[The Playlist] La Belle Luna

pasta-1463934_1280

SAYUP-SAYUP, aku mendengar tetesan air hujan mendarat di berbagai tempat; atap, kosen, kaca jendela, panci bekas. Ritmenya membuatku tenang, sekaligus kesepian di waktu yang bersamaan. Kemudian, aku mengambil ponsel di atas nakas, mengaktifkannya, dan membiarkan cahaya dari layar menjadi satu-satunya penerangan di dalam kamar.

Aku membuka aplikasi pemutar musik dan memilih lagu yang terngiang sejak bangun tadi. Serta-merta, suara mendayu seorang pria bergabung bersama rinai hujan. Menciptakan suasana yang kian sendu.

Dalam dekapan selimut tebal, aku mengambil posisi duduk dan menyingkap tirai. Alih-alih melihat sinar kemerahan dari ufuk timur, aku mendapati langit kelabu kehitaman di luar. Aku menyeka lapisan embun di jendela, lalu menyelia rumah-rumah beratap cokelat tua di bawah. Satu-satunya tanda kehidupan yang kutangkap hanya pendaran lemah lampu-lampu dari teras. Pagi yang muram di pertengahan bulan November.

Kemudian, aku menoleh ke dalam kamar, tepat ke seberang ruangan. Dari pantulan cermin lemari, aku menangkap siluet yang tengah meringkuk. Aku tahu sosok itu tidak mengenakan apa-apa selain selimut yang melindungi tubuhnya. Kami bertukar pandang; tangan terulur seolah ingin menggapai satu sama lain.

Namun, kala udara dingin menerpa kulit, aku cepat-cepat menarik tanganku.

Aku mengambil napas panjang; menahan dorongan dari dalam dada. Get up, bisik sebuah suara dari dalam benakku. Diam seperti ini hanya akan menghancurkan pagimu. Setelah berhasil mengatur napas, aku mengambil kaus kebesaran dan pakaian dalam di ujung ranjang. Aku mengenakannya satu-satu sambil merapalkan doa untuk menenangkan pikiran.

Semuanya akan baik-baik saja.

*

Ketika aku keluar dari indekos menjelang siang, langit mulai berubah warna. Awan-awan kelabu tadi kini pecah menjadi gumpalan awan putih. Matahari menampakan diri dengan cahaya hangat. Sambil menapaki jalan, aku menghirup aroma perpaduan air hujan dan tanah—kadang sampah, kalau boleh kutambahkan.

Sambil menunggu angkutan umum, aku memeriksa notifikasi baru. Aku langsung membuka pesan dengan nama pengirim Ghina.

[Ghina] La Belle Luna, pukul satu.

Kebetulan sekali, aku sedang ngidam makan spaghetti bolognese.

Di dalam angkutan umum, aku mencari sejumput informasi mengenai La Belle Luna. Mesin pencari hanya menampilkan beberapa tautan valid—artinya tempat makan tersebut baru dibuka. Itu bukan berita bagus untukku, tetapi akan menjadi kebanggaan tempat kerjaku.

Setengah jam kemudian, aku sudah berdiri di depan La Belle Luna. Tempatnya mengingatkanku pada kafe-kafe mungil di pinggir kota Roma. Tanaman rambat menutupi dinding bangunan bata merah. Jendela-jendela terbuka; mengekspos furnitur kayu yang mendominasi. Di halamannya, ada meja piknik dan bangku panjang. La Belle Luna kontras sekali dengan bangunan bergaya minimalis-modern di sekitarnya.

“Inooo!” Seorang perempuan berambut bob melambaikan tangan ke arahku. Senyuman kekanakkan terukir di wajahnya. “Aku kira kamu datang lebih awal.”

Macet.” Aku menaruh tote bag di bawah meja. Kendati kami berkunjung di jam makan siang, sebagian besar meja di dalam ruangan masih kosong. “Tempat ini baru buka?”

Ghina menghela napas berat. Salah satu tangannya mengelus perutnya yang kian besar. “Baru soft opening. Manajer restoran mengundang media-media kuliner, termasuk YummyFood buat mengulas La Belle Luna.”

Seorang pemuda tinggi-kurus menghampiri meja kami dan menyerahkan buku menu. Ghina mengeluh karena dia pantang menyantap hidangan favoritnya, sedangkan aku tanpa pikir panjang memesan spaghetti bolognese dan caffè con panna.

Sambil menunggu pesanan, aku mengeluarkan buku bersampul kulit beserta pena. Biasanya, Ghina melakukan pekerjaan ini sendiri dengan aku sebagai asisten. Namun, semenjak hamil, kegiatannya menjadi terbatas. Lantas, aku menggantikan posisinya sebagai penulis lepas di YummyFood setelah berhenti dari pekerjaan sebelumnya.

“Kamu enggak kangen sama kerjaan yang dulu?” tanyanya setelah minuman kami sampai. “Aku memang bukan penggila acara musik, tapi aku suka semua ulasan konsermu.”

Tanpa mengalihkan tatapan dari buku, aku menjawab, “Kamu tanya hal itu karena enggak tahu atau pengin menggodaku?”

Ghina terkikik. Aku pernah bilang kalau kepribadiannya yang mirip anak SD tidak cocok dengan statusnya sebagai istri dan calon ibu, tetapi dia tetap cuek. “Maaf. Aku senang kamu mau menggantikan posisiku, tapi aku lebih bahagia kalau kamu juga nyaman.”

“Ghina, kamu kasih izin buat menambahkan penilaian musik latar. Gimana aku enggak senang?”

Obrolan kami terputus kala tawa menggelegar muncul memenuhi ruangan. Aku dan Ghina menengadahkan kepala dan menemukan seorang pria bertubuh gempal masuk dari pintu taman belakang. Dengan jas chef, dia membawa dua hidangan ke arah kami. Meja kami. Ketika jaraknya semakin dekat, aku baru menyadari wajah Latin-nya.

Buon Pomereggion, Senorita[1],” sapanya sambil menaruh hidangan dan membungkuk ke arahku. Kemudian, dia berpaling ke arah Ghina dan mencium tangannya, “bella signora[2].”

Kami—yang sama-sama buta bahasa Italia—hanya membalasnya dengan senyuman.

Keterkejutan kami berlanjut saat chef tersebut memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia. “Saya Chef Pisghetti, pemilik La Belle Luna. Senang bisa menyambut gadis-gadis cantik Indonesia.”

Ghina tersipu malu. Sementara aku langsung tertarik dengan namanya. “Pishgetti? Seperti nama chef di serial Curious George.”

Dengan tangannya yang aktif bergerak, pria itu menanggapi, “Ya, Curious George! Putraku suka dengan monyet lucu itu.”

“Chef, Anda menyenangkan sekali. Bayiku pasti akan menyukaimu.” Ghina mengerling sejenak ke arahku. “Jika Anda sedang tidak sibuk, bolehkah kami mendengar cerita tentang La Belle Luna?”

Certo[3]!” Chef Pisghetti lalu menarik salah satu kursi dan mulai berbagi kisahnya tentang restoran ini.

*

“Pukul berapa Leo akan menjemputmu?”

Aku dan Ghina masih duduk manis di La Belle Luna. Chef Pisghetti kini tengah melayani pelanggan lain. Ceritanya tentang tempat ini terpatri di atas halaman bukuku. Dia mendirikan La Belle Luna untuk mendiang istrinya, Bulan, seorang wanita asli Sunda. Chef Pisghetti dan putra semata wayangnya bahkan memutuskan pindah ke Indonesia agar bisa menjenguk makam Bulan setiap minggu.

“Sekitar sepuluh menit lagi. Kalau kamu mau pulang duluan, enggak apa-apa, kok.” Ghina menyesap latte-nya perlahan. Ketika mendengar cerita Chef Pisghetti tadi, matanya terus mengeluarkan air. “Leo harusnya dengar kisah romantis tadi.”

