalau si pembaca niat cari buat tahu suasana lagunya?

Saran saya, sih, jangan dipaksakan, tetapi tetap simpan juga lagu-lagu tadi, siapa tahu emang belum ketemu jodohnya. Makanya cari lagu yang lirik sama musiknya sesuai sama cerita itu gampang-gampang susah buat saya. Kalau enggak ketemu, saya pasrah saja. Haha.

3. Porsi Lirik

Jangan, jangan sampai naskah kalian berubah jadi kumpulan lirik lagu. Dulu, saya pernah ada di fase mencatut seluruh bait lirik ke dalam cerita. Kebiasaan tersebut mengikis; awalnya menyelipkan satu paragraf narasi ke tiap bait. Lama-lama, tinggal satu atau dua bait. Sekarang, saya sedang membiasakan diri untuk menggunakan satu atau dua baris lirik saja.

Kembali lagi kepada urgensi si cerita. Kalau memang harus dicantumkan semua, silakan, selama tidak merusak suasananya (saya agak terganggu dengan gaya ini). Kalau sekarang, saya lebih memilih bait atau baris yang paling mencerminkan isi dan suasana si cerita. Jadi, fokus pembaca tidak akan terbelah.

4. Usia

Kalau yang ini disesuaikan dengan selera masing-masing, ya. Mungkin beberapa penulis tidak terlalu mempermasalahkan hubungan usia para tokoh dengan lagu dari musisi yang lagunya akan mereka pilih. Sementara saya, yang lumayan selektif, sampai memikirkan poin ini. Sepertinya mulai terpengaruh faktor umur juga. Yha.

Namun, sebagian besar musisi—entah solois atau grup—juga tumbuh dewasa dengan musik mereka, bukan? Sepuluh tahun lalu, musik mereka masih cocok dengan kalangan remaja, tetapi beberapa tahun kemudian, lagu-lagunya malah sesuai sama orang dewasa. Perubahan tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi saya untuk memilih lagu yang pas dengan usia para tokoh di dalam cerita.

5. Buat Playlist

Mungkin saya bukan satu-satunya penulis yang hobi menyusun playlist buat menulis cerita. Lagu-lagunya juga yang bisa bikin produktif (dalam kasus saya adalah lagu-lagunya Taylor Swift dan Copeland). Nah, tidak jarang satu atau dua lagu dari playlist tersebut malah cocok sama suasana dan isi cerita. Untuk mempermudahnya, kalian bisa tandai lagu tersebut dan buat lagi playlist khusus buat naskah tadi.

Kalau daftarnya sudah banyak, coba tulis ceritanya sambil mendengarkan playlist tersebut. Kemudian, kalian bisa tentukan lagu yang sesuai dengan bagian-bagian dalam karangan. Di tahap akhir, kalian bisa menyeleksi baris atau bait lirik yang ingin dicantumkan ke dalam cerita itu.

6. Cantumkan Sumber

Ini bukan tip pemilihan lagu. Namun, penting karena kalau tidak mencantumkan sumber—dalam hal ini musisi yang liriknya dicatut—kalian bakal dituduh sebagai penjiplak atau malah pembajak. Ini menyangkut hak cipta orang lain, lho. Malah, saya dengar setahun lalu, pencantuman lirik di media lain ini enggak boleh sembarangan dan harus minta izin kepada pihak yang bersangkutan.

Kasus pelanggaran hak cipta di Indonesia memang belum ditanggapi secara serius. Padahal, pelaku bisa dikenai denda ratusan juta dan masuk penjara. Kalian enggak mau, kan, menginap di hotel prodeo gara-gara lupa mencantumkan nama sumber asli?

Nah, itu tips dari saya seputar pemilihan lirik lagu buat cerita fiksi. Sekali lagi, ini kembali pada selera masing-masing, ya. Kalau cocok, ya syukur. Kalau enggak… bisa kali share tips versi kalian tentang pemilihan lagu buat sebuah cerita dengan saya (atau pembaca lain).

Selamat mencoba!