“Maksudnya, kamu pengin Leo bikin restoran setelah kamu meninggal?”

“Inooo!” Ghina melemparkan gulungan tisu yang berhasil kutangkap. “Aku kangen kamu yang hopeless romantic.”

Aku mencebik sebal. “The hopeless romantic-me is gone.”

Ghina geleng-geleng kepala. “Gimana playlist-nya?”

And here is my favorite part from reviewing: assesst the playlist. Sejak masuk ruangan, aku mendengar lantunan lagu-lagu instrumental khas Italia—bersalut akordian, folk flute, dan folk bagpipe. “Great. Kamu tahu rewelnya aku kalau playlist La Belle Luna malah diisi sama lagu-lagu Top 40.”

“Kamu bakal kasih rating 2.5 gara-gara hal itu,” sahutnya.

Tak berselang lama, Leo muncul dan segera menghampiri Ghina. Aku merasa kagum bercampur iri melihat kehangatan mereka. Leo adalah tipe pria yang cepat tanggap; siap melindungi istri serta calon anak mereka.

Ghina membuka jendela mobilnya. “Ino, kamu serius enggak mau ikut kami?”

No, thanks. Aku mau jalan-jalan sebentar ke toko buku.”

“Oke, aku tunggu ulasan La Belle Luna nanti malam. Jangan impulsif lari ke rel kereta api, ya,” godanya. Kemudian, mobil hitam itu berlalu dari hadapanku.

Selanjutnya, aku bergeming di depan pintu La Belle Luna sambil mengamati pengunjung yang lalu-lalang. Aku belum mau pulang. Kamar indekosku seperti dementor akhir-akhir ini—menyedot semua kebahagiaan yang kudapat dari luar.

Senorita Winona?” sapa Chef Pisghetti. Dia berdiri tepat di sampingku. “Sedang menunggu seseorang?”

“Umh, tidak, aku….” Hujan perlahan turun. Aku mendapat firasat hujan ini akan berlangsung lama. “Chef, apa Anda keberatan jika aku menunggu di sini sampai hujan mereda?”

Pria itu menggeleng. “Tentu tidak. Ada meja kosong di dalam. Anggap tempat ini seperti rumahmu.”

***

[1] [Italia] Selamat siang, Nona!

[2] [Italia] Nyonya cantik.

[3] [Italia] Tentu!

Advertisements

[Blog Tour and Giveaway] Day 4: Fun Facts and Stuff

day4

Wah, ternyata sudah sampai hari keempat blog tour The Playlist.

Seperti yang disebutkan di entri sebelumnya, kali ini saya akan memberi fun facts The Playlist. Trivia ini berisi inspirasi-inspirasi yang terpakai dan yang terpaksa dibuang, kejadian-kejadian yang menginspirasi beberapa bab di dalam cerita, daaan tentunya lagu-lagu yang saya dengarkan selama menulis The Playlist. [Baca juga: Day 3: Riset dan Penerbitan]

Yak, kita mulai trivianya!

  • Saya sempat menulis dua versi The Playlist: versi satu adalah draf awal yang saya lanjutkan (diunggah di Wattpad) dan versi dua adalah draf baru (diunggah di Storial). Apa bedanya? Versi satu bergelimang adegan NSFW, sementara yang versi dua sudah dibikin lebih soft. Lantas, saya memilih versi dua karena lebih mudah dikerjakan dan yang di Wattpad pun akhirnya mengikuti versi terakhir;
  • Karena hanya berstatus selingan, The Playlist mulanya saya rencanakan terdiri dari 30 bab. Satu bab juga enggak panjang-panjang amat, sekitar 500 sampai 800 kata. Makanya terasa pendek, tapi ternyata menurut beberapa pembaca durasinya pas untuk cerita online. Eh, nyatanya semakin dilanjutkan, malah semakin panjang. Draf final The Playlist (termasuk yang di buku) terdiri dari 34 bab dan epilog, dengan panjang lebih dari 38.000 kata (tergolong panjang untuk sebuah cerita fluff);
  • The Playlist adalah cerita pertama yang berhasil saya tuntaskan secara online! Saya sudah mencoba menerbitkan cerita secara berkala di Wattpad, tapi tumbang sebelum klimaks dan akhirnya dihapus, atau malah diunggah sekaligus, lol;
  • Sebelum jadi buku, The Playlist tayang dua kali seminggu–setiap hari Senin dan Kamis. Jadwal ini sudah saya terapkan sejak cerita tayang di Wattpad, tapi gagal dan akhirnya berhenti total. Kemudian, saya unggah ulang di Storial tanggal 15 Februari 2016 dengan jadwal yang sama. Iseng sih, lagian waktu itu drafnya baru sampai bab 8. Eh ternyata satu minggu setelah tayang di Storial, The Playlist malah masuk Pilihan Editor. Lantas saya pikir kalau sudah begini, mau enggak mau cerita harus diselesaikan. Apalagi jumlah pembacanya mulai bertambah;

pe

  • Penerapan jadwal tayang The Playlist terinspirasi dari Webtoon. Sebagian komik di sana punya jadwal tayang yang bervariasi: mulai dari satu kali seminggu sampai setiap hari. Namun yang bikin greget justru yang update setiap satu atau dua kali seminggu. Satu yang saya amati, komik-komik dengan jadwal tayang tersebut justru yang bikin pembaca setia menunggu, terutama kalau gambar dan ceritanya sama-sama menarik. Selain itu, saya juga masih menyesuaikan diri dengan The Playlist, jadi butuh waktu yang agak lama untuk benar-benar masuk ke dalam cerita;
  • Tayang dua kali seminggu enggak berarti minim tantangan, lho. Ada kalanya saya malas, tapi kadang juga pengin update sebelum jadwal. Beberapa kali saya absen karena sakit atau harus mengurus hal pribadi. Tapi so far, proses dan tantangan itu yang membuat saya menikmati The Playlist. Makanya berat pas nulis bagian-bagian akhir;
  • Nah, masih berkaitan sama Webtoon, ada satu tokoh dari Cheese in the Trap yang membantu saya saat membangun karakter Aries: Yoo Jung. Jung sama-sama misterius kayak Aries. Bedanya, Jung jauh lebih mengintimidasi dan punya aura yang lumayan bikin merinding.

jung1

  • Ada beberapa pembaca yang tanya, “Kenapa tempat makannya Aries dikasih nama No. 46? Apa Aries atau penulisnya penggemar [Valentino] Rossi?” Lol, enggak. Saya malah baru tahu itu nomornya Rossi dan pemilihan nomor itu benar-benar random. Tapi buat kalian yang emang suka sama Rossi, anggaplah kebetulan ini sebagai hadiah.

  • Sebagian tempat makan di The Playlist memang ada di Bandung, sebagian lagi setengah fiktif, dan sisanya seratus persen fiktif. No. 46–sebagai salah satu tempat fiktif yang sering saya pakai di dalam cerita–terinspirasi dari berbagai tempat. Selain Bober Cafe, saya juga pernah membayangkan No. 46 seperti rumah baker yang ada di film Kiki’s Delivery Service, tapi enggak kesampaian dipakai;

  • Di draf awal, saya sempat menceritakan kalau Winona menyukai hal-hal yang berkaitan dengan astronomi. Tapi saat saya mulai menulis, poin ini malah tidak dikembangkan dan tenggelam di paruh terakhir The Playlist. Poin ini juga yang melatarbelakangi beberapa penamaan tokoh plus julukannya di dalam cerita. Salah satunya, yang paling jelas, ya Aries. Sayang, sih, tapi ya udahlah;
  • Ada banyaaak lagu yang saya dengarkan selama menulis The Playlist, tapi ada satu album yang memberi pengaruh kuat untuk ceritanya. Everyone, let me show you one of the greatest albums I’ve ever listened: Ixora by Copeland;