 

erl.

review · writing

[Review] 7 Komik yang HARUS Kamu Baca di Webtoon

Sekitar lima bulan terakhir, saya gandrung baca komik-komik di Webtoon (padahal dulu sempat sewot baca tagline mereka di Google Play). Alasan unduh aplikasinya pun bukan karena pengin baca, tapi demi dapat koin gratisan (ha ha). Eh, tapi setelah iseng baca satu-dua komik, ternyata seru juga, ya. Lama-lama ngulik yang lain daaaan ketagihan.

Nah, di entri kali ini, saya mau merekomendasikan beberapa komik yang masuk ke daftar Subscribe saya di Webtoon. Sesungguhnya, ini bukan pekerjaan mudah, karena saya baca banyak komik di aplikasi ini.

Well, but here some of my favorites.

1. The Sound of Your Heart (Cho Seok)

Never I expected to read this hilarious comic, karena gambar di thumbnail-nya pun awalnya bukan tipe saya. Tapi, begitu baca episode kesatu… darn, I couldn’t handle my laugh. The Sound of Heart karya Cho Seok bercerita tentang kehidupan (random) sehari-hari dari sang komikus dan orang-orang di sekitarnya. Di bagian awal, kalian mungkin akan sedikit bingung dengan hubungan antar tokohnya. Tapi, lama-lama, kita hafal siapa saja tokoh yang muncul di komik tersebut sekaligus paham dengan jenis komedi yang dibawa oleh Cho Seok. The Sound of Your Heart lahir tahun 2006 dan masih terus berlanjut sampai sekarang dengan jumlah lebih dari 900 episode di situs Naver.

Similar comics: Trash Bird, Average Adventure of Average Girl.

citt

2. Cheese in the Trap (Soonkki)

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan komik ini. Cheese in the Trap bukan komik cecintaan biasa, karena kalian juga akan menemukan unsur lain seperti drama hingga suspense dalam beberapa episodenya. Komik karya Soonkki ini bercerita tentang Hong Seol, seorang mahasiswi pekerja keras, yang tiba-tiba menjadi akrab dengan mahasiswa tampan misterius di kampusnya, Yoo Jung. Di episode-episode awal, banyak pembaca yang bingung dan lelah karena plotnya berjalan lambat juga kebanyakan flash back. Tapi, ternyata, hal itu yang membuat Cheese in the Trap makin menarik dan bikin penasaran. Sejak tahun 2010, komik ini sudah masuk ke season 4 di Naver dan versi drama Korea-nya akan rilis 4 Januari 2016. Wee!

Similar comics: Where Tangents Meet, UnTouchable, Salty Studio.

totu

3. Tales of the Unusual (Seongdae Oh)

Thriller comics on Webtoon are the BEST that I can’t decide which one I have to put on this list. Saya juga sebenarnya penakut, tapi kalah sama rasa penasaran buat baca komik-komik ini. Tales of the Unusual karya Seongdae Oh merupakan kumpulan-kumpulan cerita yang bisa bikin kalian merinding sampai jijik nggak keruan. Tapi, jangan berpikir ada banyak hantu yang muncul di sini, karena Oh lebih banyak menampilkan cerita-cerita ganjil yang bikin kalian ngilu sampai ke tulang. Salah satu judul yang paling terkenal dan sering disebut adalah Beauty Water. Pemakaian warna hitam-putih di komik ini juga memberi kesan mencekam yang lebih tajam.

Similar comics: Friday: Forbidden Tales, The Red Book, Chiller.

ds

4. Distant Sky (Inwan Youn / Sunhee Kim)

Masih dari keluarga thriller (maaf yang lain, saya terpaksa pilih kasih sama genre ini), Distant Sky menawarkan ketegangan yang dibumbui fiksi ilmiah. Dalam komik ini, kalian akan bertemu dua anak SMA yang tiba-tiba terjaga di tengah reruntuhan bangunan dan… orang-orang mati.  Alih-alih melihat langit biru, yang mereka dapatkan saat mendongak adalah kegelapan total. Pemadaman listrik? Nah, you better read it. Saya sempat mual-mual saat membaca episode-episode awal, tapi keterusan dan baru berhenti pukul setengah tiga pagi. Gambarnya detail sekali sampai bikin saya merinding. Don’t ask about the plot twist. It wins.