  • Oh, saya sempat menyusun playlist berisi kumpulan lagu yang menginspirasi saya saat mengembangkan cerita The Playlist. Silakan dicari:

playlistsong

  • Saya sempat membuat beberapa ide alternatif untuk The Playlist. Saat sedang stuck dengan draf awal, saya pernah menulis satu bab The Playlist yang dituturkan dari sudut pandang orang ketiga dan gagal dengan suksesnya. Aries hampir saya buat menjadi seorang fotografer makanan yang nantinya bakal menemani Winona liputan (lalu cinlok, and the rest is history). Satu lagi, yang paling mengejutkan dan masih tertulis jelas di catatan outline lama The Playlist: saya pernah merencanakan Aries jadi mantan pacar Ghina–sahabat Winona. Untung enggak diwujudkan karena ceritanya bakal a n e h;
  • Apakah ada sekuel untuk The Playlist? Ya. Tidak. Eh? Some readers demand for sequel dan saya mengerti alasan mereka menginginkan lanjutan cerita ini. Saya juga sebenarnya gatal ingin menjelaskan banyak hal yang tidak sempat dituangkan di The Playlist. Saya akan menulis lanjutan The Playlist tahun depan, tapi tidak lagi dituturkan dari sudut pandang Winona dan saya enggak tahu apakah cerita ini nantinya akan naik cetak seperti The Playlist;
  • Lantas sekarang, saya sedang mendalami tokoh Aries lewat Nights with Aries yang terbit secara berkala di Storial dan Wattpad. NWA bukan sekuel; lebih ke kumpulan side story. Buat kalian yang belum baca The Playlist, mungkin akan ada beberapa bab yang jatuhnya jadi spoiler. Makanya beli dulu The Playlist (berujung dengan shameless promotion).

By the way, kalian juga bisa mengintip inspiration board The Playlist di akun Pinterest saya.

Are we done yet? Nope. Sesi blog tour bersama saya memang berakhir hari ini, tapi akan dilanjutkan oleh Asri selama dua hari ke depan sebelum nanti ditutup sama sesi Q&A. Makanya jangan lupa catat tanggalnya, ya!

lttheplaylist

Siapkan diri kalian untuk sesi giveaway!

Regards,

 

erl.

[Blog Tour and Giveaway] Day 3: Riset dan Penerbitan

day3

Halooo! Sampai juga kita di hari ketiga blog tour The Playlist. Setelah kemarin membahas tokoh-tokoh utama di dalam ceritanya, sekarang saya bakal mengupas riset dan proses penerbitan The Playlist. [Baca juga: Day 2: Meet the Characters]

Research is a must–bahkan untuk sesuatu yang hanya muncul dalam satu kalimat. Karena tokoh utama The Playlist adalah food writer, otomatis saya harus mencari tempat-tempat makan di Bandung. Sebenarnya ada banyak nama yang saya jelajahi, tapi empat tempat di bawah ini yang berperan besar dalam The Playlist.

1. Bober Cafe

Bober Cafe bukan sekadar tempat lahir The Playlist, tapi juga inspirasi saya saat merancang beberapa tempat fiktif di dalam cerita, yaitu La Belle Luna dan No. 46. Konsep homey dan interiornya saya pakai buat No. 46, sementara lokasinya saya sematkan untuk La Belle Luna. Omong-omong, saya sudah jadi pelanggan tetap di Bober Cafe sejak tahun 2011.

Alamat Bober Cafe: Jl. R.E. Martadinata No. 123, Bandung.

2. Perky Pedro

Kalau kalian sudah baca The Playlist, berarti kalian juga tahu bagian saat Winona mengunjungi sebuah restoran Meksiko di sekitar Jalan Riau. Yes, that place used to be existed and it was called Perky Pedro. Seperti yang digambarkan Winona, nuansa Meksiko di tempat makan ini sangat kental. Saya sendiri suka sama desain eksterior dan interiornya yang penuh warna. Sayangnya, Perky Pedro sekarang sudah tutup. Padahal burrito-nya beneran enak. 😦

Alamat Perky Pedro: Jalan Riau No. 128A, Bandung (yha, tapi sekarang bukan Perky Pedro lagi).

3. Fuku Ramen

Seperti halnya Bober Cafe, Fuku Ramen menjadi tempat lahirnya beberapa ide untuk The Playlist. Pokoknya kalau ada adegan yang ambil tempat di ramen house, referensinya ke sini, hahaha. Masih ada satu lagi kedai ramen di sekitar Jalan Riau yang jadi inspirasi saya untuk menulis salah satu bagian di The Playlist, yaitu Hakkata Ikousha. By the way, chicken cashu ramen di Fuku Ramen terbaik sekaleeeh.

Alamat Fuku Ramen: Jalan Pasirkaliki No.71 A, Bandung.

4. Mie Aquarius

Bab Yamin Pangsit dan Egg Benedict mengambil latar tempat di Mie Aquarius. Tempatnya agak nyempil, tapi kalau kalian pergi dari arah Taman Flexi (astaga, Taman Flexi banget), bakal kelihatan, kok, tempatnya. Mi ayam di sini memang bukan yang terbaik di kota Bandung, tapi lokasinya yang paling mendukung untuk bab tersebut.

Alamat Mie Aquarius: Jalan Sultan Tirtayasa 1, Bandung.

**

To be honest, proses penerbitan The Playlist tidak sepanjang penulisannya. Saya menulis draf baru The Playlist bulan Februari 2016 dan diterbitkan secara berkala di Storial dan Wattpad sampai akhir Juni 2016. Saat itu, jangankan diterbitkan secara cetak, sanggup menuntaskan The Playlist saja sudah bikin saya senang. Perasaan dihantui selama hampir satu tahun langsung hilang begitu menyentuh akhir cerita. Surreal.

Selang beberapa hari setelah The Playlist selesai, saya mendapatkan surel dari editor Grasindo. Isinya memang tidak serta-merta menawarkan The Playlist untuk terbit. Saya sempat menawarkan dua naskah yang sudah rampung ditulis saat itu dan ternyata The Playlist yang dipilih.

Kesannya kok gampang banget, ya? Padahal enggak sih. Saya cemas luar biasa setelah menyerahkan naskah The Playlist ke tangan penerbit. Apa ini memang waktu yang tepat? Memangnya The Playlist layak terbit? Memangnya saya sudah sesiap itu, ya, melepas The Playlist ke lautan lepas yang lebih ganas? Percayalah, kadar deg-degan yang saya rasakan saat mengurus penerbitan The Playlist sebenarnya lebih mengarah ke kecemasan dibandingkan excitement.

Jadi, saat ditanya bagaimana perasaan saya tentang terbitnya The Playlist, jawaban saya masih sama seperti saat saya menuntaskan cerita ini: surreal. Karena, seperti yang saya bilang di entri-entri sebelumnya, The Playlist awalnya hanya akan jadi koleksi pribadi. Kalaupun ada niat untuk diterbitkan, sepertinya sih bakal beberapa tahun lagi.

Namun, ternyata takdir berkata lain.

Saya tidak berharap muluk-muluk. Saya ingin pembaca yang akhirnya menyentuh The Playlist dapat menikmati ceritanya. Selama menulis The Playlist, saya juga mendapatkan banyak pelajaran. Mulai dari seluk-beluk penilaian tempat makan (lalu jadi sama rewelnya kayak Winona waktu dengar playlist yang diputar di tempat-tempat tersebut). Mengenal lebih dalam tentang sub-genre foodie romance. Mencoba beberapa resep meski akhirnya gagal. Plus, semakin mencintai kota kelahiran dan tempat tinggal saya sekarang, Bandung.

Hmm, ini tadinya mau curhat panjang, tapi jadinya cuma segini. Eh, tenang. Blog tour & giveaway-nya masih berlanjut. Sila catat tanggalnya dulu:

lttheplaylist

Besok, saya bakal share tentang fun facts The Playlist. Semacam trivia penghibur tentang hal-hal yang menemani saya selama menulis The Playlist.

Sampai ketemu besok!

Regards,

erl.

 

 

 

 

[Blog Tour and Giveaway] Day 2: Meet the Characters

day2

Halooo, jumpa lagi di blog tour & giveaway The Playlist! Sesuai janji kemarin, kali ini kita bakal kenalan sama tokoh-tokoh utama di ceritanya. [Baca juga: Day 1: Kisah di Balik Judul]

Saya sempat bingung menentukan sudut pandang untuk The Playlist, tapi pada akhirnya saya memilih sudut pandang orang kesatu. Soalnya waktu pakai orang ketiga, narasinya malah terkesan kaku (mungkin efek dari menulis skripsi itu). Menulis dari sudut pandang orang kesatu tidak terlalu sulit, karena saya tidak perlu ‘pindah-pindah’ ke tokoh lain. Kekurangannya, saya bisa bikin pembaca bosan kalau si tokoh utama hanya berputar di tempat-tempat yang sama.

Syukurnya tokoh utama di The Playlist, Winona, adalah food writer yang sering mendapat tugas meliput tempat makan di Bandung. Jadi, sekalian menjelajah spot-spot kuliner oke saat riset.

Nah untuk lebih jelasnya, kita dalami masing-masing profil dari para tokoh The Playlist dan inspirasinya berikut ini.

Winona Firnandita, 25 tahun, food writer

1-winonaWinona sudah lama saya simpan di daftar nama dan begitu ide The Playlist lahir, saya serta-merta mengambil nama tersebut. Is that name special for me? Bisa dibilang begitu. Saya dulu punya teman bernama Winona. Kami sebenarnya hanya berinteraksi lewat Facebook, tapi sayangnya dia menghapus media sosialnya saat saya ingin kembali berkomunikasi. Selain itu, namanya terdengar klasik dan… cantik(?).

Winona is actually an average woman. Sosoknya sering saya temukan pada wanita-wanita dewasa kekinian di Bandung; punya pekerjaan oke, lingkup sosial luas, dan kehidupan asmara yang menjanjikan. Oh, tapi tentunya kehidupan Winona di The Playlist tidak semulus itu. Di awal cerita, kalian akan menemukan sosok Winona yang sedang berada di dalam kubangan duka dan berusaha untuk keluar dari sana.

Penokohan Winona juga mendapat pengaruh besar dari beberapa karakter fiksi lain. Salah satunya Gretta, tokoh utama di film Begin Again. Selama menulis draf awal The Playlist, saya selalu membayangkan sosok Keira Knightley dengan wardrobe kece di film tersebut sebagai Winona. Namun saat menulis ulang draf The Playlist, referensinya mulai bergeser sampai saya menemukan sosok Kiko Mizuhara.1-winona-kei

Ethan Aryadi, 27 tahun, jurnalis musik

3-ethan

Ethan adalah sosok mantan terindah yang bikin Winona selalu salah tingkah di awal cerita. Nah, dibandingkan Winona, penokohan Ethan melewati banyak perubahan. Ada perbedaan jauh di antara Ethan versi draf awal dengan Ethan versi buku. Kalian yang sempat membaca The Playlist di Wattpad tahun 2015 pasti bisa merasakan perubahan karakter si tampan ini. Hmm, gimana bilangnya, ya? Well, he was a little bit… naughty? :))

Lantas, kenapa pada akhirnya saya merombak penokohan Ethan? Karena kalau saya tetap pakai karakternya yang dulu, cerita The Playlist enggak akan maju-maju. Chemistry Ethan dengan Winona yang terlalu kuat juga sempat bikin saya bimbang buat menentukan nasib mereka berdua. Kayaknya emang susah ya bikin tokoh mantan terindah yang bentar-bentar bikin galau. *eh, gimana?*

Ethan is heavily influenced by Xavier from Chinese Puzzle. Dalam film ini, si aktor ganteng Romain Duris berperan sebagai penulis asal Perancis yang nekat berkelana ke Amerika Serikat. Sepertinya gaya hidup Xavier yang terbilang bebas ini masuk juga ke Ethan dan bikin saya kewalahan sendiri. Tapi, filmnya bagus, kok. Unsur romance-nya berbeda dari film-film Amerika dan terkesan lebih realistis plus unik.3-ethan-rom

Aries Himadri, 29 tahun, pemilik tempat makan No. 46

2-aries

Kalian mau tahu siapa tokoh yang bikin saya frustrasi selama menulis The Playlist? Yes, Aries. Dibandingkan Winona dan Ethan, Aries sangat, sangat sulit ‘didekati’. Di draf awal, Aries sebenarnya lebih bersahabat dibandingkan versi buku, tapi enggak tahu kenapa pas nulis ulang drafnya, dia kembali tertutup. Lebih malah. Saya nyaris membuatnya jadi lebih terbuka, tapi kayaknya enggak bakal seru, deh.

Salah satu hal yang membuat karakter Aries cukup kompleks adalah latar belakangnya yang sangat suram. Selain itu, pengalaman yang Aries alami akan membuatnya jadi tokoh yang riskan. Sebagian dari kalian mungkin akan menganggapnya aneh, tapi mungkin ada juga yang biasa-biasa saja. Syukurnya saat The Playlist menyentuh pertengahan cerita, Aries mulai mau membuka diri. Jadi saya enggak kelamaan frustrasinya.

Lalu KENAPA Seth Rogen? Personal, sih: saya suka Seth Rogen. Apalagi waktu dia main film drama Take This Waltz. Di flm ini, Seth berperan sebagai Lou, chef dan penulis buku yang suka masak ayam. In other words, Aries is fully inspired by Lou. Lalu berkat jumlah fangirls yang terus meningkat, Aries yang tadinya enggak ganteng-ganteng amat bertransformasi dari koki tampan di versi buku. :))2-aries-sethWah, panjang juga curhatnya.

Selain tiga tokoh utama di atas, kalian juga akan bertemu beberapa tokoh pendamping yang ikut mengisi The Playlist. Bahkan salah satunya bakal jadi penting di paruh terakhir cerita, jadi simak baik-baik setiap kemunculan tokoh-tokoh figuran di The Playlist, okeeeh.

Omong-omong, tiga film di atas juga menjadi referensi saat saya menulis draf awal The Playlist, terutama Take This Waltz. Bukan karena pilih kasih karena Seth Rogen-nya, ya, tapi alurnya benar-benar bikin gemas dengan akhir cerita yang tanpa diduga bikin saya nangis kejer. Hampir sama dengan Begin Again, cuma Waltz itu… ah, sudahlah. Kalau kalian penasaran, sila tonton.

Yak, terima kasih sudah menyimak sesi perkenalan tokoh-tokoh utama The Playlist. Jangaan lupa catat tanggal blog tour & giveaway-nya.

lttheplaylist

Besok akan bahas apa? Saya bakal cerita lebih dalam tentang riset dan proses penerbitan The Playlist. Termasuk tempat-tempat yang saya kunjungi untuk latar tempat di cerita. Penasaran? Makanya jangan lupa buat pantengin Twitter, ya!

Regards,

erl.

 

[Blog Tour and Giveaway] Day 1: Kisah di Balik Judul

day1

SEBAGIAN dari kalian mungkin bertanya-tanya, “Kenapa judulnya The Playlist?” “Kenapa kavernya kayak enggak berkaitan sama judulnya?” “Itu spageti atau ind*mie?”

Well, yeah, I mean, look:

Tentunya saya punya alasan memilih The Playlist sebagai judul novel kedua yang baru terbit pertengahan September lalu. Gagasan awal The Playlist lahir saat saya sedang makan di Bober Cafe. Sebelumnya saya memang suka menyimak lagu-lagu yang diputar di tempat makan, tapi baru hari itu pertanyaan ini melintas:

Apakah musik latar di restoran atau kafe bisa mempengaruhi atmosfer tempat dan suasana hati pengunjung?