Similar comics: Deep, HIVE.

yc

5. Yumi’s Cells (Donggun Lee)

Slide toon dari genre drama ini menceritakan kehidupan sehari-hari dari seorang wanita bernama Yumi. Satu hal yang unik dari Yumi’s Cells adalah sudut pandang yang dipilih oleh sang komikus. Sebab, sebagian besar cerita dibawakan oleh… sel-sel di otak Yumi! Kalian akan mengenal nama-nama sel tersebut sekaligus tugasnya di otak Yumi. Tingkah mereka tidak jarang membuat pembaca tertawa dan larut dalam kisah sang tokoh utama. Dalam beberapa episode, kalian juga bisa melihat sel-sel otak dari tokoh lain seperti Wook dan Ruby.

Similar comics: Mercworks, Midnight Rhapsody.

ad

6. About Death (Sini / Hyeono)

Ever wondering what will happen with your after life? About Death berisi kisah-kisah orang yang berkunjung ke ‘persinggahan’ sementara setelah mereka mati atau sedang sekarat dan bertemu sosok ‘Tuhan’. Di tempat singgah tersebut, mereka akan berbincang sebentar dengan ‘Tuhan’ sebagai proses evaluasi singkat sebelum mereka masuk ke kehidupan baru. Sebagian besar cerita di About Death bikin saya banjir air mata, sedangkan yang lainnya membuat saya merenung lama. Oh ya, catatan tambahan, tolong jangan bawa nama-nama agama tertentu saat baca komik ini (sepertinya bakal ada yang sensitif dengan konsep tokoh ‘Tuhan’ di About Death).

Similar comics: Annarasumanara.

mkaod

7. My Kitty and Old Dog (Cho)

Satu komik lagi yang bikin saya nangis adalah My Kitty and Old Dog. Komik yang baru selesai beberapa hari yang lalu ini berisi tentang Soondae, seekor kucing dengan penglihatan buram, dan Nang-nak, anjing tua yang sudah lama sakit. Kedua hewan ini dipelihara oleh Cho dan kedua orangtuanya. Selain mereka, ada juga hewan-hewan dan tokoh lain yang memeriahkan My Kitty and Old Dog (dan siap menyerang kalian dengan ninja-ninja bawang merah). Uniknya, beberapa episode dibawakan dari sudut pandang hewan-hewan tersebut dan membuat pembaca terharu, sedih, hingga tertawa.

Similar comics: All That We Hope to be, Roar Street Journal, Smile Brush.

Sebenarnya, masih banyak komik yang pengin saya jejalkan di daftar ini, tapi nanti malah kepanjangan. Judul-judul di bagian similar comics bisa dijadikan rekomendasi tambahan.

Selamat bertualang di Webtoon!

erl.

p.s.: Ah, saya sedang baca Noblesse, nih. Seru dan agak absurd juga, ya.

Life · writing

[Writing] The Perks of Being a Freelance Writer

Hampir dua bulan saya menggantungkan nasib dompet dengan bekerja sebagai penulis lepas (freelance writer). Saya enggak nyangka akan mendapatkan pekerjaan ini setelah tiga bulan menganggur. Pekerjaan saya sebelumnya juga sifatnya kantoran, Senin sampai Sabtu, dari pukul sembilan pagi sampai empat sore. Enam bulan yang mengesankan, tetapi saya agak lelah juga (karena bidangnya kurang pas dengan minat saya).

Jadi, setelah dinyatakan lolos seleksi dan briefing dengan salah satu penyedia jasa penulis lepas, saya girang bukan main. Apa, sih, yang lebih menyenangkan dari pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan minat yang ditekuni selama ini? I’ve been writing for years, now I’m earning money from this. Sweet.

Eh, tapi, itu bukan berarti jadi freelance writer selalu menyenangkan. Selama nyaris dua bulan ini, saya sudah merasakan sedikit suka-duka dari pekerjaan ini.