**

Sebelum kemunculan The Playlist, saya pernah mengira kalau musik latar di tempat makan sebagai aksesori untuk meramaikan suasana. Mungkin ada juga yang ditujukan untuk menghibur dan menarik lebih banyak orang lewat live music dari para musisi lokal. Namun saat menulis The Playlist, saya malah jadi penasaran. There must be a reason. Sampai kemudian, seorang teman saya mengirim tautan artikel yang ditulis Anggung Suherman/Angkuy (Bottlesmoker).trigger

So triggering.

Ternyata di Amerika Serikat dan Eropa, beberapa penelitian dilakukan untuk menemukan hubungan antara musik dengan produktivitas. Selain itu, lagu-lagu yang mereka putar di restoran atau kafe tidak asal dipilih alias diseleksi untuk membangun suasana tempat dan membuat pegunjung betah (atau kembali lagi ke sana). Kalau kalian penasaran, sila baca artikel lengkapnya di sini.

Long short story, musik latar ternyata memang punya pengaruh terhadap atmosfer tempat makan dan suasana hati pengunjung. Bahkan lebih. Nah, hal ini yang kemudian saya pakai untuk membangun karakter Winona, food writer yang juga jadi tokoh utama The Playlist. Berbeda dari food writer kebanyakan, Winona selalu memberikan penilaian terhadap lagu-lagu yang diputar di tempat makan.

Lantas dari sana, saya menciptakan satu konflik yang akan Winona hadapi di dalam The Playlist:

Apa yang akan Winona lakukan saat dia datang ke tempat makan yang tidak memutar musik latar?

**

Begitu.

Huh, cuma segitu ceritanya?

Dibandingkan ATHENA: Eureka dan naskah yang baru saya selesaikan, The Playlist memang tergolong ringan, karena mulanya saya menulis cerita ini untuk koleksi pribadi dan melatih kembali kemampuan saya dalam kisah-kisah fiksi. Kebetulan saat itu saya baru selesai merampungkan skiripsi dan saat kembali ke fiksi… kok yah tulisannya jadi kayak jurnal ilmiah. Heheh.

Makanya sampai sekarang saya tidak menyangka kalau The Playlist bisa diterima banyak pembaca, bahkan diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Padahal rencananya bukan The Playlist yang bakal saya jadikan novel kedua, tapi sepertinya sudah jadi takdir Winona dan kawan-kawan buat jadi ‘adik’ ATHENA. Walau idenya sederhana, drama yang mengiringi kelahiran The Playlist lumayan banyak. Namun, biarlah saya yang menyimpan suka-duka itu, hahaha. Kalian tinggal nikmati versi akhirnya saja, yak.

Nyes, that’s all folks, pembuka dari blog tour dan giveaway The Playlist hari ini. Bukan cuma cerita, kalian juga berkesempatan buat mendapatkan satu eksemplar novel bertanda tangan. Jadi, catat tanggalnya, ya. Jangan sampai ketinggalan.

 

lttheplaylist

Besok, kita bakal kenalan sama tokoh-tokoh The Playlist. So, stay tuned!

Regards,

erl.

 

ps: bab satu The Playlist bisa kalian baca di Storial dan Wattpad.

[Preview] The Playlist

Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona.

Ketika food writer lain memusatkan perhatian pada rasa dan tampilan, Winona akan menajamkan telinganya untuk menilai pilihan lagu di sebuah tempat makan. Baginya, lantunan melodi memberi pengaruh besar terhadap suasana hati pengunjung. Semakin sesuai musik latar dengan hidangan, semakin tinggi penilaian yang akan Winona berikan.

Hingga kehidupan Winona berubah saat  mengunjungi No. 46. Absennya musik latar dan kemisteriusan Aries mengusik benak… hingga hatinya. Jerat yang coba dia lepaskan justru menariknya semakin dekat dengan pria yang menyimpan duka dan sepi yang terasa familier baginya. Belum cukup di situ, Winona pun harus berhadapan dengan Ethan—pesona dari masa lalu  yang mengisi hidupnya dengan kenangan-kenangan manis.

Di antara iringan musik latar dan hidangan-hidangan lezat, Winona harus memilih: menghadapi rasa takut yang terus dia hindari atau kembali ke tempat ternyaman yang melengahkan?

The Playlist [Grasindo, 2016]

The Playlist [Grasindo, 2016]

Ready to serve you on September 13, 2016.

Erlin Natawiria.

[Review] Copeland Back to Bandung: the Unexpected Return

CopelandBack

So, it took a week for me to write this review.

Setelah hampir satu dekade mengagumi dan enam tahun menanti (yang saya pikir bakal sia-sia), akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat aksi panggung Copeland di acara The 8th International Kampoeng Jazz, 30 April 2016. In case you don’t know, Copeland is one of The Muse—julukan yang saya berikan untuk mereka yang memberi pengaruh dan inspirasi besar pada tulisan-tulisan saya.

Begitu tahu Copeland bakal ke Bandung untuk kali kedua, tanpa pikir panjang saya langsung mengosongkan tanggal di atas. Sebenarnya saat itu saya berpikir kalau bisa menonton saja sudah bikin saya bersyukur habis-habisan.

Tapi siapa sangka kalau 30 April kemarin bakal jadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup?

*

Copeland adalah band luar negeri keempat yang konsernya (I don’t think it was a concert, but whatever) saya datangi setelah Mae (2009), We Are the in Crowd (2012), dan Motion City Soundtrack (2013). Iya, saya kalau mau nonton konser pilih-pilih banget. Kalau bukan favorit dan enggak hafal lagu-lagunya, mana mau saya datang. Dalam kasus Copeland, mereka ini spesial buat saya. Kedatangan mereka ke Bandung kali ini semacam penebus rasa bersalah karena saya  enggak datang ke farewell show mereka tahun 2010 lalu.

Di rundown, Copeland main sekitar pukul sepuluh malam setelah Andien. Memelesat jauh dari ekspektasi saya dan beberapa teman yang mengira Copeland bakal main pukul delapan atau sembilan malam. Tapi, masa bodo, kami toh tetap datang. Bahkan saya dan salah seorang teman, Tari, sudah stay di baris pertahanan terdepan sejak pukul setengah lima sore. Hujan-hujanan. Kena angin. Dempet-dempetan. Lapar. Ngantuk.

Sumpah deh kalau bukan buat Copeland, saya pasti lagi di rumah sambil tidur-tiduran.

Rundown yang awalnya berjalan mulus pun ngaret setelah Koes Plus turun panggung. Saya mulai panik, tapi tetap berusaha santai. Oke, dua artis lagi. Tahan, tahan. Syukurnya, dua artis sebelum Copeland—Maliq & D’Essentials dan Andien—mainnya bagus banget. Jadi saya cukup terhibur meski bukan penggemar mereka. Plus, tatanan pencahayaan dan sound-nya lumayan apik. Jadi saya sudah bisa membayangkan bakal sebagus apa kalau Copeland yang main nanti.

Pretty sure the crowd won’t forget how shameless the MC that night. In a good way.

Lalu, setelah penantian yang terasa selamanya, satu per satu personil Copeland naik ke atas panggung. Saya sempat kaget sekaligus takjub karena mereka melakukan seting alat dan tetek bengek lainnya sendirian (sesekali dibantu panitia, tapi enggak terlalu sering). Aaron Marsh, sang vokalis utama, bahkan membawa piano keramat yang jadi partner bermainnya di atas panggung dalam beberapa show Copeland.

Saya berdiri tepat beberapa meter di depannya.

Dan, sekuat apapun saya berusaha menahan lonjakan euforia dan antusiasme saat melihat Copeland di atas panggung, teriakan histeris itu akhirnya keluar juga saat Have I Always Loved You? dibawakan sebagai pembuka.

*

20160430_231505

Sayang, sayangnya, suara Marsh tidak terdengar maksimal karena sound yang agak bermasalah. Meski begitu, dia terus bernyanyi sambil memainkan piano keramatnya. Lighting belum bermain terlalu banyak juga karena tempo lagu yang cukup slow. Sebagian orang yang tahu atau mendengar album terbaru mereka, Ixora, juga ikut menyenandungkan lagu tersebut.

Tanpa basa-basi Disjointed dimainkan begitu lagu kesatu tuntas.

Di lagu ini, selain Marsh, Bryan Laurenson (gitar), Stephen Laurenson (gitar, synth), Bobby Walkerug (bas), dan Jordan Butcher (drum) mulai terlihat atraktif dengan instrumen masing-masing. Lighting juga sama mengentaknya dengan lagu yang mereka bawakan. Bahkan Marsh dengan fasih mengucapkan, “Terima kasih!” begitu menuntaskan Disjointed.

Masih dari Ixora, I Can Make You Feel Young Again dan Erase dibawakan setelah Disjointed. Kerumunan di sekitar saya masih nyanyi sekilas-sekilas, tapi kami mulai terbawa suasana dan rasanya sulit mengalihkan perhatian dari permainan mengesankan Marsh dengan pianonya. Dua lagu ini adalah favorit saya dari Ixora, jadi saya pasti bakal menyesal kalau tidak mengamati dengan saksama.

Kemudian di lagu berikutnya, bukan hanya kualitas sound yang mulai membaik, tapi atmosfer suasana juga berubah drastis begitu Marsh menyanyikan Should You Return dari album You Are My Sunshine.

Jangan tanya keadaan saya gimana saat itu. Saya jadi sama malu-maluinnya kayak dua MC yang lempar guyonan-guyonan receh sebelum Copeland main.

You Are My Sunshine adalah album keempat Copeland yang juga (sempat) jadi album perpisahan mereka sebelum menyatakan bubar tahun 2009. Menurut saya, Sunshine adalah salah satu album terbaik yang pernah Copeland rilis. Sepertinya sebagian besar penggemar Copeland pun setuju, karena kerumunan makin memanas saat Marsh melanjutkan pertunjukan dengan lagu Chin Up.

*

20160430_231804

Malam itu Copeland sepertinya ingin membolak-balik emosi kami, karena selepas Chin Up, mereka membawakan nomor-nomor lama dari Beneath Medicine Tree. Stephen dan Bobby mengacungkan ponsel mereka dengan flash menyala. Otomatis kami melakukan hal yang sama dan kembali histeris begitu tahu kalau lagu yang akan dibawakan selanjutnya adalah Brightest.

Dan kali ini, Marsh membawakan lagu tersebut sendiri. Dari layar yang berada di samping kanan panggung, saya bisa melihat kerumunan seketika tampak seperti lautan kunang-kunang. Sesuai dengan lirik yang dilantunkan Marsh, “And she says that I am the brightest little firefly in her jar.”

Coffeeone of my alltime favorite songs from Copeland—membuat suasana menjadi santai dan, seperti judulnya, bikin saya pengin nyeduh kopi di tengah kerumunan. The crowd didn’t miss any lines, too. Di sisi lain, saya mulai cemas kalau Copeland akan mengakhiri permainannya dalam satu atau dua lagu ke depan, karena jatah rata-rata artis lain tidak lebih dari dua belas lagu.

20160430_233431

Tapi, kecemasan saya dipatahkan, sebab masih ada banyak lagu yang mereka bawakan. Selepas Coffee, Marsh kembali membawa kami ke album Sunshine dengan The Day I Lost My Voice dan On the Safest Ledge.

ON THE SAFEST LEDGE, YA TUHAN.

Sialnya, seperti salah satu judul lagu mereka, saat itu suara saya sudah hampir hilang. Tapi ini Safest Ledge dan saya memaksakan diri untuk ikut sing-a-long. Safest Ledge adalah lagu yang terus saya putar beberapa hari sebelum acara tersebut dan mustahil rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan lagu seindah ini.

*

Marsh, kembali dengan permainan solo, lagi-lagi membuat kami baper maksimal dengan Hold Nothing Back dari album In Motion dan Priceless. Mungkin karena kepepet sama waktu, Marsh membawakannya beberapa lagu dalam format medley. Still good—no, that was great. Kami juga enggak mungkin enggak nyanyi di lagu Priceless (ini salah satu lagu Copeland yang pernah saya kembangkan jadi satu novel penuh).

20160430_235555

Seolah belum lelah, Copeland kembali menguji kami dengan dua lagu yang cukup upbeat, Take Care dan No One Really Wins. Saya? Saya sudah mulai kelelahan dan memilih untuk menikmati permainan Copeland di atas panggung sambil mendengarkan nyanyian kerumunan di belakang. Hey, it doesn’t mean I’m bored. Seandainya stamina tubuh pukul setengah lima sore bisa diambil, saya pasti akan memakainya untuk gila-gilaan di paruh terakhir pertunjukan Copeland.

20160501_000359

Selepas When Paula Sparks, Marsh akhirnya mengumumkan kalau dia akan membawakan lagu terakhir. And I was like, nonononononono. Namun, begitu intro dimainkan, saya tiba-tiba cenghar dan nyaris memeluk Tari begitu tahu lagu yang dipilih sebagai penutup adalah You Have My Attention.

Everyone went fully emotional at that moment.

Saya pribadi punya kenangan dengan lagu manis ini, jadi saya tidak mau kehilangan momen satu detik pun saat Copeland memainkannya. Marsh dan kawan-kawan yang awalnya terlihat santai, berubah jadi cukup agresif di atas panggung begitu memasuki paruh terakhir lagu. Bahkan mereka sempat loncat-loncat dan membuat teriakan kerumunan makin keras. Lantas, tepat saat lagu berakhir, kembang api muncul dari sisi panggung.

Kemudian, Marsh melepas gitarnya, mendekati standing mic, dan sekali lagi mengucapkan, “Terima kasih!” dengan dua tangan tersilang di dada.

20160501_001614

*

Wasn’t it enough?

Nope.

Copeland mengakhiri pertunjukannya tepat tengah malam lebih beberapa menit dengan total 16 lagu. Kami tahu jatah Copeland sudah habis, tetapi sebagian orang tetap meneriakan we want more! Saya sempat berharap mereka naik lagi dan membawakan satu-dua lagu (mereka tidak membawakan California! Demi apa! Dan enggak ada lagu dari Eat, Sleep, Repeat).

But the show really ended. Sambil berjalan keluar dari venue, saya sempat melihat kerumunan heboh begitu beberapa personil seperti Bryan dan Jordan melemparkan pick gitar dan stick drum. Saya mau saja rebutan kalau badan saya enggak jerit-jerit minta pulang.

Kendati ada beberapa kekurangan, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada Kampoeng Jazz karena sudah mendatangkan Copeland sebagai salah satu bintang tamu (spesial). Beberapa orang mungkin merasa janggal karena Copeland bukan band aliran jazz. Tapi saya sih enggak terlalu peduli, karena akhirnya penebusan rasa bersalah saya tuntas sudah malam itu.

Setelah bertahun-tahun tidak merasakan euforia konser, malam itu saya seperti dilempar kembali ke hari di mana saya nonton konser kali pertama tujuh tahun lalu. Pertunjukan kedua Copeland di Bandung bukan hanya membayar rasa bersalah, tetapi juga membawa kembali hal-hal mengesankan yang saya rasakan sejak masih jadi remaja tanggung sampai sekarang. Jadi, rasanya wajar kalau sampai sekarang, termasuk saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari malam mengesankan tersebut.

And it should’ve been us who said ‘thank you’ that much, dear Copeland. You always make us feel young again.

Sampai jumpa lagi!

 

erl.

CdLlAICUMAEygUK

ps: Baru sadar kalau saya menulis draf tulisan ini tanggal 8 Mei, which is tanggal yang sama waktu Copeland konser kali pertama di Bandung enam tahun lalu.

pss: Kalian bisa lihat keseruan Copeland (dan kisah fangirl/fanboy-nya) dengan mengetik tagar #CopelandBackToBandung di Twitter atau Instagram.