Poin  Suka

1. Bisa Kerja Di Mana Saja

Aaaawyis, working from home. Selamat tinggal pakaian formal! Selamat tinggal ongkos angkot yang terus naik! Saya membaca beberapa artikel tentang penulis lepas yang memberi saran untuk menciptakan work space sendiri di rumah. Saya tadinya punya pojok menulis, tapi ujung-ujungnya saya kerja di sembarang tempat. Dari ruang tamu, meja, sampai di atas kasur. Selama nyaman, saya akan menulis di sana berjam-jam. Kalau bosan di rumah, tinggal keluar dan cari tempat buat nulis dengan fasilitas wi-fi. Intinya, jadi penulis lepas tidak harus terikat dengan istilah ‘setor muka’ sama atasan. Mwahahaha.

2. Waktu Luang Lebih Banyak

Di pekerjaan sebelumnya, saya punya kendala untuk menulis naskah novel (excuse aja ini mah). Kadang, kalau ada rapat, saya bisa pulang sore atau malam. Sampai di rumah, boro-boro kepikiran naskah, yang ada bawaannya pengin makan, terus tidur. Nulisnya kapan-kapan. Huhuhu. Sedangkan saat jadi penulis lepas seperti sekarang, saya punya porsi waktu luang lebih banyak dan bisa dimanfaatkan buat nulis atau baca buku. Jadi, enggak ada alasan naskah lama selesai (seharusnya seperti itu, tapi kenyataan berkata lain).

3. Pengeluaran Berkurang

Yaaas, selain ongkos transportasi, dana buat makan siang dan keperluan mendadak pun berkurang atau hilang seketika. Kerja di rumah ini, kok. Kalau lapar, ya, tinggal makan aja (kebetulan tinggal sama orangtua dan Mama masih sering masak) atau masak sendiri, in case Mama sedang tidak mood memasak. Ini juga berarti satu hal: tidak cepat bangkrut, jadi uang di dompet maupun ATM akan jarang keluar dan pindah ke dompet lain.

Poin Duka

1. Bosan dan Kesepian

Being lonely isn’t same as being alone. Iya, saya introver dan sudah sangat terbiasa sendiri. Jalan-jalan sendiri. Nonton konser sendiri. Pacaran sendiri *eh*. Tapi, saya juga butuh sosialisasi, lho. Di kantor dulu, setidaknya saya berinteraksi dengan dua sampai empat orang dalam satu ruangan. Sekarang? Tanpa hitungan chatting, saya… masih bersosialisasi, sih, tetapi dengan orang-orang rumah dan di luar jam kerja. Ketika bekerja, saya harus pergi ke tempat sepi dan lama-lama bosan karena enggak ada rekan kerja yang bisa diajak mengobrol langsung. Jadi berasa di gua, kan.

2. Tidak Selamanya Bebas

Ada yang bilang, being freelancer doesn’t mean we’re free anytime. Yhakali kami juga kerja, yang bikin free itu karena tidak terikat kontrak penuh seperti pekerja kantoran. Untuk pekerjaan sekarang, saya mengambil shift sore, dari pukul tiga sore sampai sepuluh malam. Alasannya, karena jam segitu saya lagi melek-meleknya dan porsi pagi bisa dipakai buat baca atau nulis naskah (diselingi bergunjing). Well, dan saya masih kesulitan buat meet up atau sekadar ngopi lucu sama teman-teman. Kalaupun bisa, saya harus minta izin pindah shift, tapi itu juga tidak boleh sering.

3. Gaji Seadanya

Jumlah pendapatan tenaga kerja lepas bergantung pada jumlah pekerjaannya juga. Semakin banyak, ya semakin besar pula… gajinya. Mungkin bisa melebihi gaji pegawai kantoran, tapi itu buat yang sudah ahli kali, ya. Bagi saya yang pemula, sih, gajinya masih jauuuh di bawah pendapatan di kantor dulu. Jadi, saya enggak bisa sering-sering beli buku atau kulineran. Harus berhemat juga, meski loba kahayang. Tapi, saya bersyukur, karena sejauh ini gajinya cair tepat waktu. He.

Nah, jadi itulah poin-poin suka duka selama jadi penulis lepas (sejauh ini). Tadinya, saya menjadikan freelance writer sebagai pegangan sementara sambil cari pekerjaan tetap. Lah, tapi lama-lama malah kerasan. So, I think I’m going to stick with it for a while.

Have a nice weekend,

erl.