[Review] How to Grow Them Great by Bebelac

Saya memang belum menikah, apalagi punya anak. Namun, status tidak harus jadi alasan untuk berhenti menggali ilmu, bukan? Meski masih lajang, sebagian teman wanita saya sudah menikah dan punya satu-dua anak. Tak jarang saya memperhatikan cara mereka merawat sang buah hati atau berbagi cerita (juga keluhan) di chat room.

Dari sana saya berpikir, bagaimana, ya, kalau saya sudah menikah dan punya anak nanti? Apa saya bisa mengurus dan membangun karakter yang baik untuk mereka?

Nah, lantas pada hari Sabtu, 26 Maret 2016, saya kembali mendapatkan sepotong ilmu berharga seputar parenting. Bertempat di Main Atrium, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Bebelac memperkenalkan sebuah kampanye yang laik disimak oleh para orangtua. Kampanye tersebut bernama #bebehero, di mana para orangtua—khususnya ibu—diajak untuk membangun kecerdasan emosional (EQ). Selain itu, para ibu juga dikenalkan pada cara pengembangan empati terhadap anak.

Untuk menunjang pertumbuhan yang optimal pada anak, dibutuhkan asupan nutrisi yang tepat seperti asam linoleat dan mineral. Kemudian, agar lebih seimbang, anak juga memerlukan vitamin dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur, lauk-pauk, serta susu. Dalam hal ini, Bebelac dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan vitamin A, zinc, zat besi, iodium, dan kalsium.

Demi mewujudkan karakter yang baik dan menumbuhkan empati, diperlukan peran sang ibu sebagai pengajar pertama bagi putra-putrinya. Anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Semakin baik dan terkontrol seorang ibu dalam memberi contoh, semakin bagus juga perilaku sang anak.

20160326_110022

Menurut Andi Airin, selaku Senior Brand Manajer Bebelac, pemberian nutrisi yang optimal dapat diberikan oleh ibu sejak masih mengandung hingga anak berusia dua tahun. Jika pertumbuhannya baik, maka anak pun akan lebih cepat tanggap dalam mempelajari hal-hal di sekitarnya. Selain itu, mereka juga akan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus rasa empati yang baik. Andi pun menuturkan pengalaman tentang anaknya yang hafal dengan jam pulang kerja dan selalu menyambutnya setiap kali tiba di rumah.

Sedangkan psikolog Roslina Verauli memaparkan tentang cara mengembangkan empati anak sejak dari rumah. Sebab empati merupakan gerbang dari aksi kepedulian terhadap orang lain. Empati juga menjadi pendukung terbentuknya karakter kepahlawanan yang tentunya tidak harus tercermin dalam aksi yang besar. Contohnya dituturkan oleh pesepakbola nasional, Bambang Pamungkas. Untuk menumbuhkan empati tersebut, Bambang akan menunjukkan nilai-nilai kebaikan, bahkan dari hal yang paling kecil sekalipun. Salah satunya adalah membantu sang anak untuk menyumbangkan pakaian kepada yayasan yang dia kelola.

Bukan hanya dari para pembicara saja, dalam sesi tanya-jawab pun saya mendapatkan banyak pelajaran tentang parenting. Di antaranya dengan mencegah terlahirnya golden child atau anak emas yang menimbulkan kecemburuan pada anak lainnya. Menurut Roslina, hal tadi ternyata muncul karena orangtua tanpa sadar telah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Lantas, ada juga yang ingin tahu sampai kapan pengembangan empati seorang anak harus diterapkan. Jawaban dari sang psikolog pun cukup mengejutkan: tidak ada batasan usia sama sekali.

20160326_112133

Oh ya, selain itu di venue Bebelac ada 14 stan permainan khusus anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Saya lihat sih yang paling diminati adalah kolam bola yang berada tepat di belakang deretan kursi tamu. Tapi, semakin siang, semakin banyak anak yang datang dan mencoba stan-stan lainnya.

20160326_120535

Satu kata untuk acara dari Bebelac ini: seru! Saya bisa mengaplikasikan ilmu dari para pembicara tadi kalau sudah punya anak di kemudian hari.

20160326_120553

erl.

 

ps: sst, Bebelac sedang mencari sosok #bebehero! Hadiah utama yang akan pemenang dapatkan adalah kesempatan untuk jadi bintang iklan Bebelac dan terbang ke Australia! Kontes ini berlangsung sampai tanggal 24 April 2016 dan keterangan lengkapnya bisa kalian klik di: http://bebeclub.co.id/growthemgreat/bebehero/

[Review] Cukup Satu Tetes Bersama Lifebuoy Clini-Shield 10

Satu Tetes Saja!

Adik saya yang paling kecil, Kamila, suka sekali dengan kegiatan mandi. Bahkan dia cukup sering minta dibelikan kebutuhan dan peralatannya. Salah satunya sabun dengan beragam warna, wangi, dan bentuk. Karena keluarga kami sudah lama memakai produk Lifebuoy, Kamila juga mengincar sabun dari produsen tersebut. Kadang dia ingin sabun batang, di lain hari dia pengin yang likuid.

Sekilas, permintaan anak kecil yang belum genap lima tahun ini tidak terkesan aneh. Tapi, lama-lama, pemakaiannya jadi boros juga, karena mood Kamila suka berubah dan pada akhirnya kami menaruh sabun batang dan likuid di kamar mandi. Lantas saya berpikir, kira-kira ada enggak ya produk yang bisa menggabungkan kebaikan sabun batang dan likuid?

Daaan kebingungan saya akhirnya dipecahkan oleh produk terbaru Lifebuoy, Lifebuoy Clini-Shield 10.

Pintu masuk

Pintu masuk area Lifebuoy Clinic-Shield 10

Hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 5 Maret 2016, saya menghadiri acara peluncuran Lifebuoy Clini-Shield 10 di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan. Bersama blogger lainnya, kami berkesempatan untuk mengetahui lebih dalam tentang produk terbaru Lifebuoy ini. Ibu Indriani, selaku Senior Brand Manager Lifebuoy, memaparkan bahwa sabun gel konsetrat tersebut lahir dari kebutuhan konsumen, terutama para ibu, akan sabun yang mengadirkan pengalaman mandi menyenangkan bagi anak sekaligus melindunginya dari kuman maupun bakteri jahat.

Para konsumen juga kerap dihadapkan pada dilema penggunaan sabun batang dan likuid. Dari segi harga, sabun batang jauh lebih murah dan meninggalkan sensasi keset pada kulit setelah dibilas. Namun, sabun likuid punya kelebihan lain yang tidak dimiliki sabun batang. Di antaranya wangi yang lebih tajam serta busa melimpah. Meski lebih boros pemakaiannya dan dari segi harga memang lebih tinggi dibandingkan sabun batang.

Ibu Indriani dan Ersa Mayori

Lantas, Lifebuoy Clini-Shield 10 hadir sebegai pemecah dilema tersebut. Sabun gel konsentrat pertama di dunia ini pun menghadirkan perlindungan terhadap kuman 10 kali lipat lebih baik. Cara pakainya juga sangat mudah, yakni dengan menuang satu tetes sabun gel (sekitar 2-3 ml) pada satu jari, gosok sampai busa melimpah, basuh pada bagian yang diinginkan, dan bilas dengan air sampai bersih. Kombinasi kebaikan sabun batang dan likuid pada Lifebuoy Clini-Shield 10 akan membuat kulit tubuh kita bersih, wangi, dan sehat.

Setelah pemaparan dari Ibu Indriani, kami juga mendapatkan tips dari artis cantik Ersa Mayori. Ibu dua anak ini berbagi pengalaman untuk membuat kegiatan mandi menjadi menyenangkan bagi kedua putrinya. Antara lain menggunakan shower puff dan, tentunya, sabun seperti Lifebuoy Clini-Shield 10 untuk menciptakan busa yang melimpah. Selain pengalaman mandi mengesankan, shower gel concentrate tersebut pun mengajarkan anak-anaknya untuk belajar hemat dalam menggunakan sabun.

Satu hal lain yang membuat Lifebuoy Clini-Shield 10 semakin menarik adalah kemasannya yang berbeda dari sabun lainnya. Sabun gel konsentrat ini dikemas dalam tube dengan ukuran 35 ml dan 100 ml. Dengan wadah tube tersebut, sabun tidak akan mudah berceceran dan membuatnya praktis dibawa ke mana-mana. Kemudian, produk terbaru Lifebuoy tersebut hadir dalam dua warna, yaitu merah untuk Complete dan hijau untuk Fresh.

Show the Product!

Dalam acara peluncuran tersebut, pihak Lifebuoy juga menyediakan booth produk dan berbagai permainan untuk anak-anak. Jadi, kita bisa langsung membeli Lifebuoy Clini-Shield 10 sekaligus mengajak anak bermain di sana. Sayangnya, saya enggak bisa bawa Kamila ke Citos. Dia pasti bakal betah main di booth mewarnai dan gelembung, salah dua permainan yang ada di area Lifebuoy Clini-Shield 10.

Booth mewarnai gambar

Booth mewarnai gambar

Main gelembuuung

Well, dan meskipun saya belum menikah, produk terbaru Lifebuoy ini lumayan banget buat menghemat pengeluaran. Lumayan, kan, uangnya bisa dipakai buat jajan atau beli buku. Hehe.

Thanks for having me, Lifebuoy. Tetap berinovasi untuk menjaga kesehatan keluarga Indonesia!

 

erl.

Jpeg

Hand for scale

[Writing] 5 Album Terbaik untuk Teman Menulis

Beberapa orang yang saya kenal punya kebiasaan mendengarkan musik saat mengerjakan sesuatu, salah satunya untuk menulis. Kebiasaan ini juga sudah sering saya lakukan sejak duduk di bangku SMP. Lagu-lagu tertentu bisa membangun atmosfer yang bagus untuk tulisan. Malah sebagian di antaranya saya masukan ke dalam cerita, supaya pembaca jadi ikut penasaran buat mendengarkan. Hehe.

Namun, sekitar satu atau dua tahun terakhir, kebiasaan itu tidak terlalu sering saya lakukan. Apalagi beberapa lagu malah membuat saya melamun atau pengin sing a long sampai lupa dengan tulisan. Lantas, saya lebih memilih untuk mendengarkan musik saat jalan-jalan atau sedang tidak menulis.

Eh, tapi masih ada beberapa lagu atau album yang saya dengarkan saat sedang menulis. Here’s the list!

The Everglow (2004) – Mae

Saya awalnya enggak suka album ini. Satu-satunya lagu yang saya dengar adalah Suspension. Setelah berbulan-bulan mendekam di hard disk, saya iseng mendengarkan The Everglow lagi dan, kok tiba-tiba jadi enak banget, ya? Lantas setelah itu, saya terus mendengarkan album ini, termasuk saat sedang menulis. Di bangku SMA, saya malah pernah kepikiran buat bikin satu novel dari lagu-lagu di The Everglow (dan belum kesampaian, pemirsa). Malah di bangku kuliah, saya punya ritual mendengarkan album ini minimal satu kali saat sedang menggodok naskah. Saya sampai percaya kalau kelancaran cerita sangat bergantung pada The Everglow. Sekarang, saya sudah agak jarang dengar The Everglow dan gara-gara menulis artikel ini, sepertinya saya harus kembali mendengarkannya saat menulis.

In Love and Death (2004) – The Used

Huh, isn’t too ‘chaos’ to be listened for writing? Buat saya jawabannya tidak. Genre tidak memberi pengaruh besar selama album yang bersangkutan bisa membuat saya nyaman menulis. Termasuk In Love and Death dari The Used. Saya sudah mendengarkan mereka sejak duduk di bangku SMP dan masih betah menikmatinya. The Used is not so-called emo band for me. Kalau kalian dengar lagu-lagunya, mereka bisa memasukkan unsur elektronik, orkestra, sampai jazz di tengah-tengah keriuhan alternative rock. Namun, dengan banyaknya sentuhan yang The Used berikan dalam In Love and Death, saya ternyata masih bisa fokus untuk menulis. Kadang ada satu-dua lagu yang akhirnya masuk ke dalam cerita.

From Under the Cork Tree (2005) – Fall Out Boy

Who doesn’t like Patrick Stump’s voice? Sejak kali pertama mendengarkan Sugar, We’re Going Down sepuluh tahun silam, saya tahu saya akan jadi penggemar mereka untuk waktu yang lama. Meski album setelah From Under the Cork Tree semakin bagus dan ‘tumbuh dewasa’, saya punya kesan paling mendalam dengan album ini. From Under the Cork Tree menemani masa-masa awal saya menulis dan menerjemahkan. Yes, saya mulai belajar menerjemahkan gara-gara suka lagu Dance, Dance, tapi sebel karena enggak tahu apa artinya. Dulu terjemahannya masih berantakan banget, soalnya saya pakai teknik word per word yang maha kacau itu. Sekarang, sih, saya sudah paham semua dan bikin betah menulis lama. Ah, you guys are so irresistible.

4

Eat, Sleep, Repeat (2006) – Copeland

Copeland adalah salah satu band kesukaan saya dan sejauh ini mereka selalu mengeluarkan album-album yang bagus. Dari lima yang mereka rilis, favorit saya masih jatuh pada Eat, Sleep, Repeat. Sebelas nomor yang ada di rilisan ini membentuk satu atmosfer yang… enak. Tempo lagu-lagunya tidak terlalu cepat atau lambat. Duh, saya sendiri bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Satu hal yang pasti, saat saya kali pertama mendengar album ini, saya tidak mau menekan tombol Pause atau Stop sama sekali. Saya malah lancar jaya menulis saat Eat, Sleep, Repeat masuk ke playlist. Semua album Copeland sebenanrnya cocok didengar saat saya sedang menulis, tetapi belum ada yang bisa mengalahkan kenikmatan dari Eat, Sleep, Repeat.

5

Homesick (2009) – A Day to Remember

There’s something about this band. A Day to Remember sebenarnya hampir sama dengan The Used. Mereka bisa memasukkan genre lain dalam lagunya, meski enggak sebanyak The Used. Monument adalah lagu pertama yang mengantarkan saya pada album-album A Day to Remember yang lain. For Those Who Have Heart bagus, sih, tapi bikin fokus menulis saya berantakan. Baru di Homesick, saya bisa mendengarkan satu album penuh sambil menulis. Sekilas, Homesick lebih soft (dan agak monoton) dibandingkan For Those Who Have Heart. Di sisi lain, album ini juga lebih emosional. Kalau enggak, mana mungkin saya sampai menulis cerita dari lagu Have Faith in Me dan If It Means a Lot to You. Saya juga punya satu karakter fiksi bernama Ares yang ceritanya suka banget sama A Day to Remember.

Hmm, enggak ada album lokal, nih? Ada, kok, tapi biasanya situasional (hahaha) dan hanya didengar per lagu. Salah satu album band lokal yang saya dengar adalah Friends (2004) dari Mocca. Saya biasanya mendengarkan Mocca kalau lagi menulis cerita remaja. Menurut saya, lagu-lagu mereka punya atmosfer yang sesuai untuk kisah-kisah di bangku SMP-SMA. Selain Mocca, saya juga suka dengar Efek Rumah Kaca, Polyester Embassy, dan AFFEN / Trou saat sedang menulis cerita.

Five isn’t enough, actually, tapi album-album di atas adalah lima terbaik yang masih saya dengar saat menulis sampai sekarang.

Mind to share yours?

 

erl